Menu

Dark Mode
Program JKN Makin Kuat, Cetak SDM Sehat untuk Indonesia Hebat NASA Berencana Bangun Pangkalan di Bulan, Modalnya Rp538 T Daftar Daerah Berpotensi Terdampak El Nino, Hujan Makin Jarang Sony Setop Rilis Game Fisik PlayStation Mulai 2028, Wajib Beli Digital Pertama Kalinya, Ilmuwan Berhasil Ciptakan Sel dari Nol Wamenkomdigi: Kerugian Scam dan Spam Tembus Rp7,5 Triliun

Kabar Lifestyle

Nilai Tukar Rupiah Sampai Rp 17.500, Pengusaha Satelit RI Kian Tertekan

badge-check


					Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro. (Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET) Perbesar

Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro. (Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET)

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp17.500 dinilai mulai memberi tekanan serius terhadap industri satelit nasional.

Sebagai informasi, pelaku industri satelit dalam nasional saat ini sebagian besar pembiayaan satelit dan infrastruktur pendukung masih bergantung pada mata uang asing. Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, mengatakan pelemahan rupiah secara langsung memengaruhi profitabilitas operator satelit di Indonesia.

“Nilai tukar pasti yang pertama mempengaruhi, karena satelit maupun ground segment mayoritas menggunakan mata uang asing,” ujar Risdianto di acara Asia Pacific Satellite Conference 2026, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Risdianto menjelaskan bahwa kenaikan dolar AS membuat beban operasional dan investasi industri semakin berat karena sebagian besar kebutuhan teknologi satelit masih bergantung pada impor. Selain menekan profitabilitas, pelemahan rupiah juga disebut dapat memperlambat ekspansi operator lokal.

“Peningkatan nilai tukar itu juga akan menekan ekspansi dari lokal operator,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro, menilai kondisi nilai rupiah yang terus melemah turut mempersulit akses pendanaan industri. “Pendanaan otomatis akan jadi makin sulit karena uang yang beredar di dalam negeri makin sedikit,” kata Sigit.

Meski demikian, Sigit melihat pelemahan rupiah tidak bisa menjadi momentum untuk memperkuat industri lokal dan meningkatkan orientasi ekspor nasional.

“Kalau dolar naik, yang paling bagus sebenarnya sektor ekspor. Karena biaya produksi kita rupiah, tapi pendapatannya dolar,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terpuruk dan kini menembus Rp 17.500-an hari ini. Kondisi ini menjadi nilai tukar dengan titik terendah sepanjang masa.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mulai besok akan membantu Bank Indonesia (BI) untuk mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

NASA Berencana Bangun Pangkalan di Bulan, Modalnya Rp538 T

2 July 2026 - 13:33 WIB

Daftar Daerah Berpotensi Terdampak El Nino, Hujan Makin Jarang

2 July 2026 - 13:29 WIB

Sony Setop Rilis Game Fisik PlayStation Mulai 2028, Wajib Beli Digital

2 July 2026 - 13:25 WIB

Pertama Kalinya, Ilmuwan Berhasil Ciptakan Sel dari Nol

2 July 2026 - 13:22 WIB

Wamenkomdigi: Kerugian Scam dan Spam Tembus Rp7,5 Triliun

2 July 2026 - 13:19 WIB

Trending on Kabar Lifestyle