Menu

Dark Mode
Donald Trump Malah Mau Bikin Pasukan AI Padahal Ilmuwan Minta Setop SpaceX Target Starship Meluncur ke Orbit 28 September Donald Trump Mau Ubah Istilah AI, Siapkan Tiga Usulan Mahasiswa Undip Ciptakan ‘Kecoak Hybrid’, Bisa Cari Korban Bencana Alasan Kenapa Handphone yang Tethering Nyala Jangan Disimpan dalam Tas Data Center AI Meta Diduga Bocorkan Bakteri Mematikan ke Air untuk Irigasi Kota

Headline

Giliran MUI Tangerang Selatan Serukan Boikot Produk Perancis

badge-check


					Giliran MUI Tangerang Selatan Serukan Boikot Produk Perancis Perbesar

Protes kartun Nabi Muhammad SAW masih terus berlanjut. Kartun Rasulullah itu masih terus dipertahankan negara Perancis dan tidak mau dicabut oleh negara terkenal Menara Eiffle tersebut serta segera meminta maaf kepada umat Islam.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tangerang Selatan (Tangsel) ikut menyerukan boikot terhadap produk asal negara Prancis. Sebelumnya, seruan boikot sudah lebih dulu disampaikan MUI pusat yang diwakili Wakil Ketua Umum MUI, Muhyiddin Junaidi dan Sekjen MUI Anwar Abbas dalam keterangan resminya.

Dilansir dari Tribun Jakarta, imbauan boikot produk asal Prancis merupakan bentuk protes tehadap pernyataan Presiden Emmanuel Macron yang dinilai menghina Nabi Muhammad dan umat muslim.


Baca juga:Protes Kartun Rasulullah, Umat Islam di Medan Injak dan Lindas Poster Presiden Perancis


Sekretaris MUI Tangsel, Abdul Rojak, mencanangkan agar warga Tangsel tidak membeli produk asal Prancis. Hal itu disebutnya sebagai gerakan kesadaran.

“Jadi yang kita lakukan itu sosialisasi dan gerakan kesadaran bagi masyarakat muslim Tangsel, secara pribadi dari keluarga muslim yang ada di Tangsel, yang ada di rumah-rumah untuk tidak membeli produk Prancis. Jadi tidak dengan memaksakan kehendak, enggak. Jadi dengan gerakan membangun kesadaran,” ujar Rojak saat dihubungi TribunJakarta.com, Sabtu (31/10/2020).

Menurut Rojak, boikot tersebut merupakan bentuk protes agar menimbulkan efek jera untuk Macron. Dengan menghindari produk Prancis yang memang sudah kadung banyak digunakan masyarakat Indonesia, termasuk Tangsel, Rojak berharap bisa memberikan dampak secara ekonomi yang signifikan.

“Ya kita harus dimulai dari sekarang. Pembelajaran sekaligus efek jera lah, jadi tidak, sebagai masyarakat muslim terbesar di dunia harus bersikap lah. Sebagai pembelajaran sekaligus efek jera lah. Ya sebagai masyarakat muslim terbesar di dunia harus bersikap lah,” tegasnya.
Rojak bahkan menambahkan, jika ada muslim di Tangsel yang tidak mengikuti aksi boikot tersebut, patut dipertanyakan identitasnya.

“Jadi kalau sudah terbangun kesadaran apa lagi melakukan pembiaran, apalagi bersikap individualis itu gak bener itu, perlu dipertanyakan identitas keIslamannya. Kalau dia sudah terjerat sama sekali. Ya minimal sebagai bentuk kecintaan, kepada Nabi Muhammad ya dia enggak membeli produk-produklah,” jelasnya.

sumber tribunjakarta

Editor: Adi Kurniawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pemerintah Tetapkan 18 Hari Libur Nasional dan 8 Hari Cuti Bersama Tahun 2027

15 September 2026 - 20:36 WIB

Abu Vulkanik Menyebar, Kalbe Consumer Health dan PWI Kota Bogor Bagikan Masker 

9 September 2026 - 18:42 WIB

Galuga Kebakaran, Pemkot Bogor Gercep Padamkan

8 September 2026 - 21:24 WIB

Kopi Darat Bersama KGMP, BPJS Ketenagakerjaan Kebayoran Baru Perkuat Sinergi dan Perlindungan bagi Mitra Gojek

8 September 2026 - 10:03 WIB

Sinergi BPJS Ketenagakerjaan dan DMI Kebayoran Baru, Dorong Perlindungan Jaminan Sosial bagi Seluruh Perangkat Masjid

7 September 2026 - 10:18 WIB

Trending on Headline