Cara orang berbelanja online perlahan mulai berubah. Jika selama ini konsumen mengandalkan kolom pencarian untuk menemukan produk yang diinginkan, kini kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil peran sebagai asisten belanja pribadi yang mampu memahami kebutuhan pengguna melalui percakapan.
Perubahan ini didorong oleh berkembangnya teknologi AI agent atau asisten AI yang dapat berdialog layaknya manusia. Alih-alih mengetik kata kunci seperti “sepatu lari pria” atau “hadiah ulang tahun untuk ibu”, pengguna cukup menjelaskan kebutuhan mereka, lalu AI akan memberikan rekomendasi yang lebih personal dan relevan.

Fenomena tersebut mulai terlihat di industri ritel global. Amazon mengungkapkan bahwa lebih dari 300 juta pelanggan menggunakan fitur asisten belanja berbasis AI mereka sepanjang tahun lalu. Teknologi tersebut bahkan disebut berhasil menghasilkan tambahan penjualan hampir USD 12 miliar atau sekitar Rp 195 triliun.
Melihat tren tersebut, Amazon Web Services (AWS) kini membuka teknologi yang menjadi dasar asisten belanja AI Amazon kepada peritel lain melalui solusi bernama AWS Agentic Shopping Assistant (ASA). Solusi ini memungkinkan perusahaan ritel membangun asisten belanja AI mereka sendiri dengan memanfaatkan data produk, aturan bisnis, dan karakter merek masing-masing.
Menurut AWS, pengalaman belanja berbasis percakapan menawarkan keuntungan yang signifikan dibanding metode pencarian tradisional. Sesi belanja menggunakan AI disebut memiliki tingkat konversi hingga 3,5 kali lebih tinggi dibanding pencarian berbasis kata kunci.
Hal ini terjadi karena AI tidak hanya mencari produk berdasarkan kata tertentu, tetapi juga memahami konteks kebutuhan pengguna. Misalnya saat seseorang mencari hadiah ulang tahun, AI dapat menggali informasi tambahan seperti usia penerima, hubungan dengan pemberi hadiah, hingga gaya yang disukai sebelum memberikan rekomendasi produk.
AI Jadi Personal Shopper Digital
AWS menilai peritel memiliki pengetahuan mendalam tentang produk dan pelanggan mereka yang sulit ditandingi AI umum. Karena itu, perusahaan ritel didorong untuk membangun asisten AI sendiri agar tetap memiliki hubungan langsung dengan pelanggan dan tidak sepenuhnya bergantung pada platform pihak ketiga.
Salah satu contoh penerapan teknologi tersebut datang dari merek fesyen Kate Spade. Perusahaan ini memanfaatkan AWS ASA untuk menghadirkan layanan Kate Spade AI Gift Concierge, asisten AI yang membantu pelanggan memilih hadiah berdasarkan percakapan natural.
Menariknya, layanan tersebut hadir karena lebih dari separuh konsumen mengaku merasa stres ketika harus membeli hadiah. AI kemudian membantu mempersempit pilihan dengan menanyakan berbagai detail yang relevan sebelum memberikan rekomendasi produk.
Yang Lu, Chief Information and Digital Officer Tapestry selaku induk Kate Spade, mengatakan teknologi agentic commerce berpotensi menghadirkan pengalaman baru bagi pelanggan.
“Kami sangat antusias dengan berbagai kemungkinan yang dapat dihadirkan oleh agentic commerce bagi pelanggan kami. AWS menghadirkan resepnya, namun kami mengembangkan penyesuaian yang dibutuhkan oleh konsumen secara bersama-sama,” ujar Yang Lu dalam keterangan resmi yang diterima detikINET, Sabtu (20/6/2026).
Perkembangan AI agent diperkirakan akan mengubah wajah e-commerce dalam beberapa tahun ke depan. Jika sebelumnya mesin pencari menjadi pintu utama menemukan produk, kini percakapan dengan AI berpotensi menjadi cara baru konsumen berbelanja.
AWS bahkan menyebut peritel tidak seharusnya menunda pengembangan pengalaman belanja berbasis percakapan karena ekspektasi pelanggan terus berubah. Dengan semakin canggihnya AI generatif, batas antara chatbot, customer service, dan personal shopper digital diprediksi akan semakin kabur.
Bukan tidak mungkin, di masa depan kolom pencarian yang selama ini menjadi ciri khas toko online akan tergeser oleh asisten AI yang dapat memahami kebutuhan pelanggan hanya melalui percakapan biasa.
Sumber: detik.com















