Menu

Dark Mode
Bencana Super El Nino 2026 Akan Terus Menguat Hingga 2027 Drone Tak Kasat Mata Berhasil Dibuat, Militer Diprediksi Bakal Tertarik Utang Raksasa Teknologi AS Demi AI Tembus Rp 29.653 Triliun Gunung Es Raksasa Greenland Terbalik, Picu Gelombang Dahsyat Samsung Wallet Bakal Dukung Pembayaran Kripto di HP DPRD Kota Bogor Desak Pemkot Percepat Penanganan Lonjakan Kasus HIV

Feature

Bus Pancakarsa

badge-check


					Bus Pancakarsa Perbesar

Ditulis oleh:
Satria Wiwaha

Suatu sore aku tengah berada di dalam bus Bogor-Bandung, Pancakarsa namanya. Pandanganku menyapu hijaunya daun teh yang menghampar di puncak,  sengaja ku pejamkan mata menikmati udara dingin yang memukul-mukul wajah lewat jendela.

Aku mencoba melihat para penumpang lain. Banyak dari mereka mengabadikan pemandangan itu. Dan aku dengar banyak penumpang berdecak kagum karenanya.

Di depan, aku lihat sang sopir dengan cekatan mengendalikan setir ke kanan dan ke kiri, matanya fokus ke depan, dan nampak ramah karena sering menyunggingkan bibir melihat para penumpangnya yang sedang menikmati puncak. Ia tetap lihai di belokan-belokan tajam sambil menanjak. Terkadang ia menekan klakson menyuruh pengendara lain yang mencoba melawan arus untuk kembali ke jalur.

Di sebelah kiri sopir, sang kondektur mengeluarkan tangan kirinya ke luar jendela. Kadang ia mengayunkan tangannya itu sebagai isyarat bagi kendaraan lain untuk menjaga jarak. Tapi sang kondektur ku lihat lebih santai daripada sopir. Matanya banyak melihat handphone daripada mengawasi jalan.

Aku yang duduk di belakang kaget, ada peluit polisi berbunyi menembus dinding bus. Sopir menepikan bus dengan perlahan dan mengikuti arahan petugas.

Dari jendela, aku dan penumpang lain bertanya-tanya sambil melihat polisi meminta surat-surat kendaraan, mengecek SIM dan tak lama, sang sopir diminta masuk ke pos polisi. Aku lihat dari jauh, pak sopir terlibat perdebatan dengan petugas di dalam pos, ia tak terima dengan tindakan petugas.

“Ada apa pak polisi? Kami ini sedang enak-enaknya menikmati perjalanan, kenapa disuruh berhenti?” Tanya satu penumpang kepada petugas yang berjaga.

“Kami hanya menjalankan tugas, ada laporan dari beberapa pengendara, katanya busnya ugal-ugalan, sehingga membahayakan pengguna jalan.” Jawab polisi yang berjaga di pinggir bus.

“Siapa yang melaporkan itu pak? Setahu kami, tadi di awal masuk puncak, ada dua atau tiga mobil flat AD, F dan A yang diklakson panjang oleh sopir karena melawan arus. Memang kedengarannya dia ngomel-ngomel tidak terima diberi klakson. Padahal jelas-jelas dia yg salah. Kami semua saksinya.” Terang penumpang.

“Kami tidak tahu, nanti kita buktikan. Sementara sopir kami amankan dahulu.” Jawab petugas bernada diplomatis.

“Tapi kami diburu waktu, kami harus kembali jalan, kalau tidak, kami tidak akan sampai ke tujuan.” Pinta penumpang.

“Kami sudah meminta kondektur menggantikan sopir. Dia yang akan membawa anda semua ke tujuan.” Kata polisi.

“Kami sejujurnya tidak tahu, apakah kondektur ini sepandai sopir tadi atau tidak, karena sepanjang jalan dia tampak lebih banyak menghibur diri dengan melihat handphone daripada membantu sopir.”

Penumpang usul sopir tidak diganti. Tapi petugas tidak menimpali dan langsung bergabung masuk pos polisi.

Ketika bus dikemudikan kondektur, dugaan penumpang tadi benar, sudah beberapa kali sopir minta istirahat, tampak sekali dia kurang siap menjadi sopir, gerakannya kaku dan lamban. Penumpang yang tadinya menikmati perjalanan karena disuguhi pemandangan indah, seketika berubah menjadi perasaan was-was, khawatir sopir tidak mampu mengendalikan bus.

Dari belakang aku lihat sang sopir baru itu mukanya masam, dan tak ada lemparan senyum kepada penumpang meskipun lewat kaca spion. Dengan begitu aku juga ikut merasa was-was.

Aku mendengar obrolan para penumpang tentang tiga pengemudi mobil yang melaporkan sopir bus ke polisi. Ada yang melihat mereka dari jauh duduk-duduk melihat petugas memeriksa sopir. “Kayaknya mereka bersepakat duluan untuk menjebak sopir kita,” kata seorang ibu sambil menggendong anaknya yang sedang tidur. “Iya bener, soalnya tadi aku lihat mereka akrab ngobrol satu sama lain.” Seorang ibu muda menimpali.

Orang tua yang duduk di depanku terpancing bersuara, “saya lihat sebenarnya mereka lah yang akan kena masalah, karena sudah sombong tidak menerima peringatan, apalagi malah balik menuduh. Ini hanya urusan waktu.”

Bersambung..


Tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis. Bagi anda yang ingin membuat tulisan, artikel bisa mengirimkan melalui email mailkabaronline@gmail.com disertai fotocopy ktp dan nomor handphone yang aktif


 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Semangat Bulan Muharram 1448 H di Tengah Tantangan Ekonomi Indonesia

12 July 2026 - 21:29 WIB

Mengenal Angklung Gubrag Dog Dog Lojor

14 June 2026 - 19:25 WIB

HJB ke-544, Ini Kado Untuk Warga Kota Bogor

3 June 2026 - 23:01 WIB

Pantai Butuh Kepedulian, Bukan Sampah

28 May 2026 - 21:28 WIB

Trase Baru Batutulis Mulai Dibangun, Ditargetkan Rampung Akhir Oktober

24 May 2026 - 23:20 WIB

Trending on Feature