Menu

Dark Mode
Viral Benda Bercahaya Lintasi Langit Jawa, Ini Jawaban BRIN Sahabat Bill Gates Tak Donasi Tengah Tahun ke Gates Foundation, Alasannya Valid Perusahaan Mark Zuckerberg Terancam Denda Terbesar Sepanjang Sejarah Dianggap Candu, Meta Diminta Ubah Desain Instagram dan Facebook Matahari Buatan China Catat Rekor Baru, Hasilkan Listrik Fusi di 2030 Semangat Bulan Muharram 1448 H di Tengah Tantangan Ekonomi Indonesia

Kabar Lifestyle

Viral Benda Bercahaya Lintasi Langit Jawa, Ini Jawaban BRIN

badge-check


					Kilatan cahaya di langit Yogyakarta terekam kamera dan dipastikan 
sebagai metor. (Foto: Dok Ig @merapiuncover) Perbesar

Kilatan cahaya di langit Yogyakarta terekam kamera dan dipastikan sebagai metor. (Foto: Dok Ig @merapiuncover)

Fenomena benda langit bercahaya yang melintas di langit Pulau Jawa pada Sabtu (11/7) malam menghebohkan media sosial. Warga dari berbagai daerah mengunggah video yang memperlihatkan objek terang melesat di langit, bahkan sebagian mengaku mendengar suara dentuman beberapa saat setelah benda tersebut melintas.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, memastikan bahwa fenomena tersebut merupakan meteor berukuran besar yang memasuki atmosfer Bumi.

Menurut Thomas, berdasarkan laporan dari berbagai wilayah, meteor pertama kali terdeteksi melintas di atas Laut Jawa sebelum terlihat dari Bekasi sekitar pukul 21.22 WIB. Saat itu, meteor masih berada pada ketinggian yang cukup tinggi sehingga tampak sebagai titik cahaya putih berukuran kecil.

“Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar sehingga tampak sebagai meteor,” ujar Thomas.

Ia menjelaskan, batuan antariksa mulai berpijar ketika memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer. Gesekan dengan udara menyebabkan permukaan batuan terkikis atau mengalami ablasi sehingga memancarkan cahaya yang sangat terang.

Berdasarkan analisis lintasannya, meteor bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Seiring memasuki lapisan atmosfer yang semakin rapat, cahaya meteor tampak semakin terang dan memperlihatkan variasi warna di berbagai daerah.

Di wilayah Cirebon dan Kuningan, misalnya, sejumlah warga melaporkan mendengar suara dentuman beberapa saat setelah meteor melintas. Menurut Thomas, suara tersebut merupakan gelombang kejut atau sonic boom akibat meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan suara.

“Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan,” jelasnya.

Sementara itu, warga Majalengka melihat meteor berwarna biru. Objek yang sama kemudian terlihat di kawasan Nagreg sekitar pukul 21.23 WIB dan Tasikmalaya sebagai cahaya terang yang sesekali menerangi awan.

Ketika melintas di wilayah Yogyakarta, meteor bahkan tampak memancarkan cahaya hijau terang. Thomas menjelaskan, warna tersebut berasal dari unsur magnesium maupun nikel yang terkandung dalam batuan antariksa.

“Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan. Warna hijau pada meteor umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar selama proses masuk ke atmosfer,” katanya.

Dari hasil analisis sementara, BRIN memperkirakan meteor terus bergerak ke arah tenggara hingga akhirnya kehilangan kecepatannya dan kemungkinan berakhir di Samudera Hindia, di selatan Jawa Timur atau Bali.

Thomas menegaskan, fenomena seperti ini sebenarnya sesuatu yang wajar dalam dunia astronomi. Setiap hari Bumi menerima jutaan batuan antariksa, namun sebagian besar berukuran sangat kecil sehingga habis terbakar di atmosfer dan hanya terlihat sebagai bintang jatuh.

Meteor berukuran besar seperti yang melintas di langit Jawa pada Sabtu malam memang jauh lebih jarang terjadi, sehingga dapat disaksikan secara luas oleh masyarakat.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada berbagai spekulasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, atmosfer Bumi merupakan pelindung alami yang sangat efektif sehingga sebagian besar meteoroid akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan.

“Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkas Thomas.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sahabat Bill Gates Tak Donasi Tengah Tahun ke Gates Foundation, Alasannya Valid

13 July 2026 - 15:32 WIB

Perusahaan Mark Zuckerberg Terancam Denda Terbesar Sepanjang Sejarah

13 July 2026 - 15:26 WIB

Matahari Buatan China Catat Rekor Baru, Hasilkan Listrik Fusi di 2030

13 July 2026 - 15:20 WIB

Di Mana Letak Kota Bizantium yang Hilang?

12 July 2026 - 19:15 WIB

OpenAI Respons Gugatan Apple yang Tuding Pencurian Rahasia Dagang

12 July 2026 - 19:11 WIB

Trending on Kabar Lifestyle