Ketua DPRD: Menata Kota Bogor Dibutuhkan Dukungan Semua Lapisan

Ketua DPRD H.Untung W Maryono, SE. AK. 

Hari Sabtu, 3 Juni 2017, Kota Bogor tepat berusia 535 tahun. Dalam usianya yang panjang, Bogor masih saja mengalami virus-virus degradasi kualitas lingkungan, jurang kemiskinan yang kian melebar, kesumpekan bangunan kota yang masif, serta kesemrawutan dan kemacetan lalu lintas yang kian parah.

Menjadikan Kota Bogor lebih maju dan lebih modern merupakan cita-cita segenap masyarakat Bogor. Kota yang maju dan modern dalam pengertian seperti tampak pada kelebihan kota-kota besar dunia, baik dari segi penataan fisik maupun kehidupan ekonomi, sosial dan politiknya serta manfaat lain yang dapat dipetik oleh masyarakat itu sendiri. Agar mimpi besar tersebut dapat terwujud maka diperlukan adanya persetujuan dan dukungan penuh dari rakyat yang berdaulat. Masyarakat sendirilah sebenarnya yang harus dibangkitkan untuk bekerja sama bahu membahu dan tolong menolong mewujudklan cita-cita bersama dengan berlandaskan falsafah Kota Bogor sendiri yakni “DINU KIWARI NGANCIK NU BIHARI, SEUJA AYUENA SAMPEUREUN JAGA” (Apa yang kita miliki saat ini adalah buah karya masa lalu, dan apa yang kita lakukan saat ini adalah untuk kehidupan hari esok).

Demikian ungkapan Ketua DPRD Kota Bogor, H.Untung W Maryono, SE. AK. ketika mengomentari kondisi kota ini yang kini berusia 535 tahun. Memang pada zaman Hindia Belanda (sebelum Perang Dunia II 1939-1945), Buitenzorg (sebutan untuk Bogor kala itu), sambung,  H.Untung W Maryono, SE.AK.  merupakan kota amtenaar yang statis, angkutan umum kala itu belum menjadi kebutuhan mendesak. Sebagai Kota diselatan Batavia (sebutan untuk Kota Jakarta), Buitenzorg,  pada saat itu diproyeksikan untuk 30.000 penduduk saja. Bisa dibayangkan, betapa nyaman serta tenteram Kota ini. Jalan-jalan lengang, dengan pohon kenari rimbun yang meneduhinya. Sekali-sekali terdengar ketipak kuda ditingkahi kliningan delman. Jumlah kendaraan waktu itu, termasuk mobil, delman, serta sepeda diperkirakan jumlahnya hanya ratusan  unit saja, paparnya.

Tak seorang pun bisa menghentikan jalannya waktu. Dan dari waktu ke waktu Kota Bogor terus berkembang. Masa lampau Bogor, masa Buitenzorg yang sejuk dan nyaman sirna sudah, tidak bisa kembali lagi. Perubahan tata ruang, pembangunan terminal baru, ring road dari Tol Sentul selatan, jalan layang di atas Jl Sholeh Iskandar, akan makin mengubah wajah Kota Bogor. Ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kemacetan yang sangat menyebalkan. Salah satu priorotas program Walikota Bogor, Bima Arya, adalah  mengatasi masalah transportasi dan kesemerawutan kota.

Menyikapi setumpuk persoalan yang dihadapi, menurut politisi PDI Perjuangan ini, bahwa Bogor  memang membutuhkan antibodi yang didukung kreativitas dan inovasi warga dan pemerintah daerah dalam menata Kota Bogor, mendorong pertumbuhan ekonomi hijau yang ramah lingkungan, meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan warga, mempresentasikan karya seni sosial masyarakat, serta membangun kebudayaan yang humanis.

Harus diakui, kata Untung, paradigma pembangunan Kota Bogor telah berubah, dari analisis dampak lingkungan (abad ke 20) ke analisis  keberlanjutan (abad ke 21). Pembangunan kota yang berkelanjutan jelas akan meningkatkan kualitas lingkungan kota dan memberikan keadilan sosial bagi masyarakat.  Setidaknya ada beberapa strategi yang dikembangkan Kota Bogor selama ini  menuju Kota  yang berwawasan lingkungan sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2015 – 2019. Salah satu strategi itu adalah menyediakan kemudahan akses ke kawasan perumahan, perkantoran, fasilitas sosial, dan rekreasi, yang didukung oleh sistem jaringan transportasi massal yang terintegrasi, jaringan infrastruktur jalan, serta keterhubungan antara stasiun kereta api dan terminal bus.

“Lalu lintas Kota Bogor semerawut,” ungkapan ini harus diakui. Telah banyak kiat yang dilakukan pihak Pemkot Bogor untuk mengurai kesemerawutan ini, namun faktanya tidak merubah keaadaan. Hal ini ditandai makin bertambahnya jumlah kendaraan. Penambahan jumlah itu terlihat jelas, baik kendaraan roda empat maupun roda dua. Hal itu sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk,  maupun warga sekitar yang datang ke Bogor untuk bekerja, bersekolah, berdagang atau sekedar rekreasi.

Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang tinggi, terutama roda dua hanya menambah keruwetan pada lalu lintas Kota Bogor, tapi juga sering mengancam keselamatan pengguna jalan. Tingginya populasi sepeda motor ini dipicu oleh keputusan mereka menghadapi kemacetan. Mereka merasa kehabisan waktu jika harus menggunakan angkutan umum, sebab angkutan umum yang ada selain harus menunggu lama sampai ke tempat tujuan, juga tidak aman dan tidak nyaman. Sementara sepeda motor adalah alat transportasi yang paling murah untuk mengimbangi mobilitas kerja di Bogor. Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, lima atau sepuluh tahun kedepan, kota Bogor akan menghadapi kenyataan pahit. Lalu lintas Kota Bogor dipastikan mengalami stagnasi (tak begerak sama sekali). Hal ini  lebih disebabkan pertambahan jumlah kendaraan yang melonjak tajam, tidak sebanding dengan pembangunan ruas jalan, ungkapnya.

“Kalau tak secepatnya diambil tindakan, empat atau lima tahun ke depan, saya yakin lalu lintas Kota Bogor bisa lumpuh. Sekarang saja sudah lumayan sulit untuk bergerak,” tandas  Ketua DPRD Kota Bogor Untung W Maryono, SE.AK.

Oleh karena itu, lanjut Untung W Maryono, tidak ada jalan lain untuk menata Kota Bogor agar lebih baik, diperlukan dukungan penuh semua lapisan. Merujuk pada permintaan masyarakat yang menghendaki Bogor menjadi Kota yang lebih baik, maka konsep yang benar dan tepat harus dipilih, agar implementasinya searah dengan targetnya. Target tersebut memang tidak mungkin bisa tercapai sekaligus, mengingat keterbatasan waktu, dana, sumber daya manusia dan sarana yang ada. Yang penting, sampai dimanapun hasilnya, usaha maksimal dengan tetap berada pada jalur yang benar harus terus dilakukan, demikian pinta Ketua DPRD Kota Bogor Untung W Maryono.

Menurut data, rasio ketersediaan panjang jalan di Kota Bogor terhadap luas wilayah masih sangat minim. Sampai dengan akhir 2014, ruas panjang jalan di Kota Bogor hanya mengalami pertambahan panjang sekitar 3 km lebih saja atau mencapai 630.591 km dari semula sepanjang 627,251 km pada tahun 2011. Penambahan panjang jalan belakangan ini memang hanya didukung pembangunan ruas jalan R-3 yang tak kunjung beres.

Sementara itu, pertumbuhan kendaraan sejak 2010 lalu sudah berlangsung pesat. Setiap tahun, rata-rata pertumbuhan terjadi hingga sepuluh persen. Pada tahun 2010 keberadaan mobil penumpang atau mobil pribadi milik warga Kota Bogor saja sudah tercatat sebanyak  51.145 unit, sedangkan mobil barang 11.295 unit, bus 836 unit, sepeda motor 206.845 unit dan kendaraan khusus 103 unit. Total keseluruhan sebanyak 270.845 unit kendaraan bermotor, jika kenaikannya 10 persen tiap tahun, sudah bisa dihitung berapa jumlah kendaraan bermotor saat ini di Kota Bogor.

Sejak tujuh tahun silam, pertumbuhan kendaraan pribadi roda empat setidaknya lebih sepuluh persen setiap tahunnya. Sementara kendaraan roda dua pertumbuhannya jauh lebih besar yakni 17 persen. Pertumbuhan jumlah kendaraan pribadi dibarengi jumlah angkutan kota Bogor yang gemuk sebanyak 3.412 kendaraan. Jumlah itu terbagi ke dalam 23 trayek. Sedangkan angkutan kota dalam provinsi (AKDP), seperti jurusan Sukasari – Cianjur dan mobil L-300 Bogor – Sukabumi, jumlahnya 4.644 unit. Ditambah fenomena kendaraan pelat B diakhir pekan mendominasi sebagai besar jalan raya di seantero Kota Bogor.

***

sumbersetwankotabogor

print

You may also like...