Menu ✖

Dark Mode
Pelatih PSIM Jogja Jean Paul Van Gastel Dipecat Pegawai Indomaret-Alfamart Terancam Punah, Ada Penggantinya di China Startup Dulu Harga Rp220 Triliun Dijual Cuma Laku Rp23 Triliun Islandia Mau Ngebor Gunung Api untuk Manfaatkan Panas Bumi Deforestasi Hutan Hujan Amazon Cetak Rekor Terendah dalam Sejarah BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi 4 Meter dan Banjir Rob di RI

Kabar Lifestyle

Pegawai Indomaret-Alfamart Terancam Punah, Ada Penggantinya di China

badge-check


					Sebuah toko robot otonom sepenuhnya di tepi laut Hung Hom. (Foto: Dok. 
Galbot)
Perbesar

Sebuah toko robot otonom sepenuhnya di tepi laut Hung Hom. (Foto: Dok. Galbot)

Perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan robotika mulai membawa ancaman nyata bagi industri ritel global. Kehadiran toko otomatis berbasis robot memicu ancaman baru bagi tenaga kerja manusia di seluruh dunia, termasuk profesi kasir hingga karyawan minimarket modern seperti Indomaret dan AlfamartĀ di Indonesia.

Teknologi ini memungkinkan operasional toko berjalan tanpa henti selama 24 jam penuh tanpa mengenal lelah, tanpa jam istirahat, hingga tanpa hak cuti. Berbeda dengan pekerja manusia, sistem robotik dirancang untuk mengelola seluruh aktivitas operasional toko secara otomatis tanpa menuntut gaji bulanan.

Meski adopsinya belum masif di dalam negeri, tren minimarket tanpa manusia mulai marak di sejumlah kawasan Asia. Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa industri ritel sedang memasuki babak baru yang berpotensi memangkas kebutuhan tenaga kerja secara signifikan di masa depan.

Debut Ro-bodega di Hong Kong

Setelah sukses mencuri perhatian di China daratan, konsep minimarket yang sepenuhnya mengandalkan robotik kini resmi merambah Hong Kong. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah Ro-bodega, yang berlokasi di kawasan tepi laut Hung Hom.

Kehadiran Ro-bodega langsung menjadi sorotan pelaku bisnis ritel global. Model bisnis serba otomatis ini dinilai menjadi potret masa depan bagaimana teknologi mengubah total tata cara operasional toko, mulai dari manajemen stok hingga layanan pelanggan.

Menariknya, toko ini beroperasi penuh tanpa menyerap satu pun tenaga kerja manusia. Seluruh aktivitas operasional-seperti menata ulang barang (restock) di rak, mengambilkan pesanan pembeli, hingga memproses transaksi pembayaran-ditangani secara mandiri oleh satu robot humanoid bernama Xiao Gai, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post.

Dikembangkan oleh raksasa AI dan robotika asal Beijing, Galbot, Xiao Gai memiliki postur tinggi 1,67 meter dengan jangkauan lengan mencapai 1,8 meter. Tak hanya tangguh secara fisik, robot pintar ini juga dibekali fitur komunikasi interaktif dan ramah dalam berbagai bahasa.

Barang-barang yang dijajakan pun mirip dengan minimarket pada umumnya, mulai dari camilan, minuman dingin, hingga obat-obatan bebas-persis seperti minimarket yang biasa ditemui di setiap sudut kota Indonesia.

Proyek yang disokong oleh Hong Kong Investment Corporation ini menjadi bukti sahih bahwa integrasi AI dan robotika makin nyata di kehidupan sehari-hari. Galbot bahkan memproyeksikan daya tarik toko unik ini mampu mendongkrak trafik pengunjung di kawasan tersebut hingga 40%.

Tak berhenti di Hong Kong dan Beijing, Galbot mematok target ambisius untuk meluncurkan 100 toko kapsul berbasis robot serupa di 10 kota besar lainnya.

Sinyal Bahaya bagi Pekerja Ritel Domestik

Maraknya tren ini jelas menjadi alarm keras bagi industri ritel tanah air. Jika efisiensi teknologi ini makin teruji dan biaya adopsinya makin murah, bukan tidak mungkin konsep minimarket tanpa manusia akan segera menginvasi pasar Indonesia. Konsekuensinya, posisi ribuan karyawan toko yang selama ini diisi oleh tenaga manusia berpotensi tergeser oleh mesin.

Langkah efisiensi berbasis robotik ini juga sejalan dengan tren global di sektor lain. Di industri penerbangan misalnya, Japan Airlines baru-baru ini mulai menguji coba robot penanganan bagasi di Bandara Haneda.

Kendati demikian, otomatisasi total bukan tanpa celah. Sederet insiden kegagalan robot AI sempat memicu sorotan publik. Awal tahun ini, sebuah video viral memperlihatkan robot pelayan restoran yang ‘mengamuk’ dan melempar peralatan makan.

Di tempat lain, sebuah agen AI yang ditugaskan mengelola kedai kopi di Stockholm justru menguras habis anggaran operasional dalam kurun waktu kurang dari sebulan akibat blunder memesan 3.000 pasang sarung tangan karet yang tak dibutuhkan.

Meski masih menyisakan catatan teknis, laju gelombang otomatisasi sulit dibendung. Bagi para pekerja di sektor ritel, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat efisiensi teknologi kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan realitas yang kian mendekat.

Sumber: cnbcindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Startup Dulu Harga Rp220 Triliun Dijual Cuma Laku Rp23 Triliun

17 October 2026 - 19:20 WIB

Islandia Mau Ngebor Gunung Api untuk Manfaatkan Panas Bumi

17 October 2026 - 19:16 WIB

Deforestasi Hutan Hujan Amazon Cetak Rekor Terendah dalam Sejarah

17 October 2026 - 19:14 WIB

BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi 4 Meter dan Banjir Rob di RI

17 October 2026 - 19:11 WIB

Heboh Pengunjung Ngaku Kena Tarif Rp129 Ribu di Wisdom Park, Ini Klarifikasi Jubir UGM

17 October 2026 - 10:37 WIB

Trending on Kabar Lifestyle