Kemajuan pesat China di bidang kecerdasan buatan (AI) telah membawa para pendiri DeepSeek, Z.ai, dan Moonshot AI ke panggung global. Perusahaan mereka menantang Silicon Valley dengan model AI tangguh dan lebih terjangkau.
Industri AI China mendapat momentum beberapa bulan terakhir setelah Moonshot AI merilis Kimi K3, model AI open weight terbesar dunia, sementara Z.ai memperkenalkan GLM-5.2, sistem open source terdepan lainnya. Bersama DeepSeek, mereka memperkuat posisi China sebagai pesaing terbesar Amerika Serikat di ranah AI.

Berikut tiga pendiri di balik kebangkitan tersebut, dikutip dari detikINET:
Liang Wenfeng: DeepSeek
Liang menjadi wajah ledakan AI China setelah model open source buatan DeepSeek menarik perhatian global karena performanya setara dengan sistem-sistem terdepan Barat dengan biaya pengembangan jauh lebih kecil.
Lahir di Zhanjiang, Liang mendirikan hedge fund High-Flyer bersama rekan kuliah sebelum memisahkan DeepSeek dari divisi AI perusahaan tersebut tahun 2023. Keuntungan High-Flyer memungkinkan perusahaan mengumpulkan ribuan GPU canggih, yang memberi DeepSeek daya komputasi untuk mengembangkan model AI mutakhir tanpa bergantung pada modal ventura tradisional.
DeepSeek meledak di panggung global Januari 2025 dengan peluncuran model penalaran R1, yang diklaim mampu menandingi ChatGPT milik OpenAI dalam beberapa benchmark, dengan biaya pelatihan jauh lebih rendah. Pendekatan open source yang mereka gunakan menarik minat pengembang dan peneliti dari seluruh dunia.
Liang pun menjadi salah satu pengusaha teknologi paling berpengaruh di China. Majalah Time memasukannya ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia tahun 2025, dengan menyebut kemunculannya sebagai momen ketika dominasi teknologi AS mulai dipertanyakan.
Pria berusia 41 tahun ini jadi pendiri perusahaan AI terkaya. Estimasi kekayaannya USD 36 miliar setelah penggalangan dana DeepSeek bulan Juni yang menaikkan valuasi perusahaan menjadi USD 50 miliar. Menurut Bloomberg, ia menduduki peringkat di atas Presiden OpenAI Greg Brockman dan salah satu pendiri Anthropic Dario Amodei, sekaligus menjadi orang terkaya kedelapan China.
Meski DeepSeek terkenal, Liang tetap jarang tampil. Dalam wawancara langka tahun 2024 dengan media China Anyong, Liang mengatakan China harus berevolusi dari sekadar pengadopsi teknologi luar negeri menjadi pencipta inovasi.
Tang Jie: Z.ai
Profesor Universitas Tsinghua, Tang Jie, menghabiskan hampir dua dekade membantu membentuk talenta AI China sekaligus mendirikan salah satu perusahaan AI terdepan negara tersebut.
Tang ikut mendirikan Zhipu AI, kini dikenal sebagai Z.ai, tahun 2019 bersama dosen dan alumni dari Universitas Tsinghua. Perusahaan ini kini menjadi salah satu pengembang AI terdepan di China. Model terbarunya, GLM-5, bersaing dengan Claude Opus milik Anthropic dalam benchmark pemrograman dan agen AI.
Investor semakin memandang Z.ai sebagai salah satu perusahaan AI teratas di China. Antusiasme investor mendorong kebangkitan pesat perusahaan, di mana Z.ai baru-baru ini mengumumkan penjualan saham USD 4 miliar di Hong Kong dan berencana menctatakan saham di Shanghai.
Lonjakan ini membawa Tang masuk jajaran miliarder, dengan Forbes memperkirakan kekayaannya USD 5 miliar. Lahir 1977, Tang bergabung dengan Departemen Ilmu Komputer Universitas Tsinghua di 2006. Ia menerbitkan lebih dari 100 makalah penelitian dan menciptakan AMiner, platform pencarian akademis yang memetakan hubungan antar peneliti, konferensi, dan publikasi ilmiah.
Tang juga memimpin pengembangan Wu Dao, model AI bahasa alami berskala super besar pertama di China yang diperkenalkan di 2021. Di situs akademisnya, Tang menyatakan bahwa ia mendedikasikan seluruh upayanya untuk memajukan Kecerdasan Buatan Umum (AGI).
Dalam memo internal kepada karyawan, Tang menegaskan AI mutakhir harus tetap dapat diakses luas, bukan dikendalikan sekelompok kecil perusahaan dan bukan untuk komersialisasi jangka pendek.
Tang Jie: Z.ai
Profesor Universitas Tsinghua, Tang Jie, menghabiskan hampir dua dekade membantu membentuk talenta AI China sekaligus mendirikan salah satu perusahaan AI terdepan negara tersebut.
Tang ikut mendirikan Zhipu AI, kini dikenal sebagai Z.ai, tahun 2019 bersama dosen dan alumni dari Universitas Tsinghua. Perusahaan ini kini menjadi salah satu pengembang AI terdepan di China. Model terbarunya, GLM-5, bersaing dengan Claude Opus milik Anthropic dalam benchmark pemrograman dan agen AI.
Investor semakin memandang Z.ai sebagai salah satu perusahaan AI teratas di China. Antusiasme investor mendorong kebangkitan pesat perusahaan, di mana Z.ai baru-baru ini mengumumkan penjualan saham USD 4 miliar di Hong Kong dan berencana menctatakan saham di Shanghai.
Lonjakan ini membawa Tang masuk jajaran miliarder, dengan Forbes memperkirakan kekayaannya USD 5 miliar. Lahir 1977, Tang bergabung dengan Departemen Ilmu Komputer Universitas Tsinghua di 2006. Ia menerbitkan lebih dari 100 makalah penelitian dan menciptakan AMiner, platform pencarian akademis yang memetakan hubungan antar peneliti, konferensi, dan publikasi ilmiah.
Tang juga memimpin pengembangan Wu Dao, model AI bahasa alami berskala super besar pertama di China yang diperkenalkan di 2021. Di situs akademisnya, Tang menyatakan bahwa ia mendedikasikan seluruh upayanya untuk memajukan Kecerdasan Buatan Umum (AGI).
Dalam memo internal kepada karyawan, Tang menegaskan AI mutakhir harus tetap dapat diakses luas, bukan dikendalikan sekelompok kecil perusahaan dan bukan untuk komersialisasi jangka pendek.
Sumber: detik.com















