Menu

Dark Mode
Fitur “Your Algorithm” Instagram Sudah Ada di Indonesia, Pengguna Android dan iOS Bisa Coba Pohon-pohon Tropis Tumbuhkan Akar Lebih Dalam, Serap Lebih Banyak Air Meta Rombak Desain Facebook, Jadi Mirip Instagram Peringkat Kecepatan Internet Indonesia Oktober 2025, Ngebut tapi Masih Memble Remaja Australia Didepak dari Medsos, PM: Baca Buku Saja Awal Revolusi AI: Server Nvidia Tak Laku, Elon Musk Beli dan Ubah Sejarah

Kabar Lifestyle

Lonjakan AI Picu Kelangkaan Chip Storage dan Kenaikan Harga Komponen PC

badge-check


					Lonjakan AI Picu Kelangkaan Chip Storage dan Kenaikan Harga Komponen PC (Foto: Tomshardware) Perbesar

Lonjakan AI Picu Kelangkaan Chip Storage dan Kenaikan Harga Komponen PC (Foto: Tomshardware)

Ledakan permintaan dari sektor kecerdasan buatan (AI) mulai menekan industri perangkat keras global. Setelah chip grafis (GPU) dan memori mengalami kelangkaan, kini giliran pasar storage yang ikut terdampak.
Laporan terbaru dari DigiTimes menyebutkan waktu pengiriman hard disk enterprise (HDD) telah melampaui dua tahun akibat lonjakan konsumsi dari perusahaan AI.

Kondisi tersebut mendorong banyak perusahaan teknologi beralih ke SSD, terutama jenis QLC NAND, sebagai alternatif untuk mempercepat pasokan. Langkah ini dilakukan karena SSD berbasis TLC NAND dinilai lebih cepat dan tahan lama, namun juga jauh lebih mahal, demikian mengutip dari Detik, Rabu(12/11/2025).

Para pengamat industri memperkirakan pergeseran ini akan berdampak langsung ke pasar konsumen. Dengan meningkatnya permintaan QLC NAND dari pusat data (data center) di Amerika Serikat, Kanada, dan China, pasokan SSD untuk konsumen umum diprediksi akan menipis.

Karena sebagian besar SSD mainstream saat ini sudah menggunakan QLC untuk menekan harga, kekurangan pasokan tersebut berpotensi memicu kenaikan harga SSD di pasar global.

Analis memperkirakan, dengan semakin banyaknya perusahaan AI yang mengadopsi QLC, penjualan QLC akan melampaui TLC pada awal 2027 — menjadi titik balik besar dalam industri penyimpanan digital. DigiTimes juga melaporkan sejumlah perusahaan AI mulai menimbun stok QLC NAND sejak sekarang, membuat kapasitas produksi beberapa produsen telah penuh hingga tahun 2026.

Lonjakan kebutuhan AI yang masif ini menimbulkan tekanan di seluruh rantai pasokan komponen komputer. Tak hanya GPU dan akselerator AI, tetapi juga CPU, RAM, jaringan berkecepatan tinggi, hingga sistem penyimpanan skala besar di pusat data.

Harga komponen pun meroket tajam. Harga DRAM dilaporkan naik hampir 50 persen hanya dalam beberapa minggu terakhir. Operator pusat data AI di AS dan China disebut hanya menerima sekitar 70 persen jatah DRAM yang mereka pesan, meski telah membayar dengan harga lebih tinggi.

Kenaikan harga juga merembet ke DDR5 RDIMM, modul memori standar untuk server modern. Produsen besar seperti Samsung dan SK Hynix dilaporkan mengalihkan sebagian kapasitas produksinya dari pasar konsumen ke komponen berorientasi AI yang memiliki margin lebih tinggi.

Lonjakan ini menegaskan satu hal: di tengah perlombaan menuju Artificial General Intelligence (AGI), tekanan terhadap infrastruktur komputasi global semakin besar — dan konsekuensinya kini mulai dirasakan oleh seluruh pasar perangkat keras, dari perusahaan hingga pengguna rumahan.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Fitur “Your Algorithm” Instagram Sudah Ada di Indonesia, Pengguna Android dan iOS Bisa Coba

11 December 2025 - 10:46 WIB

Pohon-pohon Tropis Tumbuhkan Akar Lebih Dalam, Serap Lebih Banyak Air

11 December 2025 - 10:23 WIB

Meta Rombak Desain Facebook, Jadi Mirip Instagram

11 December 2025 - 09:34 WIB

Peringkat Kecepatan Internet Indonesia Oktober 2025, Ngebut tapi Masih Memble

11 December 2025 - 09:28 WIB

Remaja Australia Didepak dari Medsos, PM: Baca Buku Saja

10 December 2025 - 23:58 WIB

Trending on Kabar Lifestyle