Menu

Dark Mode
Donald Trump Malah Mau Bikin Pasukan AI Padahal Ilmuwan Minta Setop SpaceX Target Starship Meluncur ke Orbit 28 September Donald Trump Mau Ubah Istilah AI, Siapkan Tiga Usulan Mahasiswa Undip Ciptakan ‘Kecoak Hybrid’, Bisa Cari Korban Bencana Alasan Kenapa Handphone yang Tethering Nyala Jangan Disimpan dalam Tas Data Center AI Meta Diduga Bocorkan Bakteri Mematikan ke Air untuk Irigasi Kota

Kabar Lifestyle

Fakta-fakta dan Spesifikasi Lampung-1, Satelit AI Pertama Indonesia

badge-check


					Satelit Lampung-1, satelit AI hiperspektral pertama Indonesia, diluncurkan 
untuk memantau pertanian dan risiko bencana. Kerja sama dengan Provinsi 
Shandong. (Foto: ANTARA/Xinhua/Song Xiongye)
Perbesar

Satelit Lampung-1, satelit AI hiperspektral pertama Indonesia, diluncurkan untuk memantau pertanian dan risiko bencana. Kerja sama dengan Provinsi Shandong. (Foto: ANTARA/Xinhua/Song Xiongye)

Satelit Lampung-1 mencatat sejarah sebagai satelit berbasis kecerdasan buatan (AI) hiperspektral pertama dari Indonesia. Satelit ini resmi meluncur dari perairan Haiyang, Provinsi Shandong, China, pada Rabu (5/8).

Satelit ini diluncurkan menggunakan roket Smart Dragon-3 dalam misi OSE Hyperspectral Twin Satellites.

Peluncuran itu disaksikan langsung oleh Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal bersama delegasi Pemerintah Provinsi Lampung, Pemerintah Provinsi Shandong, STAR.VISION Aerospace, serta sejumlah mitra internasional.

Melansir berbagai sumber, berikut adalah fakta-fakta mengenai Satelit Lampung-1:

Proyek kerja sama
Satelit Lampung-1 tidak berdiri sendiri. Satelit ini merupakan proyek kerja sama antara Pemprov Lampung dengan Provinsi Shandong.

Menurut Rahmat, penguatan kolaborasi dan kerja sama antar provinsi di negara berbeda tersebut mencakup pertanian modern, teknologi, investasi, perdagangan, infrastruktur, pengembangan sumber daya manusia, dan salah satunya melalui pengembangan satelit Lampung-1.

Melansir Antara, kerja sama itu tidak berhenti pada akses citra satelit, tetapi diarahkan untuk membangun ekosistem pemanfaatan teknologi hiperspektral AI melalui transfer pengetahuan, riset bersama, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan aplikasi yang sesuai dengan kebutuhan Lampung.

Peran BRIN
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ikut berperan dalam proyek ini. Dalam proyek ini, BRIN akan memastikan pemanfaatan data, agar berjalan sesuai standar ilmiah, tata kelola data, dan regulasi penginderaan jauh yang berlaku di Indonesia.

Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan salah satu aspek yang didiskusikan dan menjadi fokus BRIN adalah ihwal keamanan data.

Ia menekankan bahwa BRIN nantinya bakal memiliki otoritas terkait penyimpanan data. Arif memastikan keamanan data pengguna akan tetap aman ke depannya.

Fungsi dan tujuan
Laporan Xinhua mengungkap bahwa Satelit Lampung-1 dirancang untuk memantau pertanian hingga risiko bencana di wilayah Indonesia. Pemanfaatan satelit ini rencananya akan dipusatkan di Lampung.

“Pertanian menjadi salah satu sektor prioritas, khususnya untuk mendukung pemetaan lahan, pemantauan kondisi tanaman, identifikasi kekurangan air, deteksi dini gangguan tanaman, dan perkiraan potensi produksi. Salah satu komoditas yang telah masuk dalam eksplorasi awal adalah singkong,” kata Rahmat.

Data Lampung-1 juga berpotensi dikembangkan untuk pengelolaan lingkungan, pemantauan pesisir dan kelautan, mitigasi banjir dan kekeringan, pemantauan perubahan tutupan lahan, serta perencanaan pembangunan yang lebih presisi.

Spesifikasi Lampung-1
Lampung-1 dikembangkan sebagai satelit hiperspektral yang dilengkapi dengan kemampuan kecerdasan artifisial untuk membantu pemrosesan awal data di orbit. Pendekatan ini membuka peluang agar data yang dikirim ke bumi dapat lebih terpilah, dan lebih cepat diterjemahkan menjadi informasi yang dibutuhkan pengguna.

Menurut STAR.VISION, Lampung-1 memiliki bobot 300 kg dan membawa 22 saluran spektral yang sudah dikalibrasi secara tepat, mencakup rentang panjang gelombang 400-1.650 nanometer.

Satelit ini memiliki resolusi spasial hingga 5 meter dan lebar cakupan pencitraan (imaging swath) satelit tunggal sebesar 300 km. Jaringan kedua satelit ini mampu mencapai siklus kunjungan ulang (revisit cycle) global 5 hari.

Mengutip Antara, salah satu keunggulan satelit ini adalah kapasitas komputasi internal sebesar 400 TOPS yang memungkinkan dilakukannya inferensi kecerdasan buatan di luar angkasa.

Satelit ini diklaim mampu memproses dan mengintepretasikan citra saat berada di orbit, termasuk mengidentifikasi tanaman dan mengevaluasi bencana.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Donald Trump Malah Mau Bikin Pasukan AI Padahal Ilmuwan Minta Setop

21 September 2026 - 20:44 WIB

SpaceX Target Starship Meluncur ke Orbit 28 September

21 September 2026 - 20:38 WIB

Donald Trump Mau Ubah Istilah AI, Siapkan Tiga Usulan

21 September 2026 - 20:34 WIB

Mahasiswa Undip Ciptakan ‘Kecoak Hybrid’, Bisa Cari Korban Bencana

21 September 2026 - 20:30 WIB

Alasan Kenapa Handphone yang Tethering Nyala Jangan Disimpan dalam Tas

21 September 2026 - 20:26 WIB

Trending on Kabar Lifestyle