Menu

Dark Mode
Sumber Duit Manusia Rp 3.370 Triliun Dobel Tahun Depan Pengadilan Jerman Putuskan Meta Tanggung Jawab Atas Iklan Palsu di FB & IG Ada ‘Telor Ceplok’ di Kawah Gunung Anak Krakatau, Apa Artinya? Google Akui Gemini Melakukan Peretasan Sistem 3 Perusahaan Manusia Rp 3.369 Triliun Ternyata Pakai Smartphone Ini Halusinasi AI Nyaris Picu Perang AS-China

Kabar Lifestyle

Ada ‘Telor Ceplok’ di Kawah Gunung Anak Krakatau, Apa Artinya?

badge-check


					Fenomena menyerupai telur ceplok muncul di area kawah Gunung Anak 
Krakatau (GAK), Lampung Selatan. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
Perbesar

Fenomena menyerupai telur ceplok muncul di area kawah Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan. (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)

Fenomena menyerupai telur ceplok muncul di area kawah Gunung Anak Krakatau (GAK), Lampung Selatan. Fenomena tersebut terlihat setelah aktivitas erupsi besar Gunung Anak Krakatau pada 3 September 2026 mereda.

Dalam video yang diunggah akun Instagram @wxchasing, terlihat genangan dengan warna menyerupai kuning telur di kawasan Gunung Anak Krakatau.

Video tersebut memperlihatkan kondisi GAK yang relatif tenang setelah erupsi sebelumnya menyebarkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah, mulai dari Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Jakarta hingga Jawa Barat.

Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Suwarno, mengatakan fenomena tersebut merupakan hal yang wajar setelah aktivitas erupsi. Genangan yang tampak seperti telur ceplok itu merupakan air yang terkontaminasi gas belerang.

“Iya itu kawah GAK, jadi itu adalah air yang terkontaminasi dengan gas belerang,” kata Suwarno, dikutip dari detikSumbagsel, Jumat (18/9).

Menurut Suwarno, fenomena serupa tidak selalu muncul di setiap gunung api. Pada Gunung Anak Krakatau, warna genangan tersebut terbentuk karena air di kawah bercampur dengan belerang dan material dari lapisan dinding kawah.

“Tidak semuanya, kalau belerang semuanya gunung api pasti ada. Di sana (GAK) ada genangan air, terkontaminasi oleh belerang jadi seperti itu warnanya, dan juga bisa terkontaminasi dengan lapisan dinding kawah itu,” jelasnya.

Meski erupsi besar telah mereda, aktivitas Gunung Anak Krakatau belum sepenuhnya berhenti. Suwarno mengatakan kegempaan masih tercatat di kawasan gunung tersebut.

Pada Jumat (18/9) dini hari, tercatat satu kali gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 12 milimeter dan durasi 5 detik. Selain itu, tercatat satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 8 milimeter dan durasi 72 detik.

“Kalau kegempaan masih terjadi, tercatat tadi malam tremor menerus (microtremor) terekam dengan amplitudo 0,5-6 mm (dominan 2 mm),” katanya.

Suwarno mengatakan status Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level III atau Siaga. Karena itu, masyarakat diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Sumber Duit Manusia Rp 3.370 Triliun Dobel Tahun Depan

19 September 2026 - 19:57 WIB

Pengadilan Jerman Putuskan Meta Tanggung Jawab Atas Iklan Palsu di FB & IG

19 September 2026 - 19:54 WIB

Google Akui Gemini Melakukan Peretasan Sistem 3 Perusahaan

19 September 2026 - 19:45 WIB

Manusia Rp 3.369 Triliun Ternyata Pakai Smartphone Ini

19 September 2026 - 19:41 WIB

Halusinasi AI Nyaris Picu Perang AS-China

19 September 2026 - 19:33 WIB

Trending on Kabar Lifestyle