BISA JADI! (bagian 1)

Senin pagi, 24 Agustus 2020, saya mendapatkan kabar bahwa swab saya menunjukan hasil yang tidak diharapkan banyak orang. Ya, saya terkonfirmasi positif Covid-19. Lalu banyak pertanyaan muncul, “Kok bisa?” dan “Tertular di mana?”. Jawabannya ya serba “Bisa Jadi”.

Sebelum ikut swab, saya memang sempat jatuh sakit pada 10 Agustus 2020. Pagi dan siang masih dalam keadaan baik, sore mulai terasa badan tidak enak dan akhirnya pada malam hari saya mulai demam.

Saya anggap itu masuk angin biasa. Lalu saya minum cairan sachet untuk mengusir masuk angin dan berharap besok pagi bisa kerja kembali. Semakin malam, demam semakin menjadi. Bahkan, pada dini hari kepala saya mulai merasakan sakit yang tidak biasa.

Karena tidak memungkinkan, saya akhirnya izin ke kantor untuk tidak bertugas dan istirahat di rumah.

Di rumah saya minum obat warung untuk mengurangi sakit kepala. Minimal supaya bisa tidur dulu. Hari berikutnya demam dan sakit kepala masih hinggap. Makan pun hanya bisa sedikit karena mual. Lidah pun tidak bisa merasakan apa-apa, termasuk makanan dan minuman yang berasa sekalipun itu terasa hambar. Tapi coba terus saya paksakan masuk.

Vika (pacar) juga sempat menjenguk saya di rumah dan membawakan sejumlah obat dari apotek plus vitamin. Alhamdulillah, obatnya cukup membantu dan saya merasa cukup membaik.

Kemudian pada tanggal 13 Agustus 2020 saya merasa sudah bisa bekerja kembali. Hanya saja badan masih pegal-pegal, pikir saya mungkin karena terlalu banyak berbaring.

Besoknya saat akan bekerja, Pak Wali menyarankan saya untuk ikut swab dulu di Dinkes. Karena beliau pernah merasakan hal serupa seperti yang saya keluhkan. Wajar, alumni Covid-19.

Kemudian saya swab dan setelahnya langsung isolasi mandiri di rumah sambil menunggu hasil.

Hingga pada akhirnya, 24 Agustus 2020 telepon berdering sekitar jam 09.40 WIB. Rupanya dari Pak Wali. Mungkin mau memantau perkembangan kondisi kesehatan, pikir saya. Soalnya, hari-hari sebelumnya beliau cukup rutin menanyakan kondisi selama saya sakit.

Tapi, biasanya beliau menanyakan kabar via WA. Hari itu ditelpon. Jantung mulai dag dig dug dan berpikir yang aneh-aneh. Benar saja, Pak Wali menyampaikan bahwa saya terkonfirmasi positif Covid-19.

Mendengar itu saya hanya bisa pasrah. Saya langsung memikirkan nasib keluarga, pacar, rekan kerja dan teman setelah saya dinyatakan positif. Sempat drop kembali. Tapi coba santai di hadapan keluarga supaya tidak panik.

“Ya Allah, cukup saya yang positif. Orang-orang terdekat jangan sampai ada yang terpapar,” doa saya dalam hati.

Saya langsung kabari mereka dan menguatkan mereka. Kaget, pasti. Vika bahkan menangis mendengar kabar ini. Tapi saya berusaha tenangkan mereka dan meminta untuk tetap ikuti protokol kesehatan, termasuk pakai masker ketika di dalam rumah karena situasinya berbeda.

Tak lama tim Detektif (deteksi aktif) Covid-19 Kota Bogor datang ke rumah. Mereka terdiri dari Puskesmas, kader Posyandu, RW dan pihak kelurahan. Mereka memantau kondisi saya dan menggali informasi terkait kontak erat saya dengan orang lain. Hasilnya ada sekitar 30 orang lebih yang di tracing dan dilakukan swab dan pemantauan kepada mereka.

Izinkan saya dalam kesempatan ini memohon maaf kepada semua yang direpotkan karena harus mengikuti swab dan isolasi akibat status positif saya sehingga menghambat aktivitas kalian.

Lanjut, untuk keluarga saya, Puskesmas Bogor Selatan memutuskan untuk melakukan swab di rumah.

“Kang ..intinya gpp ya klo kami pakai APD lengkap ke rumah. Kang Apri ga keberatan kan? Krn ada bbrp pasien yg tdk mau… ga mau tetangganya tau,” ujar Kepala Puskesmas Bogor Selatan melalui WA.

“Tidak apa-apa dok, silahkan saja. Supaya warga tahu juga dan bisa antisipasi,” balas saya.

Beruntung, kader Posyandu di RW tempat saya tinggal cukup sigap dan mengerti sekali dengan kondisi ini. Mereka juga mungkin memberikan penjelasan kepada warga terkait kondisi ini dan melakukan treatment-treatment untuk keluarga pasien.

Tak lama tim dari Puskesmas datang menggunakan Alat Pelindung Diri (APD). Warga sekitar pun saya lihat dari dalam rumah cukup heboh. Mungkin mereka baru melihat petugas yang memakai baju APD lengkap secara langsung. Petugas kemudian mengambil spesimen swab untuk anggota keluarga saya, termasuk ART.

Semenjak saya istirahat di rumah karena sakit, saya memang tidak memisahkan alat makan dan tidak mencuci pakaian sendiri. Makanya muncul kekhawatiran saya bisa menularkan melalui alat makan yang bekas dipakai dan pakaian saya yang ART cuci.

Tapi selama isolasi di rumah, ketika saya selesai makan saya selalu semprotkan handsanitizer ke sendok dan piring yang bekas saya pakai sebelum disimpan di wastafel. Termasuk saat selesai mandi, baju kotor bekas pakai juga saya semprot handsanitizer sebelum saya simpan di ember.

Kesadaran kecil ini mungkin pikir saya bisa membantu mengurangi risiko penularan kalau terjadi hal yang tidak diinginkan.

Ini yang keluarga saya tidak tahu. Karena pernah mama lihat saya sedang semprotkan handsanitizer, justru malah dibilang berlebihan. “Ngapain disemprot-semprot gitu. Cuma sakit biasa kok. Jangan berlebihan. Piring sama baju langsung taro aja,” kata mama, sedikit menyepelekan.

Tapi syukur Alhamdulillah belakangan saya mendapatkan kabar bahwa hasil swab keluarga, Vika, dan teman kerja negatif. Tentunya ini membuat saya semakin optimistis untuk sembuh dan melalui ini semua dengan semangat.

Entahlah, hasil negatif mereka karena apa. Bisa jadi karena imun mereka kuat, bisa jadi karena hal-hal kecil yang saya lakukan selama di rumah, bisa jadi karena kekuatan doa. Wallahu A’lam.

Singkat cerita, saya diputuskan untuk dirawat RSUD Kota Bogor karena tidak memungkinkan isolasi mandiri di rumah, terlebih mama usia sudah 58 tahun tapi Alhamdulillah tidak ada penyakit bawaan atau komorbid. Belum lagi kekhawatiran tetangga dengan status saya sebagai pasien positif dan keluarga yang otomatis ODP.

Lantas pertanyaan pun muncul, bagaimana bisa saya terpapar virus corona? Dari mana?. Pertanyaan ini terus muncul kepada saya dari orang-orang yang ingin mengetahui kabar saya.

Jujur, saya tidak bisa menjawabnya. Karena virusnya saja tidak terlihat. Saya sempat bergumam, “Perasaan gue udah nerapin protokol kesehatan deh buat diri gue.”

Apalagi ketika bertugas di lapangan, saya selalu bawa handsanitizer dan cadangan masker di tas. Tidak pernah tidak.

Tapi, mengandalkan ‘perasaan’ saja tidak cukup, karena:

Bisa jadi dalam beberapa kesempatan saya lalai.

Bisa jadi tempat yang menurut saya bersih ternyata hinggap virus tersebut.

Bisa jadi orang yang saya jumpai itu merupakan orang tanpa gejala (OTG) yang belum ketahuan karena belum swab, meski tampak sehat dan baik-baik saja.

Bisa jadi karena imun tubuh saya sedang drop sehingga virus gampang masuk.

Bisa jadi karena saya simpan masker tidak ditempat yang bersih saat hendak makan atau minum.

Bisa jadi karena menyepelekan sakit biasa.

Bisa jadi karena saya malas mandi.

Bisa jadi karena terlalu merasa yakin dengan imun kita, sehingga terlalu santai.

Terus, kira-kira dari mana sampai bisa terpapar? Ini pun sama…

Bisa jadi di tempat kerja

Bisa jadi di lingkungan rumah

Bisa jadi pas tugas di lapangan

Bisa jadi pas makan siang atau malam di cafe/resto/warteg/kantin

Bisa jadi pas pesen makan via ojol

Bisa jadi di toilet umum

Bisa jadi pas saya ambil uang di ATM

Bisa jadi pas saya bayar cicilan kendaraan

Bisa jadi pas saya tugas menghadiri penyerahan bantuan di salah satu rumah sakit

Bisa jadi saat saya jemput pacar di tempat kerjanya.

Bisa jadi pas belanja ke minimarket.

Bisa jadi dari transaksi atau uang yg kita pegang.

Dan masih banyak lg kemungkinan tempat-tempat lainnya yang saya kunjungi sebelum sakit.

Bersyukur saya masih diberikan kondisi yang tidak terlalu parah dan tidak memiliki komorbid.

Jadi, yang anggap virus ini biasa-biasa saja. Mungkin kalian masuk ke dalam golongan yang memiliki imun bagus. Minimal kalian itu bisa menjadi OTG (positif tapi tidak ada gejala). Nah, bahayanya itu ketika para OTG yang menganggap dirinya ‘bersih’ ini bertemu atau kontak dengan bayi, Lansia dan orang-orang yang memiliki penyakit bawaan, bisa fatal.

Mungkin ini pengingat dari Allah untuk saya. Insya Allah saya belajar dari kesalahan dan kelengahan saya. Seperti yang Ibu Wali Yane Ardian sampaikan ke saya, “Syafakallah… Laa Ba’sa Thahuurun Insya Allah (Semoga Allah menyembuhkanmu. Tidak apa, semoga menjadi penghapus dosa jika Allah menghendakinya.”

Untuk kalian, lakukan hal sekecil apapun untuk melindungi diri sendiri dan orang sekitar, minimal pakai masker dan sering cuci tangan.

Jangan sampai pas sudah zona merah seperti saat ini dan dilakukan kembali pembatasan sosial berskala mikro atau komunitas, kalian mengeluh. Saya yakin, ini sudah dipikirkan dengan baik, diskusi dengan ahli, bukan keinginan pemerintah seenaknya membatasi aktivitas warga.

BISA JADI ini karena ulah kita juga (termasuk saya) yang mungkin kurang disiplin. Karena disiplin kita adalah vaksin kita.

Sehat dan semangat terus kalian. Jangan lepas konsumsi vitamin dan terapkan pola hidup sehat. Karena itu yg bisa membantu sebelum vaksin ditemukan. (*)

penulis Apriyadi Hidayat

foto @apriyadihidayat

***Pada kisah selanjutnya (bagian 2) saya akan berbagi mengenai aktivitas saya dirawat di rumah sakit.
Izin berbagi kisah 🙏


“Tulisan yang dibuat oleh Apriyadi Hidayat ini semoga bisa mengingatkan kita semua, agar tidak menyepelekan kondisi pandemi covid 19 saat ini. Terlebih lagi kondisi Kota Bogor yang masuk ke dalam zona merah. Mari saling mengingatkan, bersatu lawan covid dengan tetap jaga jarak, cuci tangan dan gunakan masker.”

print

You may also like...