Menu

Dark Mode
Legalitas Wakaf Alun-Alun Empang Teruji dan Sesuai Aturan Eropa Panas Menyengat, AC Unik China Jadi Penyelamat Kisah Tragis Bocah Dihinggapi Kelelawar Berujung Meninggal Dunia Meta Dituding Pakai Cara Kotor Ganggu Kompetitor untuk Kembangkan AI Fenomena Aphelion 2026, Buat Cuaca Lebih Dingin? Bagaimana Peluang RI ‘Terpanggang’ Gelombang Panas? Ini Kata Pakar

Kabar Lifestyle

Bagaimana Peluang RI ‘Terpanggang’ Gelombang Panas? Ini Kata Pakar

badge-check


					Ilustrasi. Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu 
panas pada masa mendatang. Namun, karakteristiknya berbeda dengan 
gelombang panas di Eropa. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Perbesar

Ilustrasi. Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas pada masa mendatang. Namun, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas di Eropa. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Sejumlah negara Eropa hingga Amerika Serikat (AS) ‘terpanggang’ gelombang panas dalam beberapa waktu terakhir. Lantas, apakah Indonesia bisa juga mengalami fenomena serupa?

Sonni Setiawan, dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, menjelaskan bahwa Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas pada masa mendatang. Namun, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas di Eropa.

Menurutnya, suhu panas ekstrem di Indonesia lebih banyak dipicu oleh perubahan penggunaan lahan dan efek urban heat island yang umum terjadi di kawasan perkotaan.

“Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih besar dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah-wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,” ujar Sonni, melansir laman resmi IPB, Kamis (2/7).

Sebagai langkah adaptasi, ia mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat upaya penghijauan melalui reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan.

Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mengurangi suhu permukaan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.

“Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fugnsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan,” tuturnya.

Apa penyebab gelombang panas?
Menurut Sonni, gelombang panas di Eropa tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Menurutnya fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan Gelombang Rossby di atmosfer linta menengah.

Ia menerangkan, Gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah. Gelombang ini memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer dan terbentuk ketika angin baratan melintasi pegunungan besar, seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan.

“Saat musim panas di belahan Bumi utara, posisi Matahari menyebabkan daratan mengalami pemanasan maksimum. Karena daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat,” jelas dia.

“Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas,” lanjut Sonni.

Kondisi tersebut semakin diperparah melemahnya aktivitas gelombang Rossby pada musim panas. Pergerakan gelombang yang lebih lambat membuat massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah.

Situasi ini juga diperkuat oleh fenomena Omega Block, yakni pola tekanan tinggi yang menjebak udara panas sehingga suhu ekstrem dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Eropa Panas Menyengat, AC Unik China Jadi Penyelamat

7 July 2026 - 13:32 WIB

Kisah Tragis Bocah Dihinggapi Kelelawar Berujung Meninggal Dunia

7 July 2026 - 13:29 WIB

Meta Dituding Pakai Cara Kotor Ganggu Kompetitor untuk Kembangkan AI

7 July 2026 - 13:24 WIB

Fenomena Aphelion 2026, Buat Cuaca Lebih Dingin?

7 July 2026 - 13:21 WIB

Inggris: Tanpa Regulasi, Ancaman AI Setara Bom Hiroshima

7 July 2026 - 13:14 WIB

Trending on Kabar Lifestyle