Menu

Dark Mode
Gara-gara Debu Krakatau, Pelajar di Bogor Belajar Daring Harpelnas 2026, BPJS Ketenagakerjaan Hadir Lebih Dekat untuk Melayani, Melindungi, dan Memberdayakan Pekerja PWI Jabar Kecam Oknum Wartawan Ngamuk di SDN 2 Sukaraja Dari Haornas Menuju Tuan Rumah Porprov XV Jabar 2026 Dedie Rachim Bersama DPRD Kota Bogor Serahkan Ijazah bagi Pelajar Prasejahtera ​DPRD Kota Bogor Dukung Inovasi Digitalisasi Adminduk di Gebyar Dukcapil Family Fest 2026

Kabar Lifestyle

Satelit NASA Ungkap Tembok Hijau China Menjinakkan Gurun

badge-check


					Satelit NASA Ungkap Tembok Hijau China Menjinakkan Gurun (Foto: VWC News) Perbesar

Satelit NASA Ungkap Tembok Hijau China Menjinakkan Gurun (Foto: VWC News)

Upaya China menghijaukan wilayah kering mulai menunjukkan hasil nyata. Program besar yang dikenal sebagai ‘Tembok Hijau’ kini terbukti mampu memperlambat laju penyebaran gurun, berdasarkan pengamatan terbaru dari satelit NASA.

Proyek yang secara resmi bernama Three-North Shelterbelt Program ini sudah dimulai sejak 1978. Tujuannya adalah menahan ekspansi gurun besar seperti Gobi dan Taklamakan yang terus mengancam permukiman dan lahan pertanian di wilayah utara China.

Selama puluhan tahun, China menanam miliaran pohon untuk membentuk sabuk hijau raksasa yang berfungsi sebagai penghalang alami. Vegetasi ini membantu mengurangi dampak angin pembawa pasir, menekan badai debu, serta menjaga kestabilan tanah di kawasan rawan desertifikasi.

ikutip dari VWC News, data dari satelit menunjukkan perubahan signifikan di sejumlah wilayah yang sebelumnya tandus. Kini, area tersebut mulai ditumbuhi vegetasi dan menunjukkan peningkatan aktivitas biologis, termasuk proses fotosintesis.

Menariknya, para ilmuwan juga menemukan bahwa kawasan yang telah dihijaukan mulai berfungsi sebagai penyerap karbon alami. Artinya, selain menahan gurun, proyek ini juga berkontribusi dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Salah satu peneliti yang terlibat dalam studi ini menilai temuan tersebut sebagai bukti penting bahwa intervensi manusia bisa berdampak besar terhadap lingkungan, bahkan di wilayah ekstrem.

“Untuk pertama kalinya kami menemukan bahwa intervensi manusia dapat meningkatkan penyerapan karbon bahkan di lanskap kering ekstrem,” ujar Yuk Yung, profesor ilmu planet di California Institute of Technology sekaligus peneliti senior di NASA Jet Propulsion Laboratory.

Proyek Tembok Hijau ini dirancang membentang ribuan kilometer dan diproyeksikan mencapai panjang sekitar 4.500 kilometer saat selesai.

Meski demikian, tantangan tetap ada. Beberapa wilayah mengalami tingkat kegagalan tanaman yang cukup tinggi akibat kondisi tanah yang sangat kering. Selain itu, penggunaan jenis pohon yang kurang beragam juga dinilai berisiko terhadap ketahanan ekosistem dalam jangka panjang.

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, proyek ini tetap dianggap sebagai salah satu eksperimen rekayasa lingkungan terbesar di dunia. Jika terus berhasil, pendekatan ini bisa menjadi contoh global dalam menghadapi ancaman desertifikasi yang semakin meluas.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Netizen Soroti Jalanan Jakarta Sepi Hari Ini

27 August 2026 - 13:23 WIB

Banjir Seram Nepal, Pakar Soroti Potensi ‘Bom Air’ dari Proyek ChinaBanjir Seram Nepal, Pakar Soroti Potensi ‘Bom Air’ dari Proyek China

27 August 2026 - 13:19 WIB

Demo 27 Agustus Ramai di Jagat Maya, Netizen Soroti Beragam Hal

27 August 2026 - 13:15 WIB

Mengenal Fitur Telepon AI Hasil Kerja Sama Indosat dan Huawei

27 August 2026 - 13:11 WIB

Demo 27 Agustus, Komdigi Ingatkan Warga Tidak Sebar Kebencian di Medsos

27 August 2026 - 13:07 WIB

Trending on Kabar Lifestyle