Menu

Dark Mode
Maling Kabur Pakai Taksi Robot Waymo, Sudah 6 Bulan Belum Tertangkap Ketika Sang Bapak AI Malah Cerita Seram Sambil Kasih Peringatan Tak Mau AI Lepas Kendali, Pemerintah Pastikan Perpres AI Terbit Tahun Ini Komdigi Tegaskan Aturan Pembatasan Akses Medsos Anak Bukan Larangan Pria Jarang Bergerak Rentan Alami Gangguan Saluran Kemih Optimalkan Aliran Air 24 Jam, Tirta Pakuan Lakukan Komisioning

Kabar Lifestyle

Pria Jarang Bergerak Rentan Alami Gangguan Saluran Kemih

badge-check


					Ilustrasi. Pria jarang bergerak, rentan terkena infeksi saluran kemih. (Foto: 
iStock/Diy13)
Perbesar

Ilustrasi. Pria jarang bergerak, rentan terkena infeksi saluran kemih. (Foto: iStock/Diy13)

Terlalu lama duduk dan minim aktivitas fisik ternyata tidak hanya berdampak pada kesehatan jantung atau berat badan. Kebiasaan ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan saluran kemih pada pria, bahkan saat masih berada di usia produktif.

Spesialis Urologi Eka Hospital MT Haryono, Dyandra Parikesit, mengatakan pola hidup masyarakat modern yang cenderung kurang bergerak, ditambah tingkat stres yang tinggi dan faktor genetik, membuat masalah kesehatan saluran kemih kini semakin sering ditemukan pada pria usia muda.

“Banyak pria sering kali mengabaikan gejala gangguan saluran kemih dan baru ke dokter saat gejalanya memburuk. Meski dianggap penyakit orang tua, faktanya saat ini gangguan saluran kemih bisa dialami pria di usia berapa saja,” kata Dyandra dalam keterangan tertulis, Jumat (12/6).

Menurutnya, gaya hidup sedentari atau terlalu banyak duduk menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap munculnya berbagai gangguan urologi. Sayangnya, banyak pria tidak menyadari risiko tersebut karena gejala awal sering kali ringan atau tidak menimbulkan keluhan berarti.

Padahal, deteksi dini penting dilakukan untuk mencegah gangguan berkembang menjadi lebih serius dan memengaruhi kualitas hidup.

Dyandra menjelaskan, pria usia 30-an yang sedang berada pada puncak produktivitas kerja termasuk kelompok yang perlu lebih waspada. Tekanan pekerjaan, kurang olahraga, kebiasaan merokok, dan stres berkepanjangan dapat memengaruhi kesehatan reproduksi maupun saluran kemih.

Salah satu kondisi yang perlu diwaspadai adalah varikokel, yaitu pembengkakan pembuluh darah vena di dalam kantung testis. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab infertilitas pria yang cukup sering ditemukan pada usia produktif.

“Ada juga deteksi dini varikokel untuk mendeteksi varikokel yaitu pembengkakan pembuluh darah vena di dalam kantung testis. Varikokel merupakan salah satu penyebab utama infertilitas pria yang paling sering ditemukan pada usia produktif, namun sering kali tidak disadari,” ujarnya.

Selain itu, pria yang sedang merencanakan program kehamilan juga disarankan menjalani analisis sperma untuk mengetahui kualitas sperma, mulai dari jumlah, pergerakan, hingga bentuknya.

Kenali gejala yang sering diabaikan

Gangguan saluran kemih sering berkembang secara perlahan. Karena itu, banyak pria baru memeriksakan diri ketika keluhan sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain aliran urine yang melemah, harus mengejan saat buang air kecil, urine menetes setelah selesai berkemih, hingga sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil.

Memasuki usia 45 tahun ke atas, risiko gangguan saluran kemih semakin meningkat karena produksi hormon testosteron mulai menurun dan elastisitas jaringan saluran kemih berkurang.

Pada usia ini, dokter juga menyarankan pemeriksaan fungsi ginjal secara berkala melalui pengecekan kadar ureum dan kreatinin. Evaluasi disfungsi ereksi juga penting karena kondisi tersebut dapat menjadi tanda awal adanya gangguan pembuluh darah yang berkaitan dengan hipertensi, diabetes, atau penyakit jantung.

Meski sering dikaitkan dengan usia lanjut, gangguan saluran kemih sebenarnya dapat dicegah atau dideteksi lebih awal melalui skrining kesehatan urologi yang disesuaikan dengan usia.

Bagi pria berusia 50 tahun ke atas, pemeriksaan prostat secara rutin menjadi langkah penting. Salah satunya melalui tes darah untuk mengukur kadar Prostate-Specific Antigen (PSA), yang dapat membantu mendeteksi gangguan prostat sejak dini.

Pemeriksaan uroflowmetry juga dapat dilakukan untuk menilai kecepatan dan pola aliran urine sehingga dokter dapat mengetahui ada tidaknya sumbatan pada saluran kemih akibat pembesaran prostat jinak atau kondisi lainnya.

Dyandra mengingatkan pria untuk tidak menunggu hingga muncul rasa sakit atau keluhan berat sebelum memeriksakan diri.

“Jangan menunda pemeriksaan urologi hanya karena merasa belum ada keluhan yang menyakitkan. Melakukan skrining sejak dini dapat membantu mempertahankan fungsi reproduksi, seksual, dan sistem ekskresi urin yang optimal hingga usia lanjut,” kata Dyandra.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Maling Kabur Pakai Taksi Robot Waymo, Sudah 6 Bulan Belum Tertangkap

12 June 2026 - 19:48 WIB

Ketika Sang Bapak AI Malah Cerita Seram Sambil Kasih Peringatan

12 June 2026 - 19:35 WIB

Komdigi Tegaskan Aturan Pembatasan Akses Medsos Anak Bukan Larangan

12 June 2026 - 19:25 WIB

REKA Bogor Gelar Rekaloka 2026, Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Naik Kelas

11 June 2026 - 08:57 WIB

Gunung Slamet Dibuka Lagi Hari Ini, Kuota Pendakian Dibatasi

10 June 2026 - 13:03 WIB

Trending on Kabar Lifestyle