Kita punya bermacam cara untuk mengidentifikasi hewan yang sama berkali-kali. Misalnya dengan menambahkan gelang di kaki burung, atau menghafal pola bintik atau garis pada tubuhnya. Tapi untuk katak, prosesnya mungkin sedikit lebih sulit. Kecuali katak yang satu ini.
Spesies katak pohon Amazon memiliki mata berwarna emas yang memesona dengan garis-garis hitam yang saling bersilangan. Mata hewan dengan nama ilmiah Osteocephalus oophagus ini bukan hanya indah tetapi punya keunikan masing-masing dan berbeda antar individu, hampir berfungsi seperti sidik jari manusia pada katak.

“Saat itu, saya sedang mengerjakan PhD saya, mempelajari Allobates femoralis (spesies katak lain) di lapangan di Guyana Prancis,” kata penulis studi Dr. Mélissa Peignier dalam sebuah pernyataan, dikutip dari IFL Science, Selasa (11/3/2026).
“Reaksi pertama saya hanyalah sesuatu seperti, ‘Wow, matanya indah sekali!’ Rasa penasaran awal itu secara bertahap berubah menjadi minat yang besar pada spesies tersebut, dan saya menyadari betapa sedikitnya yang sebenarnya kita ketahui tentang mereka,” tuturnya.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Herpetozoa ini, peneliti melakukan proyek penangkapan-pelepasan selama musim hujan pada 2021, 2022, dan 2023 di sebuah pulau kecil di sungai di Cagar Alam Nouragues di Guyana Prancis. Para peneliti berhasil melakukan 392 penangkapan yang melibatkan 103 individu, yang dapat mereka identifikasi berdasarkan pola mata unik mereka.
Tim tersebut juga memotret mata setiap hewan agar dapat membandingkannya dengan basis data. Katak yang dikenali dengan cara ini dapat dibiarkan tanpa diganggu, dan bahkan foto mata dapat diambil tanpa menyentuh katak tersebut.
Para peneliti memiliki perangkat lunak bernama WILD-ID yang dapat memverifikasi bahwa individu yang diidentifikasi tersebut benar. Dalam satu musim, antara 56-80% katak yang ditangkap kembali dapat diidentifikasi. Foto katak dalam posisi kawin bahkan dapat diambil tanpa mengganggu mereka.
Ini merupakan penyempurnaan dari metode sebelumnya, yang disebut pemotongan jari kaki. Metode baru ini terasa lebih bermanfaat mengingat katak-katak ini sebagian besar merupakan spesies yang memanjat pohon.
“Studi lain menggunakan metode pemotongan jari kaki, yang melibatkan pembuangan beberapa jari. Secara pribadi, saya merasa tidak nyaman dengan pendekatan ini, terutama mengingat bahwa ini adalah katak arboreal yang bergantung pada anggota tubuhnya untuk memanjat pohon,” jelas Peignier.
Hanya tiga katak yang diidentifikasi ulang selama beberapa tahun, menunjukkan bahwa ini memberikan ukuran identifikasi jangka pendek yang baik, yaitu dalam satu tahun. Kurangnya beberapa katak yang dapat diidentifikasi selama beberapa tahun lebih mungkin menunjukkan perubahan dalam populasi katak, daripada perubahan pada penampilan mata, meskipun penelitian lebih lanjut diperlukan di bidang ini.
“Di dunia tempat keanekaragaman hayati menurun dengan drastis dan mengkhawatirkan, sangat penting bagi kita untuk meminimalkan dampak kita terhadap hewan yang kita teliti,” kata Peignier.
“Jika kita dapat mengidentifikasi individu secara andal menggunakan ciri-ciri alami, kita mungkin dapat mengurangi cara penandaan yang lebih invasif sambil tetap mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ilmiah penting,” sebutnya.
Sumber: detik.com














