Menu

Dark Mode
Usai Deepseek, Perusahaan China Ini Kejutkan Industri AI Inggris Terancam Krisis Air Imbas Pembangunan Data Center Komdigi Tetapkan Telkomsel, XLSmart, Indosat Pemenang Lelang Frekuensi Jutaan Satelit Akan Keliling Bumi Seperti Cincin Saturnus, Mimpi Buruk Bagi Astronomi Orang NPD Bisa Dilihat dari Alis Seseorang, Begini Cirinya Ide Tak Biasa, Ilmuwan Usul Matahari Diredupkan untuk Redam El Nino

Kabar Lifestyle

Di Balik Kepulan Asap Ganja, Ada Ancaman Nyata Krisis Iklim

badge-check


					Di balik kontroversi mengenai status ganja di Indonesia, ada fakta yang jarang 
terungkap, yakni terkait dampaknya ke kelangsungan iklim dunia. (Foto: 
REUTERS/SHANNON STAPLETON)
Perbesar

Di balik kontroversi mengenai status ganja di Indonesia, ada fakta yang jarang terungkap, yakni terkait dampaknya ke kelangsungan iklim dunia. (Foto: REUTERS/SHANNON STAPLETON)

Tanaman ganja penuh kontroversi di Indonesia. Beberapa orang menyebut tanaman ini baik untuk kesehatan karena bisa jadi obat, sementara pihak lainnya kontra karena efek halusinasi yang timbul saat menghisap lintingan ganja.
Namun demikian, di balik kontroversi itu semua, ternyata ada fakta yang jarang orang tahu dari dampak ganja, yakni terkait kelangsungan iklim dunia.

Sejumlah penelitian menemukan bahwa industri budidaya ganja, terutama yang dikembangkan dalam ruangan, merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang kerap luput dari perhatian publik.

Setidaknya penelitian dari lembaga dan universitas menunjukkan pola yang sama: cara ganja diproduksi berdampak langsung terhadap perubahan iklim.

Emisi setara 10 juta kendaraan
Evan Mills, peneliti afiliasi di Lawrence Berkeley National Laboratory, menerbitkan pemutakhiran paling komprehensif terkait hal ini di jurnal One Earth pada Maret 2025.

Dengan melakukan life cycle assessment terhadap seluruh rantai produksi ganja AS, dari budidaya hingga pembuangan limbah, Mills menemukan bahwa industri ini menghasilkan emisi gas rumah kaca sebesar 44 juta ton CO2 per tahun.

Angka itu setara dengan emisi 10 juta kendaraan atau 6 juta rumah tangga, dan mewakili sekitar 1 persen dari total emisi nasional AS di semua sektor. Biaya energinya mencapai US$11 miliar per tahun.

“Pabrik tanaman tanpa jendela dan rumah kaca berteknologi tinggi jauh lebih boros energi dibandingkan dengan budidaya di lahan terbuka, bangunan konvensional, dan beberapa industri,” kata Mills dalam jurnalnya.

Dua pertiga dari 24.000 ton ganja yang diproduksi setiap tahun, baik legal maupun ilegal, ditanam di dalam ruangan tertutup, menggunakan pencahayaan buatan, sistem pengatur suhu dan kelembapan, serta irigasi yang semuanya menyerap listrik dalam jumlah masif. Sekitar 90 persen emisi industri ini bersumber dari operasi budidaya indoor tersebut.

Konsumsi listrik industri ganja AS bahkan melampaui sektor penambangan mata uang kripto maupun gabungan seluruh sektor pertanian lainnya. Bagi pengguna harian yang mengonsumsi ganja hasil budidaya dalam ruangan, jejak karbon dari kebiasaan itu bisa mencapai hampir setengah dari total konsumsi energi seluruh rumah tangga mereka.

Lebih besar dari emisi tambang batu bara
Riset dari Colorado State University yang terbit di jurnal Nature Sustainability juga memberikan gambaran lebih terperinci. Jason Quinn, salah satu penulis studi sekaligus Direktur Sustainability Research Laboratory di universitas tersebut, menyampaikan bahwa di Colorado, budidaya ganja dalam ruangan menyumbang sekitar 1,7 persen dari total emisi gas rumah kaca tahunan negara bagian itu.

Angka tersebut sebanding dengan emisi dari sektor penambangan batu bara. Penyumbang terbesar emisi tersebut adalah sistem pemanas, ventilasi, dan pendingin udara (HVAC) untuk menjaga kondisi optimal tanaman, lampu tanam berintensitas tinggi, serta penggunaan karbon dioksida tambahan guna memacu pertumbuhan.

Studi yang sama juga membandingkan emisi ganja dengan produk konsumsi lain. Emisi dari 0,1 gram ganja, kira-kira sepertiga dari satu linting, kemungkinan besar melampaui emisi dari segelas bir, anggur, minuman keras, kopi, maupun sebatang rokok.

“Kami sangat terkejut melihat betapa besar dampaknya,” kata Quinn, melansir Reuters.

Lokasi budidaya turut menentukan skala emisi. Memproduksi satu ons (28 gram) ganja kering di Oahu timur, Hawaii, menghasilkan emisi setara dengan membakar sekitar 60 liter bensin, lebih dari dua kali lipat dibanding memproduksi jumlah yang sama di California selatan.

Sumber: cnnidonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Usai Deepseek, Perusahaan China Ini Kejutkan Industri AI

21 July 2026 - 21:03 WIB

Inggris Terancam Krisis Air Imbas Pembangunan Data Center

21 July 2026 - 20:59 WIB

Komdigi Tetapkan Telkomsel, XLSmart, Indosat Pemenang Lelang Frekuensi

21 July 2026 - 20:55 WIB

Jutaan Satelit Akan Keliling Bumi Seperti Cincin Saturnus, Mimpi Buruk Bagi Astronomi

21 July 2026 - 20:52 WIB

Orang NPD Bisa Dilihat dari Alis Seseorang, Begini Cirinya

21 July 2026 - 20:46 WIB

Trending on Kabar Lifestyle