Menu

Dark Mode
Gara-gara Debu Krakatau, Pelajar di Bogor Belajar Daring Harpelnas 2026, BPJS Ketenagakerjaan Hadir Lebih Dekat untuk Melayani, Melindungi, dan Memberdayakan Pekerja PWI Jabar Kecam Oknum Wartawan Ngamuk di SDN 2 Sukaraja Dari Haornas Menuju Tuan Rumah Porprov XV Jabar 2026 Dedie Rachim Bersama DPRD Kota Bogor Serahkan Ijazah bagi Pelajar Prasejahtera ​DPRD Kota Bogor Dukung Inovasi Digitalisasi Adminduk di Gebyar Dukcapil Family Fest 2026

Kabar Lifestyle

Nilai Tukar Rupiah Sampai Rp 17.500, Pengusaha Satelit RI Kian Tertekan

badge-check


					Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro. (Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET) Perbesar

Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro. (Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET)

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp17.500 dinilai mulai memberi tekanan serius terhadap industri satelit nasional.

Sebagai informasi, pelaku industri satelit dalam nasional saat ini sebagian besar pembiayaan satelit dan infrastruktur pendukung masih bergantung pada mata uang asing. Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, mengatakan pelemahan rupiah secara langsung memengaruhi profitabilitas operator satelit di Indonesia.

“Nilai tukar pasti yang pertama mempengaruhi, karena satelit maupun ground segment mayoritas menggunakan mata uang asing,” ujar Risdianto di acara Asia Pacific Satellite Conference 2026, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Risdianto menjelaskan bahwa kenaikan dolar AS membuat beban operasional dan investasi industri semakin berat karena sebagian besar kebutuhan teknologi satelit masih bergantung pada impor. Selain menekan profitabilitas, pelemahan rupiah juga disebut dapat memperlambat ekspansi operator lokal.

“Peningkatan nilai tukar itu juga akan menekan ekspansi dari lokal operator,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro, menilai kondisi nilai rupiah yang terus melemah turut mempersulit akses pendanaan industri. “Pendanaan otomatis akan jadi makin sulit karena uang yang beredar di dalam negeri makin sedikit,” kata Sigit.

Meski demikian, Sigit melihat pelemahan rupiah tidak bisa menjadi momentum untuk memperkuat industri lokal dan meningkatkan orientasi ekspor nasional.

“Kalau dolar naik, yang paling bagus sebenarnya sektor ekspor. Karena biaya produksi kita rupiah, tapi pendapatannya dolar,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terpuruk dan kini menembus Rp 17.500-an hari ini. Kondisi ini menjadi nilai tukar dengan titik terendah sepanjang masa.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mulai besok akan membantu Bank Indonesia (BI) untuk mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Netizen Soroti Jalanan Jakarta Sepi Hari Ini

27 August 2026 - 13:23 WIB

Banjir Seram Nepal, Pakar Soroti Potensi ‘Bom Air’ dari Proyek ChinaBanjir Seram Nepal, Pakar Soroti Potensi ‘Bom Air’ dari Proyek China

27 August 2026 - 13:19 WIB

Demo 27 Agustus Ramai di Jagat Maya, Netizen Soroti Beragam Hal

27 August 2026 - 13:15 WIB

Mengenal Fitur Telepon AI Hasil Kerja Sama Indosat dan Huawei

27 August 2026 - 13:11 WIB

Demo 27 Agustus, Komdigi Ingatkan Warga Tidak Sebar Kebencian di Medsos

27 August 2026 - 13:07 WIB

Trending on Kabar Lifestyle