Menu ✖

Dark Mode
Kader PKK Kota Bogor Dilatih Tanggap dan Tangguh Bencana LPS Beberkan Tantangan Baru Stabilitas Sistem Keuangan di Era M-Banking Mulyani Dukung Deteksi Dini Kanker Serviks, Apresiasi Gerakan Perempuan Sadar Sehat di Pasir Kuda Matahari Buatan China Segera Terwujud, Bakal Menyala 2027 Modal Bot dan AI, Pria Ini Raup Ratusan Miliar dari Spotify Lalu Dipenjara AI Anthropic Bikin Geger, Kirim Laporan Pembunuhan Palsu ke Polisi

Kabar Lifestyle

Di Balik Kepulan Asap Ganja, Ada Ancaman Nyata Krisis Iklim

badge-check


					Di balik kontroversi mengenai status ganja di Indonesia, ada fakta yang jarang 
terungkap, yakni terkait dampaknya ke kelangsungan iklim dunia. (Foto: 
REUTERS/SHANNON STAPLETON)
Perbesar

Di balik kontroversi mengenai status ganja di Indonesia, ada fakta yang jarang terungkap, yakni terkait dampaknya ke kelangsungan iklim dunia. (Foto: REUTERS/SHANNON STAPLETON)

Tanaman ganja penuh kontroversi di Indonesia. Beberapa orang menyebut tanaman ini baik untuk kesehatan karena bisa jadi obat, sementara pihak lainnya kontra karena efek halusinasi yang timbul saat menghisap lintingan ganja.
Namun demikian, di balik kontroversi itu semua, ternyata ada fakta yang jarang orang tahu dari dampak ganja, yakni terkait kelangsungan iklim dunia.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa industri budidaya ganja, terutama yang dikembangkan dalam ruangan, merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang kerap luput dari perhatian publik.

Setidaknya penelitian dari lembaga dan universitas menunjukkan pola yang sama: cara ganja diproduksi berdampak langsung terhadap perubahan iklim.

Emisi setara 10 juta kendaraan
Evan Mills, peneliti afiliasi di Lawrence Berkeley National Laboratory, menerbitkan pemutakhiran paling komprehensif terkait hal ini di jurnal One Earth pada Maret 2025.

Dengan melakukan life cycle assessment terhadap seluruh rantai produksi ganja AS, dari budidaya hingga pembuangan limbah, Mills menemukan bahwa industri ini menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 44 juta ton CO2 per tahun.

Angka itu setara dengan emisi 10 juta kendaraan atau 6 juta rumah tangga, dan mewakili sekitar 1 persen dari total emisi nasional AS di semua sektor. Biaya energinya mencapai US$11 miliar per tahun.

“Pabrik tanaman tanpa jendela dan rumah kaca berteknologi tinggi jauh lebih boros energi dibandingkan dengan budidaya di lahan terbuka, bangunan konvensional, dan beberapa industri,” kata Mills dalam jurnalnya.

Dua pertiga dari 24.000 ton ganja yang diproduksi setiap tahun, baik legal maupun ilegal, ditanam di dalam ruangan tertutup, menggunakan pencahayaan buatan, sistem pengatur suhu dan kelembapan, serta irigasi yang semuanya menyerap listrik dalam jumlah masif. Sekitar 90 persen emisi industri ini bersumber dari operasi budidaya indoor tersebut.

Konsumsi listrik industri ganja AS bahkan melampaui sektor penambangan mata uang kripto maupun gabungan seluruh sektor pertanian lainnya. Bagi pengguna harian yang mengonsumsi ganja hasil budidaya dalam ruangan, jejak karbon dari kebiasaan itu bisa mencapai hampir setengah dari total konsumsi energi seluruh rumah tangga mereka.

Lebih besar dari emisi tambang batu bara
Riset dari Colorado State University yang terbit di jurnal Nature Sustainability juga memberikan gambaran lebih terperinci. Jason Quinn, salah satu penulis studi sekaligus Direktur Sustainability Research Laboratory di universitas tersebut, menyampaikan bahwa di Colorado, budidaya ganja dalam ruangan menyumbang sekitar 1,7 persen dari total emisi gas rumah kaca tahunan negara bagian itu.

Angka tersebut sebanding dengan emisi dari sektor penambangan batu bara. Penyumbang terbesar emisi tersebut adalah sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC) untuk menjaga kondisi optimal tanaman, lampu tanam berintensitas tinggi, serta penggunaan karbon dioksida tambahan guna memacu pertumbuhan.

Studi yang sama juga membandingkan emisi ganja dengan produk konsumsi lain. Emisi dari 0,1 gram ganja, kira-kira sepertiga dari satu linting, kemungkinan besar melampaui emisi dari segelas bir, anggur, minuman keras, kopi, maupun sebatang rokok.

“Kami sangat terkejut melihat betapa besar dampaknya,” kata Quinn, melansir Reuters.

Lokasi budidaya turut menentukan skala emisi. Memproduksi satu ons (28 gram) ganja kering di Oahu timur, Hawaii, menghasilkan emisi setara dengan membakar sekitar 60 liter bensin, lebih dari dua kali lipat dibanding memproduksi jumlah yang sama di California selatan.

Sumber: cnnidonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

LPS Beberkan Tantangan Baru Stabilitas Sistem Keuangan di Era M-Banking

10 October 2026 - 15:17 WIB

Matahari Buatan China Segera Terwujud, Bakal Menyala 2027

10 October 2026 - 12:01 WIB

Modal Bot dan AI, Pria Ini Raup Ratusan Miliar dari Spotify Lalu Dipenjara

10 October 2026 - 11:52 WIB

AI Anthropic Bikin Geger, Kirim Laporan Pembunuhan Palsu ke Polisi

10 October 2026 - 11:47 WIB

Sony Siapkan Perangkat Baru yang Misterius: PlayStation Portal OLED?

10 October 2026 - 11:39 WIB

Trending on Kabar Lifestyle