Menu

Dark Mode
Dukung Karya Anak Bangsa, MKBB Gelar Nobar Film ‘Semua Akan Baik-Baik Saja’ di Dua Bioskop Bogor Terpisah dari Orang Tua, Bocah 11 Tahun Tewas Jatuh dari Puncak Gunung Ramalan Mengerikan Ledakan Populasi Tikus Pembawa Virus Mematikan Studi Temukan Spons Dapur Bekas Mengandung Bakteri Setara Feses Gila, Gajah Terbesar di Dunia Ini Lebih Berat dan Besar dari T Rex! Ramai soal Tren ‘Date Cancelled’ di Media Sosial, Apa Itu?

Kabar Bogor

Pasar Kebon Kembang Diet Kantong Plastik

badge-check


					diet-plastik Perbesar

diet-plastik

Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP), Tiza Mafira menyampaikan apresiasi terhadap program Pasar Bebas Plastik yang baru saja dilaunching Wali Kota Bogor, Bima Arya di Blok F, Pasar Kebon Kembang, Senin (13/12/2021).

Menurut dia dalam video rekaman, untuk membatasi sampah plastik sekali pakai tidak hanya diterapkan di ritel atau toko modern saja, namun harus mengambil langkah konkret untuk menerapkannya di pasar tradisional.

Kenapa pasar tradisional dianggap penting, menurut Tiza Mafira, hal itu tidak terlepas dari kenyataan yang ada. Tercatat, ada 70 persen masyarakat di Indonesia masih berbelanja di pasar tradisional. Pasalnya, dari segi produk lebih segar, lebih lokal dan lebih beragam. Bahkan, semakin populer, tidak tergerus dari modernitas tapi terdampak modernitas yang mengerikan.

Dia memaparkan, berdasarkan hasil penerapan bebas kantong plastik pertama di salah satu pasar di Jakarta dalam kurun waktu enam bulan, jumlah kios yang menggunakan plastik berkurang sebesar 57 persen. Sementara jumlah konsumen yang membawa kantong belanja sendiri naik sebesar 150 persen.

Hasil riset lainnya, setiap bulan Pasar Kebon Kembang menggunakan kresek sebanyak 80 ribu lembar dan Pasar Baru Bogor sebanyak 600 ribu lembar kresek. Program Diet Kantong Plastik bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk memulai mengurangi plastik sekali pakai dilakukan di dua pasar, yakni di Pasar Kebon Kembang dan Pasar Baru Bogor.

“Di Jakarta ada pedagang yang sampai memberikan testimoni, jika biasanya dia mengeluarkan uang sebesar Rp 500 – 600 ribu per bulan untuk memberikan kantong kresek bagi para konsumennya. Sekarang malah lebih hemat Rp 500-600 ribu rupiah per bulan, karena konsumennya sudah membawa tas belanja dari rumah. Semangat inilah yang juga bisa dilakukan di Kota Bogor,” jelasnya.

Tiza juga menegaskan ini bukanlah program jangka pendek, melainkan memerlukan waktu yang lama dan kolaborasi banyak pihak dengan tujuan memiliki hasil yang dampaknya bisa dirasakan hingga bertahun-tahun ke depan.

Dengan kebijakan tersebut dirinya juga berharap agar pasar tradisional di Kota Bogor menjadi lebih berdaya, lebih berkarakter dan bebas dari plastik sekali pakai.

Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor, mencatat setiap hari sampah di Kota Bogor terdiri dari 65 persen sampah organik dengan 13 persen adalah sampah plastik.

Setelah penerapan Perwali Nomor 61 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik, sampah plastik dapat direduksi sampai dengan 600 kilogram per hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Urus KTP Makin Mudah, Sempur Gelar Program LSM

12 May 2026 - 21:48 WIB

Lepas Warga Wisata Religi, Jenal Mutaqin Minta Jaga Keselamatan dan Doakan Kebaikan untuk Kota Bogor

10 May 2026 - 10:14 WIB

Jenal Mutaqin Ingatkan Pentingnya Peran Pemuda dalam Kaderisasi HMI

10 May 2026 - 10:10 WIB

Milangkala Tatar Sunda Bawa Dampak Positif bagi Ekonomi Kota Bogor

9 May 2026 - 16:07 WIB

Sambut HJB, Botani Square, Hotel Santika dan IICC Gelar Kegiatan Sosial

9 May 2026 - 15:04 WIB

Trending on Kabar Bogor