Menu

Dark Mode
Hot51 Terseret Kasus Judol dan Porno, Apa Sebenarnya Aplikasi Ini? Prancis Dilanda Panas Ekstrem Tapi Penggunaan AC Didebat, Kok Bisa? Elon Musk Bikin Konstelasi Raksasa Baru, Namanya Starmind Apakah Bisa Cek Sisa Umur HP Android? Ini Caranya Di Balik Kepulan Asap Ganja, Ada Ancaman Nyata Krisis Iklim Ustazah Diduga Hasil AI Viral di TikTok, Followers Tembus 920 Ribu

Kabar Bogor

Ancaman Kesehatan Mental di Era Digital, Screen Time Maksimal 3 Jam

badge-check


					Ancaman Kesehatan Mental di Era Digital, Screen Time Maksimal 3 Jam Perbesar

Komunikasi adalah bagian penting dalam kehidupan manusia, baik itu dilakukan sendiri maupun dengan kelompok. Kehidupan sosial mendorong antar individu untuk saling interaksi dengan individu lainnya karena setiap manusia memerlukan bantuan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan mereka masing-masing.

Terlebih, pada era digital membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya. Mulai dari bekerja, bermedia sosial, menikmati hiburan, dan bermain game online.

Meski banyak memberikan manfaat, kebiasaan ini juga tidak dipungkiri membawa berbagai ancaman risiko kesehatan mental.

Psikiater Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Marzuki Mahdi (PKJN RSMM), dr Lahargo Kembaren membeberkan risiko kesehatan mental yang dapat ditimbulkan, antara lain adiksi (kecanduan) internet, kesepian (loneliness), ansietas, dan depresi.

“Risiko lain yakni penurunan fungsi kognitif (brain root) untuk fokus, konsentrasi, memori dan pengambilan keputusan karena sering menonton video pendek. Selain itu risiko gangguan bicara (speech delay) pada anak,” ungkap dia.

Untuk terhindar dari bahaya tersebut, Lahargo menyarankan masyarakat agar mulai mengatur screen time selama maksimal tiga jam sehari. Hanya untuk hiburan, medsos, dan bermain game.

Ia juga mendorong masyarakat menyeimbangkan aktivitas digital dengan aktivitas non digital seperti olahraga, bermusik, mengikuti komunitas, kegiatan keagamaan dan hobi-hobi lainnya.

“Canangkan gerakan rindulah mata yang menatap dan bukan jari yang mengetik. Kemudian kenali tanda-tanda kecanduan atau adiksi digital seperti muncul masalah mental emosional, performa dalam keseharian menurun, hubungan dengan orang lain terganggu,” jelas dia.

Lahargo menyarankan masyarakat melakukan digital detoksifikasi, yakni pengurangan atau penghentian penggunaan media digital untuk kurun waktu tertentu. Tujuannya memberi kesempatan bagi otak dan badan istirahat.

Selanjutnya menghindari berkunjung ke situs-situs yang tidak bermanfaat dan berguna, bahkan memberikan efek negatif, seperti berita berita hoaks, kekerasan, dan pornografi.

“Konsultasi ke profesional kesehatan jiwa bila sudah mulai sulit untuk melepaskan diri dari adiksi digital,” seru Lahargo.

Upaya bersama untuk memahami dan mengelola dampak psikologis dari interaksi daring, serta penggunaan teknologi yang bijak, menjadi landasan untuk menciptakan lingkungan digital yang mendukung kesejahteraan mental. Dengan demikian dapat membangun fondasi yang kuat bagi kesejahteraan psikologis di dunia digital saat ini. KMF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Hot51 Terseret Kasus Judol dan Porno, Apa Sebenarnya Aplikasi Ini?

27 June 2026 - 11:39 WIB

Prancis Dilanda Panas Ekstrem Tapi Penggunaan AC Didebat, Kok Bisa?

27 June 2026 - 11:35 WIB

Elon Musk Bikin Konstelasi Raksasa Baru, Namanya Starmind

27 June 2026 - 11:31 WIB

Apakah Bisa Cek Sisa Umur HP Android? Ini Caranya

27 June 2026 - 11:24 WIB

Di Balik Kepulan Asap Ganja, Ada Ancaman Nyata Krisis Iklim

27 June 2026 - 11:21 WIB

Trending on Kabar Lifestyle