Menu

Dark Mode
Dedie Rachim Jamu 150 Pasukan Kuning di Balai Kota Bogor Dihasut AI, Remaja Coba Bunuh Ratu Elizabeth II Raksasa AI Amerika Tuding Perusahaan China Lakukan Kecurangan Besar Bill Gates Pernah Bilang Investasi OpenAI Cuma Bakar Miliaran Dolar Bos Telegram Diselidiki Rusia, Dituduh Bantu Kegiatan Terorisme RI-AS Sepakat Transfer Data, Pakar Sorot Lembaga PDP Belum Terbentuk

Bogoh Ka Bogor

Dedie Rachim Hadiri Pembukaan MTQH ke-39 di Soreang

badge-check


					Dedie Rachim Hadiri Pembukaan MTQH ke-39 di Soreang Perbesar

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bertolak menuju Soreang, Kabupaten Bandung, untuk menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) ke-39 tingkat Provinsi Jawa Barat, Minggu (15/6/2025).

Dedie Rachim mengungkapkan bahwa pembinaan melalui Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ), pesantren, dan sekolah-sekolah terus dilakukan guna menemukan bakat-bakat terpendam dari para qori dan qoriah masa depan.

Menurutnya, bidang keagamaan menjadi hal yang sangat penting, karena pembangunan tidak hanya berupa pembangunan fisik atau infrastruktur, tetapi juga pembangunan manusia.

“Sehingga lahirlah manusia-manusia yang bisa menjadi teladan,” ujar Dedie Rachim.

Melihat prestasi yang pernah diraih para kafilah di tahun-tahun sebelumnya, Dedie Rachim optimistis tahun ini Kota Bogor kembali bisa membawa pulang gelar juara, karena kemampuan para kafilah sudah tidak diragukan lagi.

Selain itu, Dedie Rachim juga menyiapkan bonus khusus atau “kadeudeuh” bagi para kafilah jika Kota Bogor berhasil meraih juara.

“Kita doakan semoga kontingen Kota Bogor bisa juara,” tuturnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih kepada LPTQ yang telah sukses menyelenggarakan kegiatan ini.

Dedi Mulyadi menuturkan bahwa saat ini kita memasuki fase di mana Al-Qur’an diagungkan. Menurutnya, Al-Qur’an yang diagungkan adalah yang dibaca dengan estetika yang indah.

“Pembacaan itu pada akhirnya akan melahirkan pemaknaan. Karena nilai-nilai agama, jika tidak disampaikan secara estetika, maka kita tidak akan bisa memahami Sang Maha Kuasa,” ucapnya.

Kendati demikian, seiring dengan perkembangan zaman, muncul modernisasi dalam pembacaan Al-Qur’an dengan pendekatan metodologi mikro.

“Misalnya saja, metode cepat menghafal Al-Qur’an atau cepat membaca Al-Qur’an. Namun, prosesnya ditinggalkan,” ungkap Dedi Mulyadi.

Hal itu, menurutnya, memang baik secara syiar, tetapi di balik itu masjid-masjid justru sepi dari anak-anak yang mengaji. Mereka tidak mengenal dan tidak merasa dekat dengan masjid.

“Yang penting bisa baca Al-Qur’an, tapi kedekatan emosional dengan guru dan masjidnya hilang. Akhirnya, mereka jauh dari masjid,” tuturnya.

Ia menambahkan, dengan metodologi seperti itu, kenikmatan dalam menjalani proses akan hilang.

“Dulu belajar membaca Al-Qur’an bisa butuh waktu 2–3 tahun, bahkan ada yang sampai 5 tahun. Panjang sekali prosesnya,” ucap Dedi.

Dalam proses belajar itulah, kata dia, terjadi perjalanan spiritual, kedekatan antara guru dan murid serta masjid. Tidak lepas, kemudian guru mulai mengajarkan makna dari Al-Qur’an.

“Maka Al-Qur’an itu tersublimasi dalam pikiran dan relung bawah sadar murid. Karena lahir dari bawah sadar, maka bacaannya penuh makna dan lahirlah keikhlasan,” tuturnya. KMF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Dedie Rachim Jamu 150 Pasukan Kuning di Balai Kota Bogor

26 February 2026 - 14:49 WIB

Horee, Lahan Trase Pengganti Jalan Saleh Danasasmita Mulai Digarap

23 February 2026 - 15:02 WIB

Yantie Rachim Ajak Koperasi DWP Kota Bogor KANCANA Perangi Pinjol

21 February 2026 - 12:24 WIB

Catat, Selama Ramadan Ini yang Dilakukan Pemkot Bogor

18 February 2026 - 11:09 WIB

Tabligh Akbar, Momentum Pembinaan Akhlak dan Persaudaraan

17 February 2026 - 21:47 WIB

Trending on Bogoh Ka Bogor