Menu

Dark Mode
Harpelnas 2026, BPJS Ketenagakerjaan Hadir Lebih Dekat untuk Melayani, Melindungi, dan Memberdayakan Pekerja PWI Jabar Kecam Oknum Wartawan Ngamuk di SDN 2 Sukaraja Dari Haornas Menuju Tuan Rumah Porprov XV Jabar 2026 Dedie Rachim Bersama DPRD Kota Bogor Serahkan Ijazah bagi Pelajar Prasejahtera ​DPRD Kota Bogor Dukung Inovasi Digitalisasi Adminduk di Gebyar Dukcapil Family Fest 2026 YKI Kota Bogor Gaungkan Kepedulian Bersama dan Rencana Pembangunan Rumah Sahabat Kanker

Kabar Lifestyle

Pakar Peringatkan Wabah Ebola di Afrika Bisa Jadi Mimpi Buruk

badge-check


					Pakar Peringatkan Wabah Ebola di Afrika Bisa Jadi Mimpi Buruk (Foto: REUTERS/Arlette Bashizi)
Perbesar

Pakar Peringatkan Wabah Ebola di Afrika Bisa Jadi Mimpi Buruk (Foto: REUTERS/Arlette Bashizi)

Wabah Ebola di Afrika Tengah ditetapkan sebagai “kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia” (public health emergency of international concern) oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hingga 22 Mei, lebih dari 800 kasus Ebola dilaporkan di Republik Demokratik Kongo (DRC), termasuk lebih dari 180 kematian. Selain itu, terdapat dua kasus terkonfirmasi dan satu kematian di Uganda, khususnya pada individu yang baru saja bepergian ke DRC.

Wabah Ebola Saat Ini
Pejabat WHO mencurigai wabah Ebola di DRC mungkin dimulai sekitar dua bulan lalu. Dugaan kematian pertama terjadi pada 20 April dan kemungkinan disusul peristiwa penularan super di sebuah acara pemakaman atau fasilitas kesehatan.

Virus Ebola atau Zaire ebolavirus adalah penyebab umum di balik berbagai wabah dan kematian akibat penyakit Ebola. Terdapat dua virus lain yang diketahui memicunya yaitu: virus Sudan dan virus Bundibugyo. Virus terakhir yang memicu wabah saat ini.

Wabah ini sebagian besar terkonsentrasi di DRC. Kendati demikian, WHO mengantisipasi risiko tinggi penyebaran lintas negara. “Menurut pandangan kami, skala dan kecepatan epidemi ini menuntut tindakan mendesak,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.

Tidak ada vaksin efektif virus Bundibugyo walau terdapat vaksin Ebola yang disetujui. “Namun, vaksin tersebut khusus Zaire ebolavirus yang secara historis memicu wabah lebih banyak dibanding virus Bundibugyo,” kata Dr. Madeline DiLorenzo dari Tisch Hospital, New York University (NYU) Langone.

Zaire ebolavirus dan virus Bundibugyo secara genetik berbeda, hanya berbagi sekitar 60% hingga 70% materi genetik. Maka vaksin yang menargetkan virus Zaire kemungkinan takkan banyak membantu.

Kurangnya Diagnostik
Penyakit Ebola bisa sulit dideteksi pada tahap awal karena gejala pertamanya cukup umum seperti demam dan sakit tenggorokan. Gejalanya muncul dua hingga 21 hari setelah terpapar.

Terdapat tes untuk virus Bundibugyo, dikenal sebagai tes PCR. “Namun, tes ini tidak tersedia luas untuk virus Bundibugyo, sehingga menyulitkan diagnosis dan akhirnya menghambat penanggulangan,” ungkap Dr. Jill Weatherhea dari Baylor College of Medicine, kepada Live Science yang dikutip detikINET.

Bahkan ketika tes tersedia, dibutuhkan waktu beberapa hari setelah pasien mengalami gejala agar virus dapat terdeteksi dalam darah, sehingga pengujian ulang mungkin perlu dilakukan.

Selain tantangan diagnostik, tidak ada perawatan antivirus spesifik untuk virus Bundibugyo. Memang ada antibodi laboratorium yang disetujui untuk Zaire ebolavirus tapi perawatan serupa untuk virus Bundibugyo belum berkembang.

Konflik dan Penurunan Bantuan
Di tengah ketiadaan vaksin dan perawatan medis, strategi seperti mengarantina orang terinfeksi menjadi penting. Dokter yang merawat juga diwajibkan mengikuti protokol ketat. Ebola menyebar melalui kontak dengan darah dan cairan tubuh lainnya yang terinfeksi, serta melalui permukaan benda atau bahan terkontaminasi.

Sayangnya, infrastruktur kesehatan di DRC kini lumpuh. Episentrum wabah ini adalah provinsi Ituri yang dilanda konflik bersenjata beberapa dekade, sehingga sistem kesehatannya lemah.

Pemotongan bantuan asing membuat situasi memburuk. “USAID dulu donor utama DRC dan banyak organisasi kemanusiaan mengandalkan dananya guna memberi dukungan vital di negara yang hancur oleh konflik itu. Saat program USAID dihentikan tahun lalu, kawasan timur DRC kehilangan sekitar 70% bantuan kemanusiaan,” sebut Dr. Manenji Mangundu, direktur Oxfam untuk DRC.

Dalam situasi semacam ini, bisa sulit meyakinkan masyarakat agar bersedia menerapkan standar keselamatan guna menekan penyebaran Ebola. Maka, respons komunitas internasional akan menentukan.

“Kita benar-benar harus menyalurkan dana bantuan kemanusiaan serta memberikan sokongan moral penuh kepada rakyat DRC pada momentum kritis ini, sebelum sebuah krisis yang seharusnya dapat dicegah berubah wujud menjadi bencana mengerikan berskala global,” cetus Mangundu.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Netizen Soroti Jalanan Jakarta Sepi Hari Ini

27 August 2026 - 13:23 WIB

Banjir Seram Nepal, Pakar Soroti Potensi ‘Bom Air’ dari Proyek ChinaBanjir Seram Nepal, Pakar Soroti Potensi ‘Bom Air’ dari Proyek China

27 August 2026 - 13:19 WIB

Demo 27 Agustus Ramai di Jagat Maya, Netizen Soroti Beragam Hal

27 August 2026 - 13:15 WIB

Mengenal Fitur Telepon AI Hasil Kerja Sama Indosat dan Huawei

27 August 2026 - 13:11 WIB

Demo 27 Agustus, Komdigi Ingatkan Warga Tidak Sebar Kebencian di Medsos

27 August 2026 - 13:07 WIB

Trending on Kabar Lifestyle