Menu ✖

Dark Mode
Dedie Rachim Apresiasi Program Revitalisasi Sekolah dari Pemerintah Pusat Pemkot Bogor Targetkan Penurunan Kabel Udara Sepanjang 20 Kilometer Pemkot Bogor Tegaskan Komitmen Penataan Kabel Udara di Seluruh Kota Terpangkas Sampai 74 Persen, DPRD DIY Desak Pusat Normalisasi Anggaran Transfer Satu Kelurahan di Sleman Terima 100 Juta Pakar Kehutanan UGM Bongkar Penyebab Karhutla RI Sulit Padam

Kabar Lifestyle

Bos Telegram Diselidiki Rusia, Dituduh Bantu Kegiatan Terorisme

badge-check


					Bos Telegram Diselidiki Rusia, Dituduh Bantu Kegiatan Terorisme (Foto: dok. Instagram) Perbesar

Bos Telegram Diselidiki Rusia, Dituduh Bantu Kegiatan Terorisme (Foto: dok. Instagram)

CEO dan co-founder Telegram Pavel Durov kabarnya diselidiki oleh pihak berwenang Rusia atas tuduhan membantu kegiatan terorisme. Penyelidikan ini dilaporkan hanya seminggu setelah Rusia membatasi traffic Telegram.
Menurut laporan Financial Times, media milik pemerintah Rusia menuduh Durov memfasilitasi serangan terhadap Rusia. Telegram juga dituding sebagai senjata intelijen strategis untuk Ukraina dan negara-negara Barat.

Rossiiskaya Gazeta, media milik pemerintah Rusia mengatakan penyelidikan ini dibuka berdasarkan informasi dari badan intelijen federal Rusia. Telegram dituding mencegat data lokasi, menjual informasi rahasia, serta mengintimidasi tentara dan keluarga mereka.

Durov, yang kini tidak lagi tinggal di Rusia, mengkritik investigasi yang diluncurkan pemerintah Rusia. Ia menyebut penyelidikan itu sebagai upaya untuk menekan hak atas privasi dan kebebasan berpendapat.

“Sebuah tontonan menyedihkan dari negara yang takut pada rakyatnya sendiri,” tulis Durov dalam postingannya di media sosial, seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (25/2/2026).

Saat ditanya tentang penyelidikan terhadap Durov, juru bicara pemerintah Rusia Dmitry Peskov mengatakan pihak berwenang telah menemukan sejumlah materi di Telegram yang berpotensi menimbulkan ancaman bagi Rusia.

“Sejumlah besar pelanggaran dan keengganan administrasi Telegram untuk bekerja sama dengan pihak berwenang telah kami catat. Pihak berwenang sedang mengambil tindakan yang mereka anggap tepat,” ujar Peskov.

Rossiiskaya Gazeta, mengutip pernyataan petinggi pemerintah Rusia, mengklaim Telegram telah digunakan dalam 13 dugaan rencana Ukraina yang menargetkan perwira militer senior Rusia, serta dalam puluhan ribu pengeboman, serangan pembakaran, dan pembunuhan sejak awal perang.

Traffic Telegram di Rusia sudah dibatasi sejak awal bulan ini. Pembatasan ini tampaknya dilakukan untuk mendorong warga Rusia beralih ke aplikasi lokal bernama Max.

Pembatasan Telegram dikritik oleh banyak pihak, termasuk kelompok pro-Rusia. Menurut mereka pemblokiran ini merugikan operasi garda depan Rusia di Ukraina karena tentara mereka menggunakan Telegram untuk berkomunikasi dan mengoordinasikan pergerakan mereka.

Pihak berwenang Rusia di dekat perbatasan Ukraina juga menggunakan Telegram untuk mengirimkan peringatan tentang serangan drone dan rudal yang datang. Bahkan juru bicara Presiden Rusia Vladimir Putin menggunakan Telegram untuk berkomunikasi dengan media.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Biaya Internet Rumah Mahal, Komdigi Mau Pangkas Jadi Rp 100 Ribu

14 October 2026 - 15:56 WIB

Kebakaran Hutan Tak Cuma Bakar Pohon Tetapi Juga Menggerus Tanah Gambut

14 October 2026 - 15:52 WIB

Ratusan Supermarket Diretas, Kulkas Dibuat Jadi Panas

14 October 2026 - 15:48 WIB

Karyawan Terancam Dipenjara Usai Rekam Ucapan Bos Saat Rapat

14 October 2026 - 15:44 WIB

iPhone 18 Pro Enggak Laku, Apple Akhirnya Menyerah Tak Mampu Jualan

14 October 2026 - 15:41 WIB

Trending on Kabar Lifestyle