Jogjakarta-Manajemen PSIM Jogja resmi mengakhiri kerja sama dengan sang pelatih kepala (head coach), Jean Paul. Keputusan tegas ini diambil usai manajemen melakukan evaluasi mendalam dan menggelar silaturahmi bersama Wakil Wali Kota Yogyakarta serta perwakilan suporter Brajamusti dan The Maiden.
Direktur Utama PSIM Jogja, Yuliana Tasno atau yang akrab disapa Cik Liana, mengatakan langkah pemutusan kerja sama ini diambil demi kebaikan serta keberlangsungan tim Laskar Mataram ke depan.

“Oleh sebab itu, saya dan PSIM memutuskan untuk mengakhiri kerja sama dengan coach Jean Paul,” ujar Cik Liana dalam konferensi pers di Balai Kota Yogyakarta, pada Sabtu (17/10/2026).
Meski menghentikan kerja sama dengan pelatih kepala, Cik Liana memastikan jajaran staf kepelatihan lainnya tidak mengalami perombakan mendasar.
“Terkait dengan supporting team, sementara ini untuk pelatih fisik dan pelatih kiper kita tidak melakukan tindakan tertentu. Jadi, cuma memang khusus kepada pelatih kepala saja yang kita akhiri kerjasamanya,” tegasnya.
Untuk mengisi kekosongan kemudi tim dalam beberapa laga mendatang, manajemen PSIM telah menunjuk caretaker atau pelatih sementara.
“Kami sudah menunjuk Caretaker untuk sementara ini menggantikan posisi head coach di dalam beberapa pertandingan ke depan. Kita tunjuk Coach Guntur bersama analis,” jelas Cik Liana.
Manajemen juga menargetkan perburuan pelatih kepala baru dapat tuntas secepatnya sesuai batas regulasi yang berlaku.
“Karena secara regulasi itu kan sebulan ya. Jadi kita harus bekerja keras untuk mencari pengganti barunya di dalam jangka waktu secepatnya. Harus secepatnyalah kita bergerak,” kata Cik Liana.
Dalam kesempatan tersebut, Cik Liana juga menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pendukung setia Laskar Mataram atas performa tim yang belum maksimal.
“Saya mengucapkan permohonan maaf saya sebesar-besarnya atas performa yang belum bisa membahagiakan kita semua. Namun perlu diketahui bahwasanya kinerja baik, energi, dan jiwa saya tidak pernah letih untuk membawa tim kebanggaan kita ini bertahan di Liga 1,” tuturnya.
Pada kesempatan itu, ia juga mengapresiasi kehadiran dan dukungan moral dari Pemerintah Kota Yogyakarta yang ikut mendampingi manajemen di tengah gejolak dan kekecewaan para suporter.
“Bapak sebagai leader kota ini, saya tidak tahu harus berterima kasihnya bagaimana, karena dukungan moral dari Bapak kepada tim PSIM Jogja itu sangat berarti dan berharga sekali untuk kami,” terangnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, menyampaikan harapannya agar dinamika yang dialami PSIM dapat disikapi dengan bijak dan mendapat dukungan positif dari para suporter.
“Pemerintah kota tentu sangat berharap PSIM ke depan bisa maju, tetapi juga kami butuh saat ini adalah bentuk dukungan support dari para suporter yang positif. Jadi kami juga berharap suporter juga mendukung dengan doa dan dukungannya kepada manajemen PSIM supaya kita nanti bisa lebih baik lagi,” ujar Wawan.
Sebelumnya, PSIM Yogyakarta kembali menerima kenyataan pahit usai ditundukkan PSM Makassar dengan skor 1-2 pada laga pekan kesembilan di Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul, Jumat 16 Oktober 2026. Kekalahan ini makin memperpanjang tren negatif Laskar Mataram yang belum memetik satu pun kemenangan sejak awal musim.
PSIM hanya mampu memperkecil kedudukan lewat titik putih melalui Ze Valente. Meski PSM harus bermain dengan 10 orang menjelang akhir laga akibat kartu merah, PSIM gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain hingga peluit panjang dibunyikan.
Pelatih Kepala PSIM Yogyakarta, Jean-Paul van Gastel, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Ia menilai timnya dinaungi ketidakberuntungan sekaligus mempertanyakan beberapa keputusan krusial dari perangkat pertandingan.
Ia juga menyoroti proses gol pertama PSM yang dinilainya diawali dari bola yang sudah keluar garis lapangan saat throw-in.
“Sepertinya kami sedikit kurang beruntung. Kami memasukkan lebih banyak penyerang dan meminta bek sayap bermain lebih ofensif untuk memenangkan pertandingan. Namun, di babak kedua kami justru mengalami banyak kesialan. Pada gol pertama, Raca melakukan lemparan ke dalam, tetapi bola sudah berada di luar lapangan. Meski begitu, situasi tersebut berujung gol. Saya mempertanyakan apakah Vargas seharusnya menilai bola itu sudah keluar,” ujar Van Gastel kepada media, pada Jumat 16 Oktober 2026.
Selain itu, ia juga heran dengan durasi injury time yang berikan wasit. Meski begitu, ia mengakui PSIM sebenarnya mendapat beberapa peluang emas menjelang laga usai, tetapi penyelesaian akhir yang buruk membuat mereka gagal menyelamatkan poin di kandang.
“Ada penalti, dan jeda antara pelanggaran hingga pertandingan dilanjutkan kembali memakan waktu 11 menit karena VAR. Menurut saya itu cukup lama. Karena itu, saya terkejut tambahan waktunya hanya tujuh menit,” tegas Van Gastel. k-ollf














