Menu

Dark Mode
Nvidia Suntik Firmus, Pabrik AI 170.000 GPU di Batam Dikebut Mumi Cile Buktikan Bangsa Eropa Bawa Cacar Mematikan ke Amerika Model AI Meta Lepas Kendali dan Retas Perusahaan Lain Ilmuwan Makin Lirik Hiu untuk Pertajam Prediksi Badai Pakar Wanti-wanti Insiden AI Lepas Kendali Bakal Makin Sering Fakta-fakta dan Spesifikasi Lampung-1, Satelit AI Pertama Indonesia

Kabar Bogor

Hari Jadi Bogor, Ruang Riung Reang Karinding #2 Hidupkan Tradisi Sunda di Alam Terbuka 

badge-check


					Ruang Riung Reang Karinding #2. (foto: ist) Perbesar

Ruang Riung Reang Karinding #2. (foto: ist)

Bogor – Menyambut Hari Jadi Bogor (HJB), suasana sejuk lereng barat Gunung Gede Pangrango menjadi saksi bertemunya ratusan pegiat budaya dalam helaran Ruang Riung Reang Karinding #2. Festival budaya berbasis alam ini diselenggarakan pada 30–31 Mei 2026 di Lingkung Gunung Camp Pancawati, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor.

Kolaborasi apik antara Komunitas Seni Berbagi Indonesia (SeBa), Saka Jiwa Khatulistiwa, Layung Jagat, dan Bentala House Project ini mengusung konsep outdoor camping. Acara ini sukses menyulap ruang alam terbuka menjadi panggung refleksi sekaligus eksplorasi kreatif warisan leluhur Sunda.

Sebagai kelanjutan dari kesuksesan gelaran pertama di Ciampea pada 2023 lalu, Ruang Riung Reang Karinding #2 tidak sekadar menjadi tempat berkumpul. Acara ini dirancang sebagai ruang budaya inklusif yang memadukan silaturahmi, eksplorasi bunyi, perenungan filosofis, hingga penguatan identitas lokal lewat media utama alat musik tradisional karinding.

Menurut Ketua Pelaksana Kegiatan, Mang Bojay,  ruang kolaborasi lintas generasi sangat krusial di era digital saat ini.

“Ruang Riung Reang Karinding kami hadirkan sebagai ruang temu antar komunitas, ruang belajar lintas generasi, serta ruang bersama untuk menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman,” ujar Mang Bojay.

Senada dengan hal tersebut, Jurasep menilai kekuatan acara ini terletak pada konsepnya yang multidimensi. Menurutnya, kegiatan ini sangat penting karena mampu mempertemukan unsur seni, alam, pendidikan, dan nilai kebersamaan dalam satu peristiwa budaya.

Kehangatan atmosfer Pancawati juga dirasakan oleh Ki Ahung, salah satu partisipan yang telah mengikuti gelaran ini sejak edisi pertama. “Kami merasakan suasana yang hangat, akrab, dan penuh inspirasi. Bukan hanya acara seni, tetapi juga tempat bertumbuhnya jejaring antar komunitas,” ungkapnya.

Festival dua hari satu malam ini mengintegrasikan perlindungan budaya dengan aksi nyata pelestarian lingkungan. Ada 7 agenda utama yang diusung, yaitu Silaturahmi Budaya, Pengembangan Eksplorasi Bunyi dan Rasa, Pelestarian Tradisi, Pengembangan Seni Tradisi dan Inovasi Kreatif, Pameran UMKM Budaya, Wisata Edukasi Budaya bagi Pelajar, Penanaman Pohon Bambu dan Aren.

Selain agenda pokok, para pengunjung disuguhi rangkaian pertunjukan interaktif, mulai dari permainan karinding, angklung, pentas Pencak Silat Tradisi Cimande, musikalisasi puisi, tari kontemporer, teater, hingga performance art, diskusi budaya, dan jam session lintas komunitas.

Kemeriahan acara ini semakin memuncak dengan kehadiran sederet musisi dan komunitas karinding papan atas sebagai bintang tamu, di antaranya Karinding Attack (Bandung), Karasukan (Sukabumi) dan Sundapa (Tasikmalaya).

Panggung budaya juga diwarnai penampilan dari talenta lokal seperti Tulang Bajing, Kebon Awi (SMAN 1 Ciomas), SMAN 7 Kota Bogor, Bilik Jasinga, Bogor Wanita Berkebaya (BWB), Gemadah, Sams Souci Disabilitas Art Center Bogor, Baraya Oces, Saka Jiwa Katulistiwa, dan Layung Jagat.

Penyelenggaraan berskala besar ini berhasil terlaksana berkat sinergi dari berbagai stakeholder. Tercatat Kementerian Kebudayaan RI dan Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor turun tangan memberikan dukungan formal. Selain itu, sokongan juga datang dari komunitas lokal seperti Ikatan Dukun Nusantara, Lingkung Gunung Camp, Majelis Sebatin Bogor (Kang Fuad Rivai), Kopi Petualang, Kopi Kacamata Bah Sipit, HMII Bogor, serta tokoh masyarakat seperti Eko Budi Luhur, Ernain, Arman, dan Saung Jurasep.

Melalui sinergi yang inklusif ini, panitia berharap ekosistem budaya di wilayah Bogor Raya dapat terus tumbuh sehat dan berkelanjutan, sekaligus menginspirasi generasi muda untuk menjadikan seni tradisi sebagai modal kreatif di masa depan. Rheynaldhi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Bupati Bogor Ajak Jadikan Malasari Titik Awal Kebangkitan Bogor, PPLI Perkuat Komitmen Lestarikan Alam dan Warisan Sejarah

28 July 2026 - 14:02 WIB

Dedie Rachim Apresiasi Wakaf Warga Sukadamai untuk Kepentingan Masyarakat

27 July 2026 - 09:46 WIB

TIngkatkan Efisiensi dan Efektivitas, Kendaraan Operasional Disperumkim Dipasangi GPS dan Fuel Sensor

22 July 2026 - 10:20 WIB

Pemkot Bogor Gencarkan Razia Angkot Tua

21 July 2026 - 22:12 WIB

Dedie-Jenal Perkuat Pelestarian Sejarah, Seni, dan Budaya melalui Berbagai Terobosan

20 July 2026 - 22:08 WIB

Trending on Kabar Bogor