Menu

Dark Mode
Bentuk Saka Adminduk, Pramuka Kota Bogor dan Discukcapil Teken MoU IPO SpaceX Bikin 9 Orang Terkaya Dunia Terlihat ‘Miskin’ Depan Elon Musk Sekolah Terluar Terbantu Internet Gratis Pemerintah, Tapi… Sering Terbangun Jam 3 Pagi? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya Tangkai Cabai Bisa Dipakai buat Bikin Yogurt? Ini Penjelasan Ilmiahnya Studi Baru: Paparan Mikroplastik Berpotensi Perparah Kondisi Liver

Headline

Pengawasan Lemah Penyebab Kebakaran Hutan

badge-check


					Pengawasan Lemah Penyebab Kebakaran Hutan Perbesar

Kontrol dan pengawasan pemerintah yang lemah dalam proses eksplorasi perusahaan serta tumpang tindih lahan ditenggarai menjadi penyebab kebakaran hutan di Indonesia. Demikian disampaikan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Herman Hidayat.

Menurut Herman, perlu penegakan hukum yang tidak diskriminatif bagi pengusaha yang terlibat kebakaran hutan karena dampaknya yang sangat merugikan negara termasuk pengawasan khusus terhadap pelaku penebangan liar, pendudukan lahan, dan deforestasi hutan Indonesia.

“Lahan gambut kan, sebenarnya tidak boleh digunakan oleh pengusaha untuk budidaya kelapa sawit dan Hutan Tanaman Industri. Praktiknya, aturan ini dilanggar oleh banyak perusahaan dan belum ada sanksi tegas,” ujar Herman.

Dia melanjutkan, lahan gambut dapat mudah terbakar apabila mengalami kekeringan dan cuaca panas, sehingga pembakaran kecil dapat secara cepat menyebar. “Lahan gambut memang dapat digunakan untuk industri dengan kedalaman penggunaan tanah tidak lebih dari 3 meter, tapi praktiknya ditemukan lebih dari 3 meter lahan gambut dioperasionalkan untuk perkebunan kelapa sawit, agroforestry, dan HTI,” lanjut Herman.

Untuk itu, diperlukan koordinasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengawasi pihak swasta yang telah diberikan izin untuk HTI dan perkebunan. “Mereka harus bertanggungjawab pada titik api di masing-masing lahannya,” tambahnya.

Sementara itu, peneliti LIPI lainnya, Tukirin mengatakan sebagian besar ekosistem hutan di Indonesia pada areal beriklim basah mengalami kerusakan, penurunan kelembaban dan bukaan kanopi. Akibatnya, lingkungan hutan (rawa gambut) yang semestinya basah dan lembab menjadi kering dan mudah terbakar.

Ekosistem hutan tropik, lanjut Tukirin, pada dasarnya tidak bisa terbakar secara alami sekalipun pada daerah beriklim kering. Namun pengelolaan hutan yang kurang tepat menyebabkan menurunnya kelembaban udara dan bukaan kanopi hutan sehingga berakibat serasah dan material runtuhan di lantai hutan menjadi kering.

Hasil penelitian yang dilakukan Tukirin menemukan bahwa dampak kebakaran berat dapat mematikan hampir seluruh pepohonan penyusun hutan mencapai lebih dari 80%. “Untuk hutan rawa gambut umumnya akan mati secara keseluruhan, tidak ada pohon yang mampu bertahan pasca kebakaran apalagi kebakaran berulang akan memusnahkan seluruh jenis primer,” ujar Tukirin. (Deni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

PKK Kelurahan Cipete Utara Dukung Gerakan RT/RW Sadar BPJS Ketenagakerjaan

11 June 2026 - 15:30 WIB

Sinergi Tanpa Batas: BPJS Ketenagakerjaan, Jasa Raharja, dan Polri Perkuat Kolaborasi Demi Layanan Prima Korban Kecelakaan Kerja

10 June 2026 - 14:41 WIB

Resmi Pertamax Naik Jadi Rp 16.250

10 June 2026 - 07:19 WIB

Wamenaker: Kerja di Hari Libur Nasional Wajib Bayar Lembur

26 May 2026 - 21:12 WIB

Tersangka Buang Tubuh Wanita dari atas Tol Kayumanis, Karena Sakit Hati

25 May 2026 - 18:50 WIB

Trending on Headline