Sebuah studi dari analis pasar Jepang menemukan fakta mengejutkan. Lima perusahaan teknologi terbesar asal Amerika Serikat ternyata menanggung utang tersembunyi secara kolektif yang jumlahnya mencapai lebih dari USD 1,65 triliun, atau hampir mencapai Rp 30 ribu triliun, di mana pendorong utamanya adalah pengeluaran besar-besaran untuk infrastruktur AI.
Angka yang tidak dipublikasikan secara gamblang tersebut bahkan melampaui nominal USD 1,35 triliun yang secara resmi dilaporkan oleh perusahaan-perusahaan terkait di dalam neraca keuangan mereka, dan angkanya telah membengkak hingga delapan kali lipat selama empat tahun terakhir.

Berdasarkan estimasi dari laporan Nikkei Asia, Alphabet, Microsoft, Amazon, Meta, dan Oracle secara keseluruhan telah mengumpulkan total utang sekitar USD 3 triliun. Sebagian besar dari beban tersebut terikat pada pengeluaran infrastruktur AI yang sangat masif, seperti perjanjian sewa data center jangka panjang, pembelian server, akselerator grafis, dan perangkat keras komputasi lainnya yang belum dikirimkan.
Praktik legal yang menyamarkan kondisi keuangan
Laporan tersebut mencatat bahwa kurang dari separuh angka utang sebenarnya yang dicantumkan langsung pada neraca keuangan utama. Sisa utang lainnya hanya diungkapkan dalam catatan kaki laporan yang dilampirkan pada dokumen pengajuan ke otoritas bursa.
Laporan itu secara berhati-hati menunjukkan bahwa komitmen keuangan di balik utang ini sebenarnya berstatus legal menurut hukum AS, tetapi cara pelaporannya membuat investor ritel kesulitan untuk mengukur kesehatan keuangan perusahaan secara tepat, demikian dikutip dari detikINET, Jumat (24/7/2026).
Dari lima perusahaan yang diteliti dalam studi tersebut, Meta tercatat menanggung estimasi utang tersembunyi paling besar. Angkanya menyentuh sekitar USD 420 miliar, atau hampir tiga kali lipat dari apa yang mereka ungkapkan dalam laporan keuangan tahun fiskal 2026.
Sebagai contoh, proyek data center Hyperion milik Meta di Louisiana mencakup nilai investasi USD 27 miliar dari Blue Owl Capital yang sama sekali tidak pernah muncul dalam laporan pendapatan resminya. Ini adalah manuver yang sepenuhnya sah di bawah aturan keuangan AS saat ini, namun sekaligus mengilustrasikan seberapa besar aliran dana yang bisa ditutupi dari publik.
Sementara itu, utang tersembunyi Oracle dilaporkan telah melonjak sekitar 30 kali lipat selama empat tahun terakhir, menyentuh angka USD 273,3 miliar pada akhir Mei 2026. Sebagian besar utang ini berasal dari beberapa langkah strategis, meliputi:
- Perjanjian sewa jangka panjang dengan operator data center pihak ketiga
- Rencana perusahaan untuk memperluas proyek data center AI Stargate
- Ekspansi titik operasi yang tersebar di wilayah Texas, New Mexico, Michigan, dan Wisconsin
Sumber: detik.com















