Gelar manusia pertama dengan kekayaan lebih dari USD 1 triliun tak bertahan lama bagi Elon Musk. Setelah sempat menembus tonggak bersejarah itu usai IPO SpaceX, kekayaan Musk kini kembali turun di bawah angka triliun dolar akibat anjloknya harga saham perusahaan roket tersebut.
Berdasarkan data Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Musk kini berada di kisaran USD 957 miliar atau sekitar Rp 15.600 triliun (kurs Rp 16.300 per dolar AS). Penurunan ini terjadi setelah saham SpaceX tertekan dalam aksi jual besar-besaran yang melanda saham teknologi global.

Awal bulan ini, Musk sempat mencetak sejarah sebagai triliuner pertama di dunia. Pencapaian tersebut terjadi sesaat setelah IPO SpaceX sukses besar dan membuat valuasi perusahaan melampaui USD 2 triliun.
Kala itu, investor ritel berbondong-bondong membeli saham SpaceX. Optimisme terhadap berbagai proyek futuristis perusahaan, mulai dari pusat data di luar angkasa hingga ambisi mengirim manusia ke Mars, mendorong harga saham melesat tajam dalam beberapa hari pertama perdagangan.
Namun euforia tersebut kini mulai mereda. Saham SpaceX ditutup di level sekitar USD 156 pada perdagangan Selasa (23/6/2026), turun lebih dari 30% dibandingkan puncak intraday USD 225 yang tercapai pada 16 Juni lalu. Meski demikian, harga tersebut masih sedikit lebih tinggi dibandingkan harga debut IPO di level USD 150 per saham.
Penurunan saham SpaceX terjadi di tengah koreksi yang melanda sektor teknologi. Kekhawatiran terhadap potensi gelembung (bubble) industri AI serta prospek kenaikan suku bunga membuat investor mulai mengurangi eksposur terhadap saham-saham teknologi dengan valuasi tinggi.
Sejumlah analis juga mulai mempertanyakan valuasi fantastis SpaceX yang dianggap terlalu tinggi dibandingkan kondisi fundamental perusahaan saat ini. Sorotan semakin besar setelah dokumen IPO mengungkapkan bahwa SpaceX membukukan kerugian sebesar USD 4,9 miliar sepanjang 2025.
Tak hanya itu, divisi kecerdasan buatan (AI) milik SpaceX disebut menghabiskan belanja modal hingga USD 12,7 miliar, sehingga memicu kekhawatiran soal kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan dalam jangka pendek.
Tantangan berikutnya datang dari berakhirnya periode lockup IPO dalam beberapa bulan mendatang. Momen tersebut akan memungkinkan investor awal dan karyawan menjual saham mereka ke pasar, yang berpotensi menambah tekanan terhadap harga saham.
Meski demikian, SpaceX masih menjadi aset terbesar Musk. Kepemilikan sahamnya di perusahaan tersebut diperkirakan bernilai sekitar USD 744 miliar atau hampir 80% dari total kekayaannya. Sementara kepemilikannya di Tesla juga ikut tergerus koreksi pasar dan kini bernilai sekitar USD 158 miliar.
Walau kehilangan status triliuner, posisi Musk sebagai orang terkaya di dunia masih sangat aman. Jarak kekayaannya dengan pesaing terdekat, Larry Page, masih mencapai sekitar US$ 660 miliar.
Sebagai gambaran, selisih tersebut bahkan lebih besar dari dua kali total kekayaan Jeff Bezos. Dengan kata lain, meski turun dari level triliuner, Musk masih berada jauh di depan para miliarder lainnya dalam daftar orang terkaya dunia.
Sumber: detik.com















