Menu

Dark Mode
Usai Deepseek, Perusahaan China Ini Kejutkan Industri AI Inggris Terancam Krisis Air Imbas Pembangunan Data Center Komdigi Tetapkan Telkomsel, XLSmart, Indosat Pemenang Lelang Frekuensi Jutaan Satelit Akan Keliling Bumi Seperti Cincin Saturnus, Mimpi Buruk Bagi Astronomi Orang NPD Bisa Dilihat dari Alis Seseorang, Begini Cirinya Ide Tak Biasa, Ilmuwan Usul Matahari Diredupkan untuk Redam El Nino

Kabar Lifestyle

Ratusan Satelit Starlink Dibakar SpaceX di Atmosfer, Picu Kekhawatiran

badge-check


					Ilustrasi satelit. (Foto: Getty Images/iStockphoto/NiseriN) Perbesar

Ilustrasi satelit. (Foto: Getty Images/iStockphoto/NiseriN)

SpaceX secara rutin memensiunkan dan menghancurkan satelit Starlink miliknya seiring dengan upaya peningkatan jaringan global mereka.

Dokumen terbaru yang diserahkan kepada Komisi Komunikasi Federal AS (FCC) mengungkap tingginya frekuensi pemusnahan ini: sebanyak 260 satelit telah diturunkan dari orbitnya (deorbit) hanya dalam rentang waktu Desember 2025 hingga Mei 2026.

Sebagian besar dari satelit yang dihancurkan tersebut–tepatnya 176 unit–merupakan model generasi pertama, sementara sisanya adalah generasi yang lebih baru. Dalam periode enam bulan yang sama, SpaceX juga telah menonaktifkan 349 satelit tambahan yang kini tengah menunggu giliran untuk dimusnahkan dalam waktu dekat.

Siklus Hidup Pendek dan Pembakaran Terkendali
Proses pemusnahan ini merupakan bagian dari siklus operasional yang disengaja. Satelit Starlink dirancang hanya memiliki umur pakai sekitar lima tahun, sebelum akhirnya digantikan oleh model-model terbaru, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (9/7/2026).

Ketika sebuah satelit mencapai akhir masa pakainya dan kehabisan bahan bakar, sistem akan menggunakan sisa propelan untuk menurunkan orbitnya hingga masuk kembali ke atmosfer Bumi. Satelit-satelit ini dirancang sedemikian rupa agar terbakar dan hancur sepenuhnya selama proses penurunan tersebut.

Mengingat Starlink kini memiliki lebih dari 10.000 satelit yang mengorbit, perputaran unit telah menjadi rutinitas harian. Membawa rongsokan satelit ini kembali ke Bumi dengan utuh bukanlah pilihan yang realistis maupun ekonomis. Sebagai gambaran, satelit generasi pertama memiliki bobot 259 hingga 294 kg, sementara generasi kedua bisa mencapai 800 hingga 1.250 kg.

Ambisi Komputasi Orbital dan Pabrik Raksasa
Rotasi dan penggantian satelit yang konstan ini menunjukkan agresivitas SpaceX dalam memperbarui perangkat keras jaringannya. Perusahaan milik Elon Musk ini tengah mempersiapkan satelit berkapasitas lebih tinggi untuk layanan baru, termasuk Starlink Mobile yang dirancang untuk terkoneksi langsung ke ponsel pintar. Mereka juga berencana meluncurkan satelit komputasi orbital mutakhir berjuluk A1 dengan muatan komputasi sebesar 120 kW.

Untuk menyokong ekspansi gila-gilaan tersebut, SpaceX saat ini tengah membangun fasilitas manufaktur raksasa seluas 1 juta meter persegi demi memproduksi satelit dalam skala masif. Pabrik ini ditargetkan mampu mendukung kapasitas komputasi orbital sekitar 1 Gigawatt per tahun pada akhir 2027.

Konstelasi Starlink diproyeksikan akan terus membengkak. SpaceX berencana meluncurkan hingga 42.000 satelit ke orbit rendah Bumi (LEO) dan baru saja mendapat lampu hijau dari FCC pada Januari lalu untuk meluncurkan 7.500 satelit generasi kedua tambahan.

Ancaman Lingkungan dan Regulasi yang Longgar
Di balik pencapaian teknologinya, laju pembuangan satelit SpaceX mulai memicu kekhawatiran serius. Meskipun SpaceX mengklaim bahwa satelitnya hancur sepenuhnya tanpa meninggalkan puing antariksa, para peneliti mulai menyalakan alarm tanda bahaya mengenai dampak pembakaran material logam berat secara berulang-ulang terhadap komposisi atmosfer Bumi. Tuntutan untuk melakukan studi lingkungan yang lebih mendalam serta penerapan regulasi yang lebih ketat pun kian menguat.

Namun, hingga saat ini, industri satelit masih menikmati keistimewaan berupa pembebasan dari tinjauan lingkungan. Secara historis, FCC menghindari penerapan syarat tersebut dengan dalih tidak ingin menghambat perkembangan industri luar angkasa AS.

Bukannya memperketat aturan, FCC saat ini justru tengah mempertimbangkan sebuah proposal untuk secara resmi mengecualikan operasi berbasis ruang angkasa dari tinjauan Undang-Undang Kebijakan Lingkungan Nasional.

FCC berargumen bahwa aktivitas orbit tersebut merupakan kegiatan ekstrateritorial yang dampaknya berada sepenuhnya di luar yurisdiksi Amerika Serikat. Keputusan terkait proposal ini dilaporkan masih berstatus belum disetujui.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Usai Deepseek, Perusahaan China Ini Kejutkan Industri AI

21 July 2026 - 21:03 WIB

Inggris Terancam Krisis Air Imbas Pembangunan Data Center

21 July 2026 - 20:59 WIB

Komdigi Tetapkan Telkomsel, XLSmart, Indosat Pemenang Lelang Frekuensi

21 July 2026 - 20:55 WIB

Jutaan Satelit Akan Keliling Bumi Seperti Cincin Saturnus, Mimpi Buruk Bagi Astronomi

21 July 2026 - 20:52 WIB

Orang NPD Bisa Dilihat dari Alis Seseorang, Begini Cirinya

21 July 2026 - 20:46 WIB

Trending on Kabar Lifestyle