Jakarta – Sebuah rekaman video eksklusif baru saja dirilis, memperlihatkan momen mendebarkan ketika para ilmuwan dan aktor ternama Will Smith berhadapan langsung dengan spesies anaconda raksasa yang baru ditemukan di hutan Amazon.
Penemuan ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan bukti ilmiah yang memecahkan sejarah biologi. Video tersebut menjadi bagian dari seri dokumenter terbaru National Geographic bertajuk “Pole to Pole with Will Smith”.

Momen Menegangkan di Sungai Amazon
Dalam tayangan tersebut, penonton diajak masuk ke Wilayah Baihuaeri Waorani di hutan hujan Amazon Ekuador. Momen ini direkam saat ekspedisi pengambilan sampel pada tahun 2022 untuk studi genetika ular.
Terlihat ahli toksikologi Profesor Bryan Fry dari The University of Queensland, Australia, bersama Will Smith menyusuri sungai keruh menggunakan perahu kano, dipandu oleh masyarakat adat Waorani.
Ketegangan memuncak ketika kelompok tersebut melihat seekor anaconda raksasa sedang beristirahat di lahan terbuka tepi sungai. Tanpa ragu, pemandu Waorani melompat dan memiting kepala ular tersebut agar tim peneliti bisa mengambil sampel darah dan sisiknya.
“Ada bahaya gigitan,” ujar salah satu pemandu dalam video tersebut. Meski tidak berbisa, anaconda adalah constrictor yang membunuh dengan melilit dan meremukkan mangsa. Spesimen betina yang tertangkap kamera itu diperkirakan memiliki panjang antara 4,9 hingga 5,2 meter.
Terpecah Menjadi Dua Spesies Berbeda
Dikutip Live Science, hasil analisis dari sampel yang diambil dalam ekspedisi menegangkan tersebut membawa temuan mengejutkan. Anaconda hijau (Green Anaconda), yang selama ini dianggap hanya satu spesies, ternyata secara genetika terdiri dari dua spesies berbeda.
Para ilmuwan kini mengklasifikasikannya menjadi:
Eunectes murinus: Anaconda hijau selatan (yang sudah dikenal sebelumnya).
Eunectes akayima: Anaconda hijau utara (spesies baru yang ditemukan).
“Menemukan spesies baru sering kali bukanlah hasil pencarian aktif, melainkan proses ilmiah yang ketat di mana keberuntungan juga berperan,” ungkap Profesor Fry kepada Live Science.
Data menunjukkan bahwa kedua spesies ini berpisah jalur evolusi sekitar 10 juta tahun yang lalu. Perbedaan DNA mereka mencapai 5,5 persen. Sebagai perbandingan, perbedaan DNA antara manusia dan simpanse saja hanya sekitar 2 persen.
Habitat dan Pola Makan yang Berbeda
Sesuai namanya, Eunectes akayima atau anaconda hijau utara mendiami cekungan Amazon bagian utara, meliputi Ekuador, Kolombia, Venezuela, hingga Guyana. Sementara kerabat selatannya mendiami wilayah Brasil, Peru, dan Bolivia.
Profesor Fry juga menyoroti fakta menarik mengenai dimorfisme seksual ular ini. Anaconda betina tumbuh jauh lebih besar daripada jantan. Hal ini membuat pola makan mereka berbeda drastis.
Betina memangsa hewan herbivora besar seperti rusa, sementara anaconda jantan lebih banyak memakan ikan predator dan caiman. Perbedaan menu makanan ini ternyata berdampak pada kesehatan ular itu sendiri.
Penelitian ini juga mengungkap sisi gelap pencemaran lingkungan di Amazon. Karena anaconda jantan memakan ikan predator, mereka mengakumulasi lebih banyak logam berat dari air sungai yang tercemar, seperti akibat tumpahan minyak.
“Konsentrasi logam berat kadmium dan timbal pada jantan lebih dari 1.000 persen lebih tinggi dibandingkan betina,” jelas Fry. “Itu bukan perbedaan kecil. Itu adalah sinyal peringatan.”
Temuan ini kemudian digunakan Fry untuk menyusun panduan kesehatan bagi masyarakat Waorani. Ia merekomendasikan agar ibu hamil dan anak-anak menghindari konsumsi ikan predator tingkat atas seperti arapaima dan arowana karena risiko kontaminasi yang tinggi.
Video lengkap pertemuan dengan “monster” sungai Amazon ini dapat disaksikan dalam seri “Pole to Pole with Will Smith” yang tayang perdana pada 13 Januari di National Geographic, serta tersedia secara streaming di Disney+ dan Hulu mulai 14 Januari.
Sumber: detik.com














