Kota Bogor Terima Bantuan Riset Program Kota Ramah Air

Tantangan terbesar yang dihadapi Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor dalam mewujudkan Program Bogor Kota Ramah Air adalah menyusun kerangka kebijakan dan skema pelaksanaan kegiatan agar selaras dengan berbagai perencanaan kota yang sudah disusun sebelumnya.

“Bagi kami di Kota Bogor, kami ingin seluruh program dapat berjalan dengan lancar dan tentunya didukung dengan perencanaan yang memadai,” kata Wali Kota Bogor Bima Arya dalam Pertemuan tele-Conference – Urban Water Cluster Adivisory Board The Australia Indonesia Centre di Batavia Room ANZ Tower Jakarta, Jumat (28/07/2017).

Pertemuan ini kata Bima, merupakan tindaklanjut dari pertemuan sebelumnya di Bogor pada 21 November 2016 lalu. Selama tiga tahun, mulai tahun 2016 hingga tahun 2018 kedepan Kota Bogor dan Kabupaten Bogor akan menerima bantuan berupa riset dari The Australia-Indonesia Centre untuk Program Bogor Kota Ramah Air yang akan melibatkan para akademisi dari Monash University Australia, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Indonesia (UI). Khusus untuk Kota Bogor lokasi riset dilaksanakan di dua lokasi yaitu Kampung Pulo Geulis dan Griya Katulampa, sedangkan untuk Kabupaten Bogor di Cibinong Raya dan Perumahan Sentul City.

Lebih lanjut Bima Arya menambahkan, saat ini Pemkot Bogor sedang melakukan evaluasi dan revisi terhadap rencana tata ruang dan tata wilayah Kota Bogor tahun 2011-2031, sebab program ini harus selaras dengan kebijakan tersebut..

“Namun sebagai Wali Kota, saya dan jajaran akan mendukung penuh program dan kegiatan ini untuk mewujudkan Bogor sebagai Kota Ramah Air. Saya berharap warga kota Bogor dapat mendapatkan manfaat dari program,” harapnya.

Dalam mendukung kesuksesan Program Bogor Kota Ramah Air menurut Bima dibutuhkan adanya sinergitas banyak pihak seperti pemerintah atau birokrasi, sektor swasta, para akademisi, media massa dan komunitas.

reporterpratama

print

You may also like...