Menu ✖

Dark Mode
YKI Kota Bogor dan RRI Bogor Perkuat Edukasi Kanker Payudara dan Serviks Pemkot Bogor Tata Nyi Raja Permas, Pedagang Disiapkan Lokasi Usaha yang Lebih Representatif Jelang Pembangunan JPO, Dedie Rachim Minta PKL Jalan MA Salmun Segera Relokasi Tanah Sareal Bakal Ditiru Pakistan Respons Tak Terduga China Setelah Trump Tiba-Tiba Rombak Nama AI Tergerus AI, Deret Jurusan Ini Dihapus dari Kampus-kampus China

Kabar Lifestyle

Buku Pelajaran Perlu Diperbarui, Jupiter Ternyata Lebih Kecil dan Pipih

badge-check


					Foto: Instagram @nasa Perbesar

Foto: Instagram @nasa

Jakarta – Data terbaru dari wahana antariksa Juno menunjukkan bahwa planet Jupiter ternyata lebih kecil dan lebih pipih dibandingkan angka yang selama ini dideskripsikan di buku pelajaran. Temuan ini diperoleh dari pengukuran presisi tinggi saat Juno melakukan pengamatan radio occultation, lalu dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy.

Selama puluhan tahun, ukuran Jupiter didasarkan pada pengukuran di era wahana Pioneer dan Voyager pada 1970-an. Namun, data Juno memungkinkan ilmuwan mengukur radius dan bentuk Jupiter dengan ketelitian yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Hasilnya, jari-jari Jupiter di khatulistiwa kini diperkirakan sekitar 71.488 kilometer, sekitar 4 kilometer lebih kecil dari nilai lama. Sementara dari kutub ke kutub, ukurannya sekitar 66.842 kilometer, atau 12 kilometer lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.

Data ini juga menegaskan Jupiter lebih pipih di kutub daripada yang diasumsikan selama ini. Salah satu penulis studi, Yohai Kaspi, ilmuwan planet dari Weizmann Institute of Science, menekankan dampak temuan tersebut bagi pendidikan dan sains.

“Buku pelajaran perlu diperbarui. Ukuran Jupiter tentu tidak berubah, tetapi cara kita mengukurnya kini jauh lebih akurat,” kata Kaspi seperti dikutip dari Science Alert.

Menurut tim peneliti, pembaruan angka ini bukan sekadar koreksi kecil. Presisi baru membantu memperbaiki model interior Jupiter, memahami pengaruh rotasi cepat terhadap bentuk planet raksasa gas, serta meningkatkan pemahaman tentang pembentukan dan evolusi planet serupa di dalam dan luar Tata Surya.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa bahkan planet yang paling sering dipelajari pun masih bisa memberi kejutan ketika diukur ulang menggunakan teknologi modern.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

YKI Kota Bogor dan RRI Bogor Perkuat Edukasi Kanker Payudara dan Serviks

28 September 2026 - 18:29 WIB

Respons Tak Terduga China Setelah Trump Tiba-Tiba Rombak Nama AI

28 September 2026 - 13:34 WIB

Tergerus AI, Deret Jurusan Ini Dihapus dari Kampus-kampus China

28 September 2026 - 13:29 WIB

Astronom Temukan Bukti Matahari Pernah Makan Planet di Awal Tata Surya

28 September 2026 - 13:25 WIB

Manta Impact Bond Disiapkan untuk Lindungi Pari Manta Raja Ampat

28 September 2026 - 12:54 WIB

Trending on Kabar Lifestyle