Optimalisasi Terminal Barananangsiang Terimbas Proyek LRT

Proyek pembangunan Light Rail Transit (LRT) tahap kesatu dari  Jakarta dan berakhir di Bogor dengan stasiun akhir di terminal Baranangsiang, berdampak luas bagi rencana pembangunan optimalisasi terminal Baranangsiang yang hingga saat ini belum terealisasi. Banyaknya perubahan-perubahan signifikan pada pembangunan terminal Baranangsiang, berdampak pula pada kesepakatan perjanjian kerjasama atau addendum antara Pemkot Bogor dengan PT. PGI.

Walikota Bogor Bima Arya mengatakan, karena ada pembangunan LRT  oleh pusat bahwa ujungnmya ada di terminal Baranangsiang, maka saat ini sedang dilakukan pembahasan intensif antara Pemkot Bogor dengan PT. PGI.

“Jadi sudah ada rekomendasi dari Tim ABG, dan rekomendasi itu harus menjadi landasan bagi Bappeda dan PT. PGI untuk melakukan revisi desain dan lainnya,” kata Walikota.

Menurut Bima, Bappeda bersama pihak PT. PGI, harus segera menyepakati revisi desain dan berbagai perencanaan lainnya, terutama menyangkut soal pembangunan LRT, underpass, Park and Ride serta fungsi penunjang lainnya. “Saya sudah minta agar pembahasan terus dilakukan antara Bappeda dan PT. PGI,” ucapnya.

Bima menjelaskan, kalau semua revisi-revisi sudah disepakati, maka akan dilakukan penandatanganan addendum baru. “Kalau semuanya sudah selesai dan semua pihak sudah menyepakati, maka nanti tinggal perencanaan pembangunan terminal Baranangsiang. Adanya rencana pembangunan LRT ini membawa dampak luas menyangkut soal terminal ini, jadi harus terus dibahas,” jelasnya.

Belum adanya keputusan kongkrit dari pemerintah Kota Bogor terkait  kelanjutan optimalisasi Terminal Baranangsiang, terus menjadi sorotan dan perhatian berbagai pihak. Komisi A DPRD Kota Bogor angkat bicara dan menyikapi polemik soal terminal yang hingga kini belum ada kelanjutannya.

Ketua Komisi A DPRD Kota Bogor, Jenal Mutaqin mengatakan, dewan mendorong Walikota untuk melakukan langkah-langkah real dan konkrit dalam menyelesaikan permasalahan optimalisasi Terminal Baranangsiang.

Saat ini akan memasuki akhir tahun 2015, sehingga permasalahan terminal harus segera dituntaskan dan diselesaikan, jangan sampai berganti tahun kembali tapi Terminal Baranangsiang tidak dibangun-bangun. Dengan adanya rencana pembangunan proyek kereta ringan atau light rail transit (LRT) dari Jakarta ke Bogor, dan stasiun LRT-nya akan berada di Terminal Baranangsiang, maka Pemkot Bogor harus menyiapkan perencanaan pembangunan Terminal Baranangsiang.

“Kita mendorong Walikota melakukan langkah real agar terminal Baranangsiang segera dibangun secara representatif. Kita juga berharap realisasi pembangunan terminal disegerakan, karena berhubungan juga dengan program pembangunan LRT yang dicanangkan pemerintah pusat,” kata Jenal.

Pembangunan Terminal Baranangsiang juga harus memiliki konsep dengan jangka waktu yang panjang, supaya bangunan di terminal itu terintergrasi dengan LRT. Semua rencana pembangunan juga harus tercakup seperti underpass, sky walk, park and ride dan fungsi penunjang lainnya. Karena posisi Terminal Baranangsiang sedang dikerjasamakan dengan pihak ketiga (PT. PGI), maka Pemkot Bogor harus intensif membahas seluruh perencanaan pembangunannya itu, jangan sampai terjadi lagi polemik yang menyebabkan terhambat atau gagalnya pembangunan terminal.

“Konsep perencanaan pembangunan terminal itu harus jelas dan kongkrit, termasuk kesepakatan adendum antara Pemkot Bogor dengan pihak ketiga harus dimaksimalkan terselesaikan dalam waktu dekat ini. Kita berharap terminal segera dibangun, karena fungsinya sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan pengguna jasa transportasi,” harap politisi Gerindra yang juga ketua Fraksi Gerindra DPRD Kota Bogor.|yuda|

print

You may also like...