Menu

Dark Mode
Waspada Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau, BMKG Ungkap Penyebabnya Mata Melotot Bisa Jadi Tanda Tiroid, Kenali Gejalanya SpaceX Mau Mega IPO, Kekayaan Elon Musk Makin Nggak Ngotak Google Rilis Fitur Deteksi Telepon Palsu di Android Bos Raksasa AI Malah Peringatkan Teknologinya Berbahaya Dollar Tembus Rp 18 Ribu, Masyarakat Bersuara: Udah 18K!

Kabar Lifestyle

Nilai Tukar Rupiah Sampai Rp 17.500, Pengusaha Satelit RI Kian Tertekan

badge-check


					Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro. (Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET) Perbesar

Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro. (Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET)

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp17.500 dinilai mulai memberi tekanan serius terhadap industri satelit nasional.

Sebagai informasi, pelaku industri satelit dalam nasional saat ini sebagian besar pembiayaan satelit dan infrastruktur pendukung masih bergantung pada mata uang asing. Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia (ASSI), Risdianto Yuli Hermansyah, mengatakan pelemahan rupiah secara langsung memengaruhi profitabilitas operator satelit di Indonesia.

“Nilai tukar pasti yang pertama mempengaruhi, karena satelit maupun ground segment mayoritas menggunakan mata uang asing,” ujar Risdianto di acara Asia Pacific Satellite Conference 2026, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Risdianto menjelaskan bahwa kenaikan dolar AS membuat beban operasional dan investasi industri semakin berat karena sebagian besar kebutuhan teknologi satelit masih bergantung pada impor. Selain menekan profitabilitas, pelemahan rupiah juga disebut dapat memperlambat ekspansi operator lokal.

“Peningkatan nilai tukar itu juga akan menekan ekspansi dari lokal operator,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal ASSI, Sigit Jatipuro, menilai kondisi nilai rupiah yang terus melemah turut mempersulit akses pendanaan industri. “Pendanaan otomatis akan jadi makin sulit karena uang yang beredar di dalam negeri makin sedikit,” kata Sigit.

Meski demikian, Sigit melihat pelemahan rupiah tidak bisa menjadi momentum untuk memperkuat industri lokal dan meningkatkan orientasi ekspor nasional.

“Kalau dolar naik, yang paling bagus sebenarnya sektor ekspor. Karena biaya produksi kita rupiah, tapi pendapatannya dolar,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terpuruk dan kini menembus Rp 17.500-an hari ini. Kondisi ini menjadi nilai tukar dengan titik terendah sepanjang masa.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku mulai besok akan membantu Bank Indonesia (BI) untuk mengendalikan tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Waspada Cuaca Ekstrem di Musim Kemarau, BMKG Ungkap Penyebabnya

5 June 2026 - 14:10 WIB

Mata Melotot Bisa Jadi Tanda Tiroid, Kenali Gejalanya

5 June 2026 - 14:06 WIB

SpaceX Mau Mega IPO, Kekayaan Elon Musk Makin Nggak Ngotak

5 June 2026 - 14:02 WIB

Google Rilis Fitur Deteksi Telepon Palsu di Android

5 June 2026 - 13:58 WIB

Bos Raksasa AI Malah Peringatkan Teknologinya Berbahaya

5 June 2026 - 13:53 WIB

Trending on Kabar Lifestyle