Menu

Dark Mode
Program Kerja 2026 Ditetapkan, Pramuka Kota Bogor Makin Tancap Gas Ketua DPRD Adityawarman Adil Apresiasi Sinergi TNI dalam Pembangunan Jembatan Garuda Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah Sidak Pasar Gembrong dan Jambu Dua, Komisi II DPRD Kota Bogor Soroti Kenaikan Harga dan Akses Angkot ​DPRD Kota Bogor dan Disnaker Bahas Persiapan THR, Siapkan Posko Pengaduan Terima Pemuda Al-Irsyad, Adityawarman: Salut untuk Pemuda yang Beraktualisasi di Bidang Sosial

Kabar Lifestyle

Buku Pelajaran Perlu Diperbarui, Jupiter Ternyata Lebih Kecil dan Pipih

badge-check


					Foto: Instagram @nasa Perbesar

Foto: Instagram @nasa

Jakarta – Data terbaru dari wahana antariksa Juno menunjukkan bahwa planet Jupiter ternyata lebih kecil dan lebih pipih dibandingkan angka yang selama ini dideskripsikan di buku pelajaran. Temuan ini diperoleh dari pengukuran presisi tinggi saat Juno melakukan pengamatan radio occultation, lalu dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy.

Selama puluhan tahun, ukuran Jupiter didasarkan pada pengukuran di era wahana Pioneer dan Voyager pada 1970-an. Namun, data Juno memungkinkan ilmuwan mengukur radius dan bentuk Jupiter dengan ketelitian yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Hasilnya, jari-jari Jupiter di khatulistiwa kini diperkirakan sekitar 71.488 kilometer, sekitar 4 kilometer lebih kecil dari nilai lama. Sementara dari kutub ke kutub, ukurannya sekitar 66.842 kilometer, atau 12 kilometer lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.

Data ini juga menegaskan Jupiter lebih pipih di kutub daripada yang diasumsikan selama ini. Salah satu penulis studi, Yohai Kaspi, ilmuwan planet dari Weizmann Institute of Science, menekankan dampak temuan tersebut bagi pendidikan dan sains.

“Buku pelajaran perlu diperbarui. Ukuran Jupiter tentu tidak berubah, tetapi cara kita mengukurnya kini jauh lebih akurat,” kata Kaspi seperti dikutip dari Science Alert.

Menurut tim peneliti, pembaruan angka ini bukan sekadar koreksi kecil. Presisi baru membantu memperbaiki model interior Jupiter, memahami pengaruh rotasi cepat terhadap bentuk planet raksasa gas, serta meningkatkan pemahaman tentang pembentukan dan evolusi planet serupa di dalam dan luar Tata Surya.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa bahkan planet yang paling sering dipelajari pun masih bisa memberi kejutan ketika diukur ulang menggunakan teknologi modern.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah

10 March 2026 - 22:37 WIB

Printer 3D Bambu Lab Resmi Masuk Indonesia

7 March 2026 - 21:26 WIB

Vidi Aldiano Meninggal, Netizen Berduka Cita

7 March 2026 - 21:20 WIB

Senjata AI Ini Jadi Kunci Serangan AS ke Iran, Bisa Hantam 1000 Target

7 March 2026 - 21:16 WIB

AS-Iran Ribut Soal Nuklir, Bill Gates Malah Bangun Reaktor

7 March 2026 - 21:13 WIB

Trending on Kabar Lifestyle