Menu

Dark Mode
Pabrik Terafab Milik Elon Musk Akan Jadi Gedung Terbesar Dunia Rayakan HUT RI ke-81, Mahasiswa Binus Gelar Upacara Bendera Virtual di Roblox Gempa Dahsyat NTT Bikin 794 BTS Terganggu, Menkomdigi Ungkap Kondisi Terbaru Taiwan Diserang Hacker Pakai AI, Puluhan Akun Pemerintah Dibobol Elon Musk: Era AI SpaceX Bisa Hasilkan Rp8.911 Triliun Tahun 2028 200 BTS Alami Gangguan Akibat Gempa NTT, Pemulihan Dikebut

Kabar Lifestyle

Viral Benda Bercahaya Lintasi Langit Jawa, Ini Jawaban BRIN

badge-check


					Kilatan cahaya di langit Yogyakarta terekam kamera dan dipastikan 
sebagai metor. (Foto: Dok Ig @merapiuncover) Perbesar

Kilatan cahaya di langit Yogyakarta terekam kamera dan dipastikan sebagai metor. (Foto: Dok Ig @merapiuncover)

Fenomena benda langit bercahaya yang melintas di langit Pulau Jawa pada Sabtu (11/7) malam menghebohkan media sosial. Warga dari berbagai daerah mengunggah video yang memperlihatkan objek terang melesat di langit, bahkan sebagian mengaku mendengar suara dentuman beberapa saat setelah benda tersebut melintas.

Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, memastikan bahwa fenomena tersebut merupakan meteor berukuran besar yang memasuki atmosfer Bumi.

Menurut Thomas, berdasarkan laporan dari berbagai wilayah, meteor pertama kali terdeteksi melintas di atas Laut Jawa sebelum terlihat dari Bekasi sekitar pukul 21.22 WIB. Saat itu, meteor masih berada pada ketinggian yang cukup tinggi sehingga tampak sebagai titik cahaya putih berukuran kecil.

“Meteor berasal dari batuan antariksa yang mengorbit Matahari. Ketika lintasannya berpapasan dengan orbit Bumi, batuan tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan sangat tinggi. Gesekan dengan atmosfer menyebabkan permukaannya memanas hingga berpijar sehingga tampak sebagai meteor,” ujar Thomas.

Ia menjelaskan, batuan antariksa mulai berpijar ketika memasuki atmosfer pada ketinggian sekitar 120 kilometer. Gesekan dengan udara menyebabkan permukaan batuan terkikis atau mengalami ablasi sehingga memancarkan cahaya yang sangat terang.

Berdasarkan analisis lintasannya, meteor bergerak ke arah tenggara melintasi sebagian wilayah Pulau Jawa. Seiring memasuki lapisan atmosfer yang semakin rapat, cahaya meteor tampak semakin terang dan memperlihatkan variasi warna di berbagai daerah.

Di wilayah Cirebon dan Kuningan, misalnya, sejumlah warga melaporkan mendengar suara dentuman beberapa saat setelah meteor melintas. Menurut Thomas, suara tersebut merupakan gelombang kejut atau sonic boom akibat meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan suara.

“Suara dentuman terjadi karena meteor bergerak jauh lebih cepat daripada kecepatan rambat suara. Gelombang kejut itu baru terdengar beberapa saat setelah meteor melintas karena suara memerlukan waktu untuk mencapai permukaan,” jelasnya.

Sementara itu, warga Majalengka melihat meteor berwarna biru. Objek yang sama kemudian terlihat di kawasan Nagreg sekitar pukul 21.23 WIB dan Tasikmalaya sebagai cahaya terang yang sesekali menerangi awan.

Ketika melintas di wilayah Yogyakarta, meteor bahkan tampak memancarkan cahaya hijau terang. Thomas menjelaskan, warna tersebut berasal dari unsur magnesium maupun nikel yang terkandung dalam batuan antariksa.

“Setiap unsur kimia memiliki spektrum cahaya yang berbeda ketika dipanaskan. Warna hijau pada meteor umumnya berkaitan dengan kandungan magnesium atau nikel yang terbakar selama proses masuk ke atmosfer,” katanya.

Dari hasil analisis sementara, BRIN memperkirakan meteor terus bergerak ke arah tenggara hingga akhirnya kehilangan kecepatannya dan kemungkinan berakhir di Samudera Hindia, di selatan Jawa Timur atau Bali.

Thomas menegaskan, fenomena seperti ini sebenarnya sesuatu yang wajar dalam dunia astronomi. Setiap hari Bumi menerima jutaan batuan antariksa, namun sebagian besar berukuran sangat kecil sehingga habis terbakar di atmosfer dan hanya terlihat sebagai bintang jatuh.

Meteor berukuran besar seperti yang melintas di langit Jawa pada Sabtu malam memang jauh lebih jarang terjadi, sehingga dapat disaksikan secara luas oleh masyarakat.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada berbagai spekulasi yang beredar di media sosial. Menurutnya, atmosfer Bumi merupakan pelindung alami yang sangat efektif sehingga sebagian besar meteoroid akan habis terbakar sebelum mencapai permukaan.

“Fenomena ini merupakan peristiwa alam yang menarik sekaligus menjadi pengingat bahwa Bumi terus berinteraksi dengan lingkungan antariksa. Selama meteor habis terbakar di atmosfer atau jatuh di wilayah yang tidak berpenghuni, masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkas Thomas.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pabrik Terafab Milik Elon Musk Akan Jadi Gedung Terbesar Dunia

17 August 2026 - 22:05 WIB

Rayakan HUT RI ke-81, Mahasiswa Binus Gelar Upacara Bendera Virtual di Roblox

17 August 2026 - 22:03 WIB

Gempa Dahsyat NTT Bikin 794 BTS Terganggu, Menkomdigi Ungkap Kondisi Terbaru

17 August 2026 - 21:59 WIB

Taiwan Diserang Hacker Pakai AI, Puluhan Akun Pemerintah Dibobol

17 August 2026 - 21:55 WIB

Elon Musk: Era AI SpaceX Bisa Hasilkan Rp8.911 Triliun Tahun 2028

15 August 2026 - 17:10 WIB

Trending on Kabar Lifestyle