Menu

Dark Mode
276 Anggota Pramuka Kwarran Bogor Barat Raih Predikat Pramuka Garuda Mengenal Angklung Gubrag Dog Dog Lojor Ada yang Bikin Onar hingga Overstay, 6 WNA Dideportasi dari Bali Ada Gambar Dinosaurus di Paspor, Wanita Ini Gagal Terbang Sejarah Hari Donor Darah Sedunia dan Sosok di Balik Peringatannya Iran Ancam Serang Perusahaan Elon Musk di Timur Tengah

Feature

Mengenal Angklung Gubrag Dog Dog Lojor

badge-check


					angklung gubrag. (foto: ist) Perbesar

angklung gubrag. (foto: ist)

Angklung Gubrag adalah kesenian tradisional yang berasal dari wilayah Kabupaten Bogor, khususnya di Kampung Cipining, Desa Argapura Kecamatan Cigudeg,  dan telah diwariskan secara turun-temurun. Kesenian ini memiliki keterkaitan erat dengan tradisi agraris masyarakat Sunda. Dalam melestraikan dan mengembangkannya, p;erlu upaya upaya strategis, salah satunya adalah upaya Rejuvenasi.

Upaya Rejuvenasi seni tradisi Angklung Gubrag memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, lebih khusus  generasi muda sebagai penerus warisan budaya bangsa, serta seringnya dilakukan berbagai kegiatan pendukungnya seperti workshop, diskusi, festival, pergelaran dan promosi yang terus menerus.

Workshop ini bukan sekadar pertemuan birokrasi, melainkan sebuah simpul pertemuan antara dua keajaiban : Goa Gudawang sebagai saksi bisu yang berusia 5 juta tahun, yang bersanding dengan getaran ritmis Angklung Gubrag, sebuahb warisan budaya tak benda yang telah terjaga selama 600 tahun.

Kehadiran perwakilan dinas, akademisi, komunitas, seniman serta masyarakat umum dalam workshop ini menandai urgensi kolaborasi tripartit antara komunitas (Seba), pemerintah, dan lembaga Pendidikan, karena membangun ekosistem perlindungan kebudayaan tidak bisa dilakukan secara parsial. Nilai sakralitas seni yang dibahas hari ini adalah jembatan yang menghubungkan sejarah panjang masa lalu dengan tantangan masa depan.

Bagi masyarakat Cipining Desa Argapura Kecamatan Cigudeg, Angklung Gubrag Dogdog Lojor bukan sekadar tontonan, melainkan tuntunan hidup masyarakat.  Sebagai pemegang mandat generasi ke-12, Ki Jawir mengemban beban sejarah untuk memastikan bambu-bambu ini tetap berbunyi sesuai pakemnya. Keberadaan Ki Jawir ( yang memiliki nama asli Ariansyah ini  adalah bukti nyata cultural resilience (ketahanan budaya) yang luar biasa di tengah gempuran disrupsi digital.

Kesunyian goa dan getaran bambu menciptakan atmosfer yang tidak bisa ditemukan di panggung-panggung urban.

Workshop ini menjadi ruang dialektika antara Ki Jawir sebagai Pelestari, dan Kang  Ade Suarsa sebagai  Pengemas/Inovator yang fokus utamanya adalah bagaimana seni tradisi bisa ngigelan zaman  tanpa harus kehilangan ruhnya, antara pemerintah dengan masyarakat , antara komunitas dengan lembaga Pendidikan dan antara masa lampau dan masa kini serta masa yang akan datang.

“ Eksplorasi estetika diperbolehkan untuk kebutuhan panggung di luar ranah ritual, namun tidak menabrak esensi dasar dari seni tradisi leluhur itu “, kata Kang Ade dalam diskusinya.

Tantangan terbesar adalah regenerasi. Generasi Z lebih akrab dengan budaya populer global ketimbang seni tradisi leluhurnya.  Kang Ade Suarsa menekankan pentingnya membuat seni tradisi terasa mahal  melalui kemasan yang apik, sementara Ki Jawir mengingatkan bahwa inti sakralitas tidak boleh dimodifikasi secara sembarangan, terutama di tanah kelahirannya.

Perkembangan teknologi dan arus globalisasi telah membawa berbagai perubahan dalam pola hidup masyarakat. Di satu sisi, kemajuan tersebut memberikan banyak manfaat, namun di sisi lain juga menghadirkan tantangan bagi keberlangsungan seni dan budaya tradisional. Tidak sedikit generasi muda yang semakin jauh dari akar budayanya karena minimnya ruang pembelajaran dan regenerasi. Oleh karena itu, workshop ini hadir sebagai salah satu upaya strategis untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai budaya yang terkandung dalam kesenian

Kegiatan workshop dirancang secara interaktif dengan memadukan materi teori dan praktik.  Para peserta mendapatkan pemahaman mengenai sejarah perkembangan Angklung Gubrag, fungsi sosial budaya dalam kehidupan masyarakat Sunda, filosofi yang terkandung dalam setiap unsur pertunjukan, serta teknik dasar memainkan instrumen tersebut. Selain itu, peserta juga berkesempatan untuk berinteraksi langsung dengan para seniman dan pelaku budaya yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlangsungan Angklung Gubrag.

Workshop ini menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman panjang dalam pelestarian seni tradisi. Melalui sesi diskusi dan praktik bersama, peserta diajak untuk memahami bahwa Angklung Gubrag bukan hanya sekadar alat musik atau tontonan hiburan, melainkan sebuah warisan pengetahuan yang merekam perjalanan sejarah, sistem nilai, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Ketua pelaksana kegiatan,  Kang Jurasep, dari Komunitas SEBA, menyampaikan pelestarian budaya tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan memerlukan kolaborasi gotongh royong antara komunitas seni, lembaga pendidikan, pemerintah, media, dan masyarakat luas. Workshop ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya kesadaran kolektif untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya daerah sebagai bagian dari identitas bangsa melalui penguatan ekosistem kebudayaan.

“Melalui workshop ini, kami ingin menyampaikan bahwa Angklung Gubrag memiliki nilai nilai luhur yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang, apalagi, ditanah kelahirannya ada ruang publik ‘ Goa Gudawang yang berusia jutaaan tahun yang lalu, yang sangat potensial untuk menjadi ruang kolaborasi bersama, sekaligus membangkitkan piotensi pariwisata yang pernah jaya di masanya,” katanya.

Selain menjadi sarana transfer pengetahuan, workshop ini juga diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi baru pelaku seni tradisi yang mampu mengembangkan Angklung Gubrag secara kreatif tanpa meninggalkan nilai-nilai autentiknya. Regenerasi menjadi aspek penting dalam pelestarian budaya, karena keberlangsungan sebuah tradisi sangat bergantung pada adanya penerus yang memahami dan mencintai warisan tersebut.

Kegiatan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat posisi Angklung Gubrag sebagai aset budaya daerah yang memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan sektor pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata. Dengan pengelolaan yang tepat, Angklung Gubrag tidak hanya dapat menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga berkontribusi dalam meningkatkan daya tarik wisata berbasis budaya di Kabupaten Bogor.

Melalui pelaksanaan Workshop Angklung Gubrag, diharapkan semakin banyak masyarakat yang mengenal, memahami, dan mencintai warisan budaya daerahnya sendiri.

Pelestarian budaya bukan semata-mata menjaga peninggalan masa lalu, melainkan juga menyiapkan fondasi bagi masa depan yang berakar kuat pada identitas dan karakter bangsa.

Kegiatan ini merupakan bentuk komitmen bersama untuk memastikan bahwa warisan budaya leluhur tetap hidup, berkembang, dan memberikan manfaat bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Dengan semangat kolaborasi dan gotong royong, Angklung Gubrag diharapkan terus bergema sebagai simbol kebanggaan masyarakat Bogor dan kekayaan budaya Indonesia.

Dari hasil diskusi dan workshop, diperlukan sebuah komitmen dari para pemangku kepentingan, terkait Rejuvenasi  Angklung Gubrag. Bagi dunia Pendidikan, diperlukannya kurikulum muatan lokal Angklung Gubrag masuk kedalam kurikulum sekolah di wilayah Desa Argapura Kecamatan Cigudeg, sebagai wilayah pemilik.

Bagi dunia Pariwisata, diperlukan kunjungan rutin Sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Bogor secara berkala ke Goa Gudawang, sehingga dilakukan  sistem rotasi kunjungan / mengatur jadwal kunjungan sekolah (satu kecamatan per minggu dalam siklus 40 minggu setahun). Bagi Seniman Tradisi, diperlukan pelibatan seniman lokal sebagai mentor, seniman lokal di gilir per dua minggu  sekali untuk mengisi seni budaya pada kegiatan wisata Goa Gudawang, sehingga dengan demikian, pergerakan ekonomi masyarakat setempat terwujud. Diperlukan Mou antara Komunitas atau seniman tradisi dengan sekolah-sekolah yang ada di Desa Argapura Kecamatan Cigudeg, guna memastikan terjadinya estafet keberlanjutan seni tradisi Angklung Gubrag pada generasi saat ini dan akan datang.

Angklung Gubrag di Goa Gudawang adalah pengingat bahwa di bawah kaki kita ada sejarah laut purba, dan di tangan kita ada masa depan budaya yang harus dijaga. Rahayu. rls

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

HJB ke-544, Ini Kado Untuk Warga Kota Bogor

3 June 2026 - 23:01 WIB

Pantai Butuh Kepedulian, Bukan Sampah

28 May 2026 - 21:28 WIB

Trase Baru Batutulis Mulai Dibangun, Ditargetkan Rampung Akhir Oktober

24 May 2026 - 23:20 WIB

Kinerja BKPSDM Kota Bogor Tahun 2025

21 May 2026 - 19:55 WIB

Berkontur Curam, Panaragan Jadi Pilot Project EWS

6 May 2026 - 21:15 WIB

Trending on Feature