Kota Bogor-Rangkaian Hari Tatar Sunda ditutup dengan drama kolosal kesundaan bertajuk Pajajaran Gugat yang dilangsungkan di Halaman Gedung Sate, Kota Bandung, Minggu (17/5/2026).
Dari Kota Bogor, turut hadir Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Denny Mulyadi, didampingi beberapa camat, lurah, dan perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD).

Selama lebih dari empat jam, teatrikal kesundaan yang disutradarai Sudjiwo Tejo tersebut disambut antusias para tamu undangan.
Pertunjukan itu mengangkat kisah “hirup kumbuh” masa Pajajaran dengan balutan seni teatrikal, musik, dan budaya Sunda yang kuat.
Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menjelaskan bahwa melalui drama kolosal tersebut tersirat pesan penting bagi masyarakat Sunda masa kini.
Tentang bagaimana menyambut hadirnya “Pajajaran Anyar” dengan cara pandang, semangat, dan peradaban baru yang tetap berpijak pada nilai-nilai budaya serta harmoni dengan alam.
“Menggambarkan hubungan harmonis antara jagat besar dan jagat alit, kesatuan manusia dengan alam semesta. Dalam pandangan Sunda, manusia tidak diajarkan untuk hidup berlebihan maupun eksploitatif terhadap lingkungan,” ujarnya.
Dedi Mulyadi menambahkan, keberpihakan pada nilai kesundaan bukan hanya soal pagelaran kesenian. Menurutnya, pagelaran merupakan simbol, namun yang paling utama adalah menghadirkan kembali seluruh energi masa lalu untuk masa depan.
Dari sisi pemerintahan, Dedi Mulyadi juga menegaskan bahwa setiap kebijakan tidak lepas dari sejarah masa lampau, sehingga dapat dijadikan pelajaran untuk kemajuan di masa depan.
“Sunda bukan watak etnis atau geografis. Sunda merupakan watak ideologis, filosofis, historis, dan sosiologis,” pungkasnya. kmf













