Menu

Dark Mode
572 Atlet Kota Bogor Siap Raih 100 Emas Porprov Ikhtiar KONI Kota Bogor Penuhi Target 100 Emas Tirta Pakuan Fokus Ajak Warga dan Sektor Usaha Gunakan Air PDAM Sinergi Teknologi di HKB 2026: Panaragan Jadi Pilot Project Mitigasi Longsor Berbasis EWS HKB 2026, BPBD Kota Bogor Gerakkan 27 Keltana dalam Aksi Mitigasi Serentak Tingkatkan Kualitas dan Kompetensi Pembina, Pramuka Kota Bogor Gelar Karang Pamitran

Kabar Lifestyle

Pakar ITB Paparkan Risiko Gunung Api Dormant di Indonesia

badge-check


					Ilustrasi gunung api meletus. Foto: Two Continents Perbesar

Ilustrasi gunung api meletus. Foto: Two Continents

Dunia vulkanologi dikejutkan oleh letusan Gunung Hayli Gubbi di Etiopia yang kembali aktif setelah tertidur lebih dari 12.000 tahun. Fenomena langka ini menarik perhatian para peneliti, termasuk pakar vulkanologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr. Eng. Ir. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T.

Ia memberikan penjelasan mengenai klasifikasi gunung api serta potensi ancaman gunung api dormant di Indonesia. Menurut Mirzam, secara umum gunung api dibagi menjadi tiga kategori: aktif, dormant, dan padam (extinct). Namun, ia menekankan bahwa batasan ketiganya tidak selalu mudah ditentukan.

“Klasifikasi ini kadang membingungkan dan tidak mudah dipahami secara tegas, terutama terkait batasan waktunya,” jelasnya, seperti dikutip dari situs resmi ITB.

Jenis-jenis Gunung Api

Gunung api disebut aktif apabila pernah meletus sejak periode Holosen (sekitar 11.650 tahun terakhir). “Ini tidak berarti gunung api tersebut harus meletus sekarang, tetapi menunjukkan bahwa sistem magmanya masih relatif aktif dan berpotensi menghasilkan erupsi,” tambahnya.

Kategori kedua adalah gunung api dormant, yakni gunung yang tidak meletus selama ribuan tahun tetapi masih memiliki potensi untuk kembali bangkit.

“Dormant digunakan untuk menyebut gunungapi yang beristirahat, meski tidak lebih dari 11.650 tahun yang lalu,” kata Dr. Mirzam.

Ia lalu mencontohkan dua kasus penting. Pertama, Gunung Sinabung yang kembali aktif pada 2010 setelah tidur lebih dari 400 tahun, dan Gunung Hayli Gubbi di Etiopia yang meletus setelah lebih dari 12.000 tahun dormansi.

“Keduanya menunjukkan bahwa gunung api dormant dapat kembali meletus setelah istirahat panjang,” ujarnya.

Dalam kategori dormant, terdapat subjenis yang perlu diperhatikan, yaitu restless volcano, atau gunung api yang tampak tenang tetapi memperlihatkan aktivitas magmatik di bawah permukaan.

“Kelompok ini menunjukkan tanda-tanda pergerakan magma di bawah permukaan meskipun tidak sedang meletus,” jelasnya.

Di Indonesia, subkelompok ini dikenal sebagai gunungapi tipe B, dan jumlahnya cukup banyak. “Setidaknya terdapat 30 gunungapi tipe B yang tersebar di Sumatra, Jawa, Bali-Nusa Tenggara, dan Maluku,” tambahnya.

Kategori terakhir adalah extinct, yaitu gunung api yang sudah tidak memiliki pasokan magma aktif. “Gunungapi extinct merupakan gunungapi yang sistem magmanya telah padam atau berakhir,” kata Mirzam.

Contoh gunung api kategori ini antara lain Gunung Thielsen di Oregon dan Gunung Baluran di ujung timur Pulau Jawa.

Risiko Indonesia dengan 127 Gunung Api

Indonesia merupakan salah satu negara dengan gunung api terbanyak di dunia. “Sekitar 16% gunung api dunia, atau 127 gunung api, berada di Indonesia,” ujar sosok yang juga menjabat sebagai Scientific Advisor Global Volcano Risk Alliance ini.

Besarnya jumlah penduduk yang tinggal di lereng gunung api ikut menambah kerentanan. Lebih dari 350 juta orang di dunia hidup dalam radius 30 km dari gunung api aktif atau berpotensi aktif, dan 29 juta di antaranya berada kurang dari 10 km dari kawah.

Ia juga menyoroti minimnya sistem pemantauan global. “Kurang dari 50% gunung api di dunia dilengkapi dengan pemantauan yang memadai,” ungkapnya.

Kasus letusan dahsyat El Chichón di Meksiko pada 1982 serta kebangkitan Sinabung menjadi pengingat bahwa gunung api dormant pun dapat menimbulkan bahaya besar.

Menutup penjelasannya, Mirzam menekankan pentingnya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dinamika gunung api. “Belajar, memahami, dan mengenal gunungapi adalah cara terbaik untuk hidup harmonis bagi kita yang tinggal di kawasan Ring of Fire,” ujarnya.

Sumber: detik.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

50+ Ucapan Selamat Hari Kartini 2026 untuk WhatsApp Status & IG Story

21 April 2026 - 11:22 WIB

Johny Srouji Jadi Bos Hardware Apple, Peran Makin Besar

21 April 2026 - 11:19 WIB

Pelihara Puluhan Ribu Ular Mematikan, Gadis Ini Dapat Rp 2,5 Miliar

21 April 2026 - 11:17 WIB

Jakarta Dorong UMKM Go Digital, Perputaran Ekonomi Capai Rp67,5 Triliun

19 April 2026 - 13:41 WIB

Total Football VNG Rilis Jelang Piala Dunia 2026, Gandeng Rizky Ridho

19 April 2026 - 13:38 WIB

Trending on Kabar Lifestyle