Menu ✖

Dark Mode
Jadi Venue Porprov, Kelurahan Cilendek Timur Berbenah Sumpah Pemuda ke-98, Fajar Muhammad Nur Dorong Solusi 4 Persoalan Pemuda Alasan Trump Larang Pakai ‘AI’, Perintahkan Beralih ke Penggantinya Kabut Asap Karhutla Menipis Usai Hujan, Begini Cara Alam Membersihkan Udara Bocah Ajaib Kuliah Umur 9 Tahun, Calon Doktor Fisika di Usia 18 Tahun BlackBerry Banting Setir, Bangkit dari Masa Kelam

Feature

Melihat Potensi Pengrajin Turus dan Petani Tanaman Hias Selama Covid

badge-check


					ilustrasi tanaman hias Perbesar

ilustrasi tanaman hias

Upaya pemerintah menekan penularan virus covid 19 di masyarakat dengan menerapkan work form home (WFH) dan meliburkan sekolah, mulai berdampak. Hal itu terlihat dari menurunnya jumlah kasus covid 19, meskipun masih fluktuatif.

Bukan itu saja, selain berhasil menekan laju pergerakan jumlah kasus covid 19, aktivitas yang dihabiskan di rumah mulai menumbuhkan hoby baru. Salahsatunya menanam tanaman hias.

Tak sedikit warga yang menghabiskan waktu di rumahnya dengan belajar menanam dan merawat tanaman hias. Akibatnya harga tanaman hias melonjak naik, dikarenakan permintaan masyarakat mulai meningkat.

Tisna, salah seorang petani tanaman hias di Ciapus Kabupaten Bogor mengaku, omset penjualannya mengalami peningkatan selama pandemi covid 19 yakni sejak Maret 2020.


Baca juga: Survei: Aktivitas Warga Jabodetabek di Masa Pendemi, Begini


Bahkan Tisna mengaku sering kesulitan menjual tanaman hias, lantaran barangnya sulit didapat. “Covid membuat warga yang diam di rumah, ingin melakukan berbagai aktivtas. Menanam tanaman hiasa menjadi salahsatu yang diambil masyarakat untuk menyalurkan hobynya. Alhamdulillah pendapatan kami meningkat selama pandemi,” kata Tisna.

Meningkatnya pendapatan tanaman hias seperti Tisna, juga dirasakan oleh pengrajin turus, Asep. Asep yang sebelum ya bekerja sebagai buruh pabrik namun harus dirumahkan karena covid, mengaku selama covid dia menerima order membuat turus (tiang penyangga tanaman) sangat banyak.

“Saya sering kewalahan jika permintaan sangat tinggi seperti sekarang. ada berkahnya buat kami yang menganggur, bisa mendapatkan pemasukan dari menjual turus kepada masyarakat,” ujarnya.

ASep menjual turus dengan berbagai ukuran dan harga. Untuk ukuran terkecil, Asep menghargai sebesar 25 ribu. “Alhamdulillah saya dan teman-teman jadi ada kegiatan membuat turus. saya bisa ajak teman-teman yang menggangur atau terkena imbas covid, bisa membuat turus dan menjualnya kepada warga,” katanya.

penulis/editor herman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

BPJS Ketenagakerjaan Rawamangun Edukasi 60 Karyawan Jakarta Golf Club, Kenalkan Lima Program Perlindungan dan MLT Perumahan

26 October 2026 - 13:48 WIB

ICCN Sampaikan 10 Manifesto Suara Ekraf Indonesia di Konferensi Ekraf Dunia Melalui Pertunjukan Teatrikal

24 October 2026 - 13:17 WIB

KKP Targetkan 5000 Kampung Nelayan se-Indonesia

22 October 2026 - 18:59 WIB

Kena Proyek Tol Jogja-Solo Hingga 3.800 Meter, UPNV Jogja Ungkap Nasib Bangunan dan Alasan Patung Perjuangan dipindah

22 October 2026 - 18:56 WIB

Atasi Krisis Ekonomi : Sosiolog UGM Minta Pemda Beri Ruang ke Pemuda Bangun Desa

22 October 2026 - 18:34 WIB

Trending on Headline