Menu

Dark Mode
Buku Pelajaran Perlu Diperbarui, Jupiter Ternyata Lebih Kecil dan Pipih Canon Rayakan 30 Tahun PowerShot Lewat G7 X Mark III Edisi Khusus ChromeOS Bakal Pensiun, Diganti Aluminium OS untuk Chromebook Bonobo Bisa Bermain Pura-pura Layaknya Manusia, Ilmuwan Kagum PPLI Dukung Program 1 Hektar Hutan Kota Pemkab Bogor Peduli Lingkungan, PMC dan Kecamatan Bojonggede Tanam Pohon

Kabar Politik

Reformasi Mati Muda, Bima Dedie Ingatkan Pemuda Semangat Perubahan

badge-check


					Reformasi Mati Muda, Bima Dedie Ingatkan Pemuda Semangat Perubahan Perbesar

Bulan Mei diperingati sebagai bulan reformasi. Bulan untuk mengenang akhir dari pemerintahan otoriter Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto, 20 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 21 Mei tahun 1998. Jatuhnya pemerintah Soeharto yang selama 32 tahun hanya berfikir tentang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, dengan tulang punggung para konglomerat yang menjadi kroninya.

Soeharto jatuh bukan karena keinginannya, tetapi dipaksa turun melalui aksi damai ribuan mahasiswa dan masyarakat Indonesia. Dan aksi yang menjatuhkan Soeharto pada 18 tahun yang lalu merupakan puncak dari perlawanan yang sudah dilakukan sebelumnya, sejak awal Soeharto berkuasa. Puncak dari kejenuhan masyarakat terhadap pemerintahan yang otoriter dan koruptif.

Calon Wali Kota Bogor yang juga merupakan Mantan Aktivis Mahasiswa, Bima Arya Sugiarto mengatakan, reformasi yang dahulu diperjuangkan mahasiswa Indonesia pada Mei 1998 kini telah mati muda.

Menurut Politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini, reformasi yang diperjuangkan oleh para mahasiswa pada Mei 98, yakni menuntut pemerintahan yang bersih tidak terwujud sampai saat ini, sehingga perjuangan itu mati sebelum waktunya.

“Korupsi, kolusi dan nepotisme masih terjadi, mungkin dalam berdemokrasi kita bangkit, tetapi pemerintahan yang bersih belum,” kata Bima.

Meski pada saat reformasi, dirinya sedang study di Melbroune Australia, Bima Arya menggalang mahasiswa yang menimba ilmu di Negara itu sebagai wujud simpatik teman-teman di Semanggi, dan setiap saat memantau perkembangan situasi di Tanah Air. Menurut Mantan Senat Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung ini, dari berita-berita yang dibaca saat itu membuat ia menangis karena rumit kondisi kala itu.

Bima Arya juga berharap para mahasiswa dapat mengambil pelajaran dari kisah Mei 1998 untuk membangun bangsa dan negara menjadi lebih baik lagi. “Yang paling utama adalah semangat yang harus dipertahankan. Semangat perubahan, baik mengubah dirinya maupun negaranya menjadi lebih baik. Itulah reformasi,” kata dia.

Calon Wakilnya di Pilwalkot Bogor 2018, Dedie Rachim juga senada. Menurut Mantan Pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, anugerah dari reformasi adalah terbukanya kesempatan bagi publik untuk ambil bagian dalam pesta demokrasi.

“Saya contohnya. Bisa ikut pilkada karena reformasi. Meskipun dalam praktek berdemokrasi masih banyak hal yang harus diperbaiki dan disempurnakan, paling tidak sudah ada beberapa capaian penting khususnya di sektor reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi dan keterbukaan informasi. Ini catatan serius yang menjadi pekerjaan bersama, baik mahasiswa ataupun pemuda,” tandasnya.

reporterpratama/*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Rapat Kerja dengan Dinkukmdagin, Komisi IV DPRD Bogor Fokus Inflasi dan Penguatan UMKM

27 January 2026 - 22:54 WIB

Perkuat Sinergitas, Kapolresta Temui Pimpinan DPRD Kota Bogor

27 January 2026 - 20:08 WIB

Ulang Tahun, Redpem dan PDI-P Gelar Baksos di Pandeglang

18 January 2026 - 22:02 WIB

 Komisi IV DPRD Kota Bogor Bahas Sinergi dan Pembentukan Panja

13 January 2026 - 22:14 WIB

Terima Kunjungan Perkumpulan Penyandang Disabilitas Kota Bogor, Ini Kata Ketua DPRD

8 January 2026 - 22:15 WIB

Trending on Kabar Politik