Perumda PPJ Bantah Pungli Pedagang Teras Surken

Beredarnya isu adanya dugaan pungutan liar (pungli) di teras Suryakencana (Surken) yang diresmikan Wali Kota Bogor Bima Arya beberapa waktu lalu, direspon  Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor. PPJ pun membantah dugaan pungli tersebut. Bahkan Direksi Perumda PPJ Kota Bogor akan melakukan pelaporan apabila pedagang yang dirugikan akibat pungli tersebut siap menjadi saksi utama.

“Kami akan mengklarifikasi terkait adanya pungli diteras Surken, kami sudah turun ke lapangan dan bisa kami buktikan tim internal Perumda PPJ tidak ada yang terlibat pungli tersebut. Tidak ada yang memungut biaya serupiahpun kepada pedagang,” kata Direktur Utama (Dirut) Perumda PPJ Muzakkir, Selasa (23/2/2021).

Muzakkir menambahkan, diawal pembukaan dirinya selalu menyampaikan, untuk masuk ke teras Surken tidak dipungut biaya apapun atau gratis. Jadi pedagang hanya membawa alat untuk berjualan di sana.

“Yang kena pungli itu bisa disebut kena penipuan, ada oknum yang meminta uang dengan menjanjikan bisa berjualan di teras surken. Kami coba cek ke salah satu pedagang, memang ada penjual di sana  yang membayar sebesar Rp18 juta. Pedagang itu dijanjikan bisa mendapatkan tempat di teras surken, tapi hal itu terjadi sebelum pedagang tersebut mendapat tempat,” tambah Muzakkir yang didampingi Direktur Umum (Dirum) Jenal Abidin dan Direktur Operasional (Dirops) Deni Aribowo.

Muzakkir juga memaparkan, pihaknya sudah menginformasikan jauh-jauh hari kalau masuk ke teras Surken di utamakan pedagang kuliner di Surken, UMKM, dan kuliner legend. Dengan catatan didalam teras Surken tidak ada makanan yang sama variannya.

“Sehingga dengan adanya pemberitaan di beberapa media massa, sesuai intruksi pimpinan kami akan proses kasus itu dengan melapor kepada polisi agar ada efek jera terhadap oknum tersebut,” paparnya.

Muzakkir juga mengaku, pihaknya sempat bicara dengan pedagang yang terkena pungli itu, dia bercwrita memang ada pungli tersebut, tapi bukan saat berdagang di teras Surken. Tetapi ketika kami bilang akan diproses pedagang ada rasa ketakutan dari korban, sehingga pedagang yang menjadi korban tersebut tidak mau jadi saksi.

“Ini perlu pembuktian, karena jika ingin berjualan di sana versi si pedagang yang menjadi korban harus ada pembayaran. Tetapi ketika dia berjualan, ternyata mendapat informasi dari pedagang lain tidak dipungut biaya sepeserpun. Untuk teras Surken ini memang kami mengedepankan sosial untuk membantu UMKM dan pedang kecil karena dari bagi hasil yang kami dapat sebesar 20 persen, belum bisa menutupi operasional. Meski begitu kami tidak menyerah dan tetap memperjuangkan teras Surken ini,” pungkasnya.

penulis pratama

editor aldho herman

print

You may also like...

Leave a Reply