Menu ✖

Dark Mode
Kader PKK Kota Bogor Dilatih Tanggap dan Tangguh Bencana LPS Beberkan Tantangan Baru Stabilitas Sistem Keuangan di Era M-Banking Mulyani Dukung Deteksi Dini Kanker Serviks, Apresiasi Gerakan Perempuan Sadar Sehat di Pasir Kuda Matahari Buatan China Segera Terwujud, Bakal Menyala 2027 Modal Bot dan AI, Pria Ini Raup Ratusan Miliar dari Spotify Lalu Dipenjara AI Anthropic Bikin Geger, Kirim Laporan Pembunuhan Palsu ke Polisi

Kabar Lifestyle

Ustazah Diduga Hasil AI Viral di TikTok, Followers Tembus 920 Ribu

badge-check


					Ilustrasi. Akun TikTok @nia.hajar_s jadi viral setelah terungkap sebagai hasil 
AI. (Foto: AFP/JADE GAO)
Perbesar

Ilustrasi. Akun TikTok @nia.hajar_s jadi viral setelah terungkap sebagai hasil AI. (Foto: AFP/JADE GAO)

Akun TikTok dengan nama pengguna @nia.hajar_s jadi sorotan setelah warganet mengungkap bahwa sosok ‘ustazah’ tersebut ternyata sepenuhnya hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI).

Kamis (25/6) sore, akun ini sudah memiliki lebih dari 920 ribu followers dan 10,4 juta likes di TikTok. Sosok perempuan di dalam video-video yang dibagikan akun itu tampil mengenakan hijab, berbicara di depan mikrofon layaknya seorang ustazah yang tengah berceramah.

Kemunculan ‘Ustazah Hajar’ ini pun menimbulkan keresahan warganet. Salah satunya datang dari akun di platform X, @MiskinTV_ yang membagikan keresahannya ihwal popularitas ‘Ustazah Hajar’ di TikTok.

Pasalnya, visual yang luar biasa realistis ini membuat banyak jemaah digital terkecoh dan mengira sedang mendengarkan manusia asli. Selain tampilannya yang sangat realistis, dia juga mengkhawatirkan masalah akuntabilitas, karena jika terdapat kekeliruan tafsir dalam video-video tersebut, tidak ada sosok nyata yang dapat dimintai pertanggungjawaban.

Pemerhati budaya dan komunikasi digital Firman Kurniawan juga memastikan bahwa sosok ‘Ustazah Hajar’ adalah hasil buatan AI. Menurut Firman ada beberapa ciri yang bisa terlihat dari video tersebut membuktikan bahwa sosok tersebut adalah buatan akal imitasi, salah satunya adalah intonasi suara di dalam video yang sangat teratur.

“Suaranya itu intonasinya sangat teratur, rapi. Kalau orang ngomong itu kan kadang ada jeda, ada mikir.Ini runtut dan tempo-nya itu sangat teratur.Nah ini terlihat kalau itu fabrikasi, itu buatan artificial intelligence,” kata Firman saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (25/6).

Makin masif
Firman mengatakan konten-konten hasil AI semakin masif dalam beberapa waktu ke belakang. Menurutnya, hal ini didasari oleh tiga hal.

Pertama, teknologi yang semakin murah. Beberapa platform kecerdasan buatan bahkan menyediakan fasilitas gratis untuk menggunakan aplikasi buatan mereka.

Kedua, teknologi AI semakin mudah digunakan. Ia menyebut bahwa tanpa belajar secara khusus dan hanya berbekal menonton video tutorial di YouTube, bertanya ke yang lebih ahli, hingga coba-coba sendiri, orang sudah bisa menghasilkan konten-konten AI yang bersifat komunikatif.

Ketiga, hasil konten buatan AI sudah sangat memuaskan hingga susah dibedakan antara yang nyata dengan artifisial.

“Nah itu tiga-tiganya itu memancing orang untuk menggunakan secara masif di berbagai macam kegiatan,” jelas dia.

Alfons Tanujaya, pengamat digital, menyatakan hal serupa. Menurut dia hal ini menjadi tren karena AI saat ini mampu menghasilkan gambar, video, dan suara yang semakin mirip dan makin sulit dibedakan dari konten asli.

“Hal ini sudah merambah ke industri modelling, di mana model AI atau konten creator AI juga banyak yang memiliki follower lebih tinggi dari konten creator asli,” papar Alfons.

Lebih lanjut, sebagian besar pengguna yang belum memahami perkembangan ini, menurut Alfons, akan mudah mempercayai konten AI sebagai konten buatan manusia. Menurutnya, dampak konten, positif atau negatif, tetap bergantung pada niat dan isi pesan, bukan semata-mata pada apakah pembuatnya AI atau manusia

Namun Alfons menekankan bahwa risiko terbesar muncul ketika identitas pengelola tidak diketahui secara jelas. Menurut dia, jika tidak diawasi dengan baik dan penyedia konten tidak diketahui identitasnya, akan sulit dilacak oleh pihak berwenang atau dimintai pertanggungjawaban.

“Atau misalnya pengelola konten pria menggunakan avatar wanita hal ini seharusnya bisa dibatasi dan dipertanggungjawabkan secara etis,” kata dia.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

LPS Beberkan Tantangan Baru Stabilitas Sistem Keuangan di Era M-Banking

10 October 2026 - 15:17 WIB

Matahari Buatan China Segera Terwujud, Bakal Menyala 2027

10 October 2026 - 12:01 WIB

Modal Bot dan AI, Pria Ini Raup Ratusan Miliar dari Spotify Lalu Dipenjara

10 October 2026 - 11:52 WIB

AI Anthropic Bikin Geger, Kirim Laporan Pembunuhan Palsu ke Polisi

10 October 2026 - 11:47 WIB

Sony Siapkan Perangkat Baru yang Misterius: PlayStation Portal OLED?

10 October 2026 - 11:39 WIB

Trending on Kabar Lifestyle