Menu

Dark Mode
Banu Bagaskara: Kebijakan THR PPPK Paruh Waktu Tidak Adil Danantara Tunjuk Investor Tiongkok untuk Proyek PSEL Bogor Raya Yantie Rachim Serukan Masyarakat Perkuat Semangat Berbagi kepada Anak Yatim Program Kerja 2026 Ditetapkan, Pramuka Kota Bogor Makin Tancap Gas Kwarran Bogor Barat Gelar Ramadan Fest 2026 Balkot Ramadan Festival 2026 Resmi Dibuka, UMKM dan Layanan Publik Hadir di Balai Kota

Headline

Jaga Alam Puncak, Menteri LH Tanam Ribuan Pohon

badge-check


					Jaga Alam Puncak, Menteri LH Tanam Ribuan Pohon Perbesar

Bogor – Puncak sepertinya mendapat perhatian penuh Menteri Lingkungan Hidup Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (LH/BPLH), Hanif Faisol Nurofiq. Buntinya Hanif kembali memberi perhatian khusus terhadap kelestarian alam di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung, Puncak, Kabupaten Bogor, dengan menanam ribuan pohon di area Perkebunan Teh PT Sumber Sari Bumi Pakuan (SSBP) Puncak , Jumat (12/12/2025).

Hanif mengatakan, DAS Ciliwung yang luasnya 47.000 hektare ini merupakan salah satu DAS yang sangat rentan, namun dihuni 3,5 juta orang.

“Jadi ini serius, seandainya kemudian curah hujannya meningkat tajam seperti di Sumatera Utara, maka semua kita harus bersiap. Karena dengan hujan yang hanya 140 mm saja, DAS Ciliwung ini sudah menimbulkan banyak korban, baik jiwa maupun harta benda,” kata Hanif Faisol.

Lanjut Hanif, ​di Sumatra bagian Utara kemarin, curah hujannya lebih dari 450 mm. Jadi hampir tiga kali kejadian di Ciliwung. Sehingga, diproyeksikan kondisi iklim di Indonesia tidak kurang daripada itu dan akan banyak terjadi di beberapa tempat.

“Untuk itu, Ciliwung harus terus berbenah dan saya terima kasih kepada jajaran SSBP yang telah mengikuti dokumen lingkungannya dengan melakukan penanaman pohon-pohon berkayu dan berakar tunjang minimal dengan jarak 20X20. ​Saya harapkan dalam waktu yang segera, pimpinan manajemen SSBP bisa segera memenuhi tuntutan dari dokumen lingkungan ini, sehingga akan mampu meningkatkan kapasitas DAS hulu dari Ciliwung,” jelasnya.

Dengan luas 550-an hektar, maka SSBP memiliki peran yang sangat vital untuk melindungi masyarakat yang di bawahnya berjumlah 3,5 juta jiwa.

Menurut Hanif, jumlah tersebut cukup sangat besar, Kalimantan Selatan yang luasnya 3,9 juta hektare, penduduknya tidak sampai 4 juta.

“Jadi ini dengan 46.000 saja penduduknya 3,5 juta,” ujar Hanif.

Jika dipertahankan perkebunan teh ini, kata Hanif, maka kaidah lingkungan harus dijaga dengan ketat. Karena dari teh ini dulu mungkin tidak di desain untuk melakukan konservasi terhadap 3,5 juta orang. ​Sekarang penduduk sudah berkembang pesat, perkebunan teh ini nilai cover-nya tidak setinggi hutan. Sehingga begitu hujan turun, maka hampir sebagian besar akan turun langsung ke sungai-sungai dan memperburuk terjadinya proses bencana hidrometeorologi, atau kita biasa sebut dengan banjir dan tanah longsor.

“Mudah-mudahan komitmen ini terus ditingkatkan oleh pimpinan dari SSBP. Kita tentu mendukung upaya sepenuhnya dalam membangun ekonomi, namun menjadikan lingkungan sebagai panglima itu sudah merupakan keniscayaan,” katanya.

“Jadi tidak boleh lagi dikesampingkan. Nah, kebetulan SSBB ini ada di Puncak Das Ciliwung, maka perannya sangat-sangat vital. Dan tentu harapan saya terus direnungi oleh manajemen SSBB untuk memberikan makna perlindungan yang lebih besar daripada nilai ekonomi itu sendiri. Apalah artinya nilai ekonomi yang kita dapat sementara kerusakannya yang diperburuk juga menimbulkan korban yang cukup besar,” tegasnya.

Sementara itu, Komisaris PT Sumber Sari Bumi Pakuan (SSBP), Bernardus Djonoputro menuturkan, perkebunan teh merupakan sebuah kebudayaan dan tradisi besar di Puncak. Jadi, kebun teh itu bagian yang penting dari ekosistem di sistem Gunung Pangrango Gede. Untuk itu memang perkebunan teh memegang peranan yang sangat penting di dalam mengkonservasi wilayah.

“Untuk itu, kita komit untuk selalu menjaga lingkungan, salah satunya dengan penanaman pohon secara reguler. ​Kita ada 30 ribu lebih tanaman keras yang ada di kebun kita. Kemudian, hari ini kebun teh kami juga ada 5 juta pohon,” katanya.

Perkebunan teh swasta berkomitmen untuk bisa menjadi mitra aktif agar lingkungan tetap terjaga. Di lingkungan perkebunan teh ini juga masih ada elang jawa, macan tutul, surili, monyet dan sebagainya. Nah, fungsi konservasi ini, pemerintah perlu bekerja sama dengan swasta.

“Saya kira hari ini komitmen kami bersama dengan Pak Menteri sangat baik. Ini memperlihatkan bekerja bersama dengan pemerintah menjadi sebuah apa usaha yang saya kira sangat positif bagi kekuatan lingkungan kita,” pungkasnya. Saefulloh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Banu Bagaskara: Kebijakan THR PPPK Paruh Waktu Tidak Adil

14 March 2026 - 11:23 WIB

Danantara Tunjuk Investor Tiongkok untuk Proyek PSEL Bogor Raya

14 March 2026 - 10:15 WIB

Korban Pesawat Jatuh di Maros Terima 1,7 M Santunan BPJS Ketenagakerjaan

9 March 2026 - 12:36 WIB

Komitmen Serap Tenaga Kerja Lokal, Eiger Adventure Land Buka Rekrutmen Massal

6 March 2026 - 23:32 WIB

 BPJS Ketenagakerjaan dan Disnakertransgi DKI Jakarta Perkuat Kepatuhan Kepesertaan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

5 March 2026 - 12:06 WIB

Trending on Headline