Menu ✖

Dark Mode
Dedie Rachim Apresiasi Program Revitalisasi Sekolah dari Pemerintah Pusat Pemkot Bogor Targetkan Penurunan Kabel Udara Sepanjang 20 Kilometer Pemkot Bogor Tegaskan Komitmen Penataan Kabel Udara di Seluruh Kota Terpangkas Sampai 74 Persen, DPRD DIY Desak Pusat Normalisasi Anggaran Transfer Satu Kelurahan di Sleman Terima 100 Juta Pakar Kehutanan UGM Bongkar Penyebab Karhutla RI Sulit Padam

Kabar Lifestyle

Kebakaran Hutan Tak Cuma Bakar Pohon Tetapi Juga Menggerus Tanah Gambut

badge-check


					Foto udara asap membubung dari lahan gambut yang tebakar di 
Kalimantan Selatan. (Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Perbesar

Foto udara asap membubung dari lahan gambut yang tebakar di Kalimantan Selatan. (Foto: ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya menghanguskan pepohonan dan vegetasi di permukaan. Di lahan gambut, api juga bisa membara di bawah tanah, menghabiskan lapisan organik yang terbentuk selama ratusan hingga ribuan tahun.

Proses ini terjadi karena gambut tersusun dari sisa-sisa tumbuhan yang menumpuk dalam kondisi basah dan terurai tidak sempurna. Ketika gambut mengering, material organik tersebut menjadi bahan bakar yang dapat terbakar. Api bahkan bisa terus membara di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah sudah tidak terlihat.

Dampak tersebut terukur dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Fire MDPI pada 2021, berjudul ‘Loss and Recovery of Carbon in Repeatedly Burned Degraded Peatlands of Kalimantan, Indonesia’. Tim peneliti dari University of Melbourne bersama peneliti kehutanan Indonesia mengamati kebakaran gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah pada 2019.

Dalam studi itu, para peneliti menulis, permukaan lahan yang diamati kehilangan sekitar 21-24 cm selama hampir sebulan ketika api terus membara. Kehilangan tersebut berasal dari pembakaran gambut, akar, rimpang pakis, dan material organik di lapisan atas tanah.

Temuan ini menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak cukup dinilai dari luas vegetasi yang hangus. Pembakaran lapisan gambut juga berarti hilangnya material organik yang menyimpan karbon. Studi tersebut memperkirakan kebakaran pada 133.631 hektare lahan gambut terdegradasi di Kalimantan Tengah melepaskan karbon dari bahan bakar permukaan dan lapisan gambut bagian atas.

Pemulihan pun tidak sesederhana menunggu lahan kembali hijau. Penelitian itu memperkirakan vegetasi dapat kembali tumbuh, tetapi pemulihan vegetasi tidak otomatis berarti lapisan gambut dan simpanan karbon yang hilang telah pulih sepenuhnya.

Karena itu, menjaga gambut tetap basah menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko kebakaran. Seperti yang sedang terjadi sekarang di Kalimantan, ketika api sudah merambat ke bawah permukaan, pemadaman menjadi lebih sulit karena bara tersembunyi dan bertahan meski kobaran api di permukaan telah padam.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Biaya Internet Rumah Mahal, Komdigi Mau Pangkas Jadi Rp 100 Ribu

14 October 2026 - 15:56 WIB

Ratusan Supermarket Diretas, Kulkas Dibuat Jadi Panas

14 October 2026 - 15:48 WIB

Karyawan Terancam Dipenjara Usai Rekam Ucapan Bos Saat Rapat

14 October 2026 - 15:44 WIB

iPhone 18 Pro Enggak Laku, Apple Akhirnya Menyerah Tak Mampu Jualan

14 October 2026 - 15:41 WIB

Ular Raksasa di Sulawesi Pecahkan Rekor, Ahli Yakin Ada yang Lebih Besar

13 October 2026 - 12:39 WIB

Trending on Kabar Lifestyle