Pria Ini Dijuluki Tokoh Sepak Bola Modern Indonesia

Sepak bola Indonesia pernah mengalami zaman keemasan di kancah internasional era 1950-an. Pada masa itu, timnas Indonesia berhasil menorehkan sejumlah pencapaian membanggakan, seperti menembus semifinal Asian Games 1954 Manila hingga meraih medali perunggu Asian Games 1958 Tokyo.
Dan tentunya, ada banyak tokoh yang berperan penting dan berkontribusi besar dalam masa keemasan sepak bola Indonesia kala itu. Salah satunya adalah Antun “Toni” Pogacnik.
Dalam bukunya yang berjudul Sepak Bola Indonesia, Kadir Jusuf, tak segan menganggap Pogacnik sebagai bapak sepak bola modern Indonesia. Tidak berlebihan, karena pada kenyataannya Pogaknik adalah orang pertama yang meletakkan dasar permainan sepak bola modern di Indonesia.
Kala itu Pogacnik ditunjuk sebagai pelatih timnas Indonesia pada Februari 1954. Dia datang dengan segudang pengalaman mumpuni. Saat masih aktif bermain, Pogacnik pernah membela timnas Yugoslavia dan Kroasia.
Karier kepelatihannya pun tak bisa dipandang remeh. Sebelum membesut timnas Indonesia, Pogacnik terlebih dahulu menangani Metalac Zagreb dan FK Partizan.
Memiliki reputasi dan pengalaman mumpuni di kancah sepak bola Eropa tak membuat Pogacnik pongah. Sebaliknya, dia dikenal sebagai sosok yang bersahaja. Dalam melatih, Pogacnik tak segan turun langsung ke lapangan untuk “mengajari” anak asuhnya memahami dasar-dasar permainan sepak bola.
Dalam pandangan Pogacnik, Indonesia memiliki banyak talenta pesepak bola luar biasa. Bahkan, Pogacnik pun terkesan dengan semangat dan etos kerja pesepak bola Indonesia. Sayangnya, kedua hal tersebut belum ditunjang dengan pemahaman yang baik soal teknik dasar permainan sepak bola.
Maka, tugas pertama Pogacnik saat menangani timnas Indonesia adalah melatih dan memberikan pemahaman kepada para pemainnya terkait teknik dasar permainan sepak bola. Hasilnya, Pogacnik mampu membentuk skuad yang dihuni pemain-pemain yang mumpuni bersaing di pentas internasional.
Dari segi taktik dan strategi permainan, agak sulit memang untuk membaca dan menerka pola permainan baku Pogacnik. Sebab, Pogacnik bukanlah tipikal pelatih yang menganut paham atau filosofi permainan tertentu.
Hal tersebut tak lepas dari kebiasaan Pogacnik untuk mencari tahu kekuatan dan kelemahan calon lawannya. Setelah mengetahui kedua hal tersebut, barulah Pogacnik meramu strategi yang akan diterapkan timnya saat bertanding.
Dalam buku Sepak Bola Indonesia diceritakan, sebelum Indonesia tampil dalam Olimpiade Melbourne 1956, Pogacnik membawa skuad Indonesia melakukan pemusatan latihan di sejumlah negara Eropa Timur, seperti Uni Soviet, Jerman Timur, Yugoslavia, dan Ceko.
Pemusatan latihan dilakukan untuk mematangkan persiapan Ramang dkk. Tibalah ketika akhirnya mereka tampil di Olimpiade Melbourne 1956. Laju Indonesia dalam ajang tersebut terbilang mulus, setelah mampu melewati Vietnam, Indonesia bersua Uni Soviet.
Penggemblengan di Eropa Timur menjadi bekal berharga Indonesia saat menghadapi Uni Soviet. Hasilnya, Indonesia bisa memaksa Uni Soviet mengakhiri pertandingan dengan skor imbang. Pada saat itu, belum dikenal sistem perpanjangan waktu atau adu penalti.
Karena itu, untuk mendapatkan pemenang dalam laga yang berakhir imbang dalam fase gugur, harus ditentukan dengan pertandingan ulangan. Sayangnya, Indonesia gagal melanjutkan kegemilangannya pada pertandingan kedua melawan Soviet. Indonesia dihantam habis 0-4 oleh Soviet.
Meski begitu, kinerja para pemain Indonesia saat itu tetap menuai pujian. Tentu saja, kegeniusan Pogacnik dalam merancang permainan Indonesia pun tak luput dari apresiasi publik.
Kegemilangan Indonesia berlanjut dalam Asian Games 1958, dalam ajang tersebut, medali perunggu cabang olahraga sepak bola bisa dibawa pulang timnas Indonesia.

Menangis karena pemain terlibat suap

Setelah pencapaian tersebut, Indonesia pun menargetkan medali emas dalam Asian Games 1962. Indonesia sangat percaya diri dengan target tersebut. Selain karena memiliki materi pemain berkualitas, Asian Games 1962 pun akan digelar di Jakarta.


Sayangnya, target gagal dicapai, tampil di hadapan pendukung sendiri Indonesia malah tampil tanpa gairah. Jangankan untuk meraih medali emas, kiprah Indonesia sudah rontok di fase grup.
Kegagalan Indonesia di Asian Games 1962 disebut-sebut disebabkan adanya kasus suap yang melibatkan sejumlah pemain saat itu. Pada kemudian hari, tragedi kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia pun dikenal dengan nama “Skandal Senayan 1962”.
Peristiwa tersebut terjadi saat timnas Indonesia tengah melakukan persiapan sebelum tampil dalam Asian Games 1962. Usut punya usut, keterlibatan para pemain dalam kasus suap tersebut dilatarbelakangi faktor ekonomi. Pada saat itu, penghasilan dari bermain sepak bola tidak sebesar sekarang.
Perasaan Pogacnik tentu hancur tidak keruan mendengar kabar pemainnya terlibat dalam skandal suap. Menurut sejumlah laporan, Pogacnik sampai menangis ketika menjenguk para pemainnya yang terlibat skandal suap itu di penjara.
Skandal suap 1962 membuat Pogacnik tak lagi memiliki gairah untuk melatih timnas Indonesia. Usai Asian Games 1962, Pogacnik sempat mengajukan mundur. Akan tetapi, tidak disetujui oleh Presiden Soekarno.
Akan tetapi, setahun kemudian, Pogacnik benar-benar mundur karena mengalami masalah di bagian lututnya.
Pogacnik pun meninggal dunia pada Mei 1978. Jasa-jasa Pogacnik dalam mengangkat prestasi timnas Indonesia memang layak mendapatkan penghargaan. Meski demikian, satu hal yang agak disesali adalah Pogacnik belum sempat merumuskan pola permainan yang cocok bagi sepak bola Indonesia.
Meski begitu, dalam buku Sepak Bola Indonesia diceritakan bahwa pada satu kesempatan Pogacnik pernah berpendapat mengenai pandangannya soal sepak bola Indonesia.
Saat itu, Pogacnik amat menekankan soal proses pembinaan hingga kecakapan pelatih yang harus bisa memanfaatkan potensi pemain Indonesia yang rata-rata memiliki kelincahan dan unggul dalam start pendek.

Sumber: Kompas.com
Foto: wikipedija
Editor: Adi Kurniawan

print

You may also like...