Menu

Dark Mode
Waspada Firmware Router Kena Serangan Siber, Bisa Berujung Bobol Akun Perairan di Papua Viral Dipenuhi Batu Apung, Ini Penjelasan BMKG Bos Valve Buat Kapal Rp 14,6 Triliun, Mau Ungkap Misteri Lautan Ngeri! Ratusan Ular Termasuk Kobra Lepas Akibat Banjir di China Ratusan Satelit Starlink Dibakar SpaceX di Atmosfer, Picu Kekhawatiran Disidak Satpol PP, Pengelola Teras Nona Manis dan Tipzy Bears Beberkan Kronologi

Kabar Lifestyle

Buku Pelajaran Perlu Diperbarui, Jupiter Ternyata Lebih Kecil dan Pipih

badge-check


					Foto: Instagram @nasa Perbesar

Foto: Instagram @nasa

Jakarta – Data terbaru dari wahana antariksa Juno menunjukkan bahwa planet Jupiter ternyata lebih kecil dan lebih pipih dibandingkan angka yang selama ini dideskripsikan di buku pelajaran. Temuan ini diperoleh dari pengukuran presisi tinggi saat Juno melakukan pengamatan radio occultation, lalu dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy.

Selama puluhan tahun, ukuran Jupiter didasarkan pada pengukuran di era wahana Pioneer dan Voyager pada 1970-an. Namun, data Juno memungkinkan ilmuwan mengukur radius dan bentuk Jupiter dengan ketelitian yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Hasilnya, jari-jari Jupiter di khatulistiwa kini diperkirakan sekitar 71.488 kilometer, sekitar 4 kilometer lebih kecil dari nilai lama. Sementara dari kutub ke kutub, ukurannya sekitar 66.842 kilometer, atau 12 kilometer lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.

Data ini juga menegaskan Jupiter lebih pipih di kutub daripada yang diasumsikan selama ini. Salah satu penulis studi, Yohai Kaspi, ilmuwan planet dari Weizmann Institute of Science, menekankan dampak temuan tersebut bagi pendidikan dan sains.

“Buku pelajaran perlu diperbarui. Ukuran Jupiter tentu tidak berubah, tetapi cara kita mengukurnya kini jauh lebih akurat,” kata Kaspi seperti dikutip dari Science Alert.

Menurut tim peneliti, pembaruan angka ini bukan sekadar koreksi kecil. Presisi baru membantu memperbaiki model interior Jupiter, memahami pengaruh rotasi cepat terhadap bentuk planet raksasa gas, serta meningkatkan pemahaman tentang pembentukan dan evolusi planet serupa di dalam dan luar Tata Surya.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa bahkan planet yang paling sering dipelajari pun masih bisa memberi kejutan ketika diukur ulang menggunakan teknologi modern.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Waspada Firmware Router Kena Serangan Siber, Bisa Berujung Bobol Akun

9 July 2026 - 18:25 WIB

Perairan di Papua Viral Dipenuhi Batu Apung, Ini Penjelasan BMKG

9 July 2026 - 18:22 WIB

Bos Valve Buat Kapal Rp 14,6 Triliun, Mau Ungkap Misteri Lautan

9 July 2026 - 18:14 WIB

Ngeri! Ratusan Ular Termasuk Kobra Lepas Akibat Banjir di China

9 July 2026 - 18:12 WIB

Ratusan Satelit Starlink Dibakar SpaceX di Atmosfer, Picu Kekhawatiran

9 July 2026 - 18:06 WIB

Trending on Kabar Lifestyle