Menu ✖

Dark Mode
Pidato di PBB, Netanyahu Bawa Starlink Sambil Sindir Iran Mau Bikin Data Center di Luar Angkasa, Google Uji Chip AI di Orbit Komdigi Dorong Transfer AI – Cloud dalam Investasi Microsoft di RI ‘Nostradamus’ China Ramal Tragedi Serupa 9/11 Terjadi Lagi Bumi Makin Panas, 12 Triliun Ton Es Meleleh dalam 47 Tahun NASA Pamer ‘Hantu’ 5 Bintang Meledak dalam Satu Foto

Kabar Bogor

Ancaman Kesehatan Mental di Era Digital, Screen Time Maksimal 3 Jam

badge-check


					Ancaman Kesehatan Mental di Era Digital, Screen Time Maksimal 3 Jam Perbesar

Komunikasi adalah bagian penting dalam kehidupan manusia, baik itu dilakukan sendiri maupun dengan kelompok. Kehidupan sosial mendorong antar individu untuk saling interaksi dengan individu lainnya karena setiap manusia memerlukan bantuan satu sama lain untuk memenuhi kebutuhan mereka masing-masing.

Terlebih, pada era digital membuat masyarakat lebih banyak menghabiskan waktunya berselancar di dunia maya. Mulai dari bekerja, bermedia sosial, menikmati hiburan, dan bermain game online.

Meski banyak memberikan manfaat, kebiasaan ini juga tidak dipungkiri membawa berbagai ancaman risiko kesehatan mental.

Psikiater Pusat Kesehatan Jiwa Nasional Rumah Sakit Marzuki Mahdi (PKJN RSMM), dr Lahargo Kembaren membeberkan risiko kesehatan mental yang dapat ditimbulkan, antara lain adiksi (kecanduan) internet, kesepian (loneliness), ansietas, dan depresi.

“Risiko lain yakni penurunan fungsi kognitif (brain root) untuk fokus, konsentrasi, memori dan pengambilan keputusan karena sering menonton video pendek. Selain itu risiko gangguan bicara (speech delay) pada anak,” ungkap dia.

Untuk terhindar dari bahaya tersebut, Lahargo menyarankan masyarakat agar mulai mengatur screen time selama maksimal tiga jam sehari. Hanya untuk hiburan, medsos, dan bermain game.

Ia juga mendorong masyarakat menyeimbangkan aktivitas digital dengan aktivitas non digital seperti olahraga, bermusik, mengikuti komunitas, kegiatan keagamaan dan hobi-hobi lainnya.

“Canangkan gerakan rindulah mata yang menatap dan bukan jari yang mengetik. Kemudian kenali tanda-tanda kecanduan atau adiksi digital seperti muncul masalah mental emosional, performa dalam keseharian menurun, hubungan dengan orang lain terganggu,” jelas dia.

Lahargo menyarankan masyarakat melakukan digital detoksifikasi, yakni pengurangan atau penghentian penggunaan media digital untuk kurun waktu tertentu. Tujuannya memberi kesempatan bagi otak dan badan istirahat.

Selanjutnya menghindari berkunjung ke situs-situs yang tidak bermanfaat dan berguna, bahkan memberikan efek negatif, seperti berita berita hoaks, kekerasan, dan pornografi.

“Konsultasi ke profesional kesehatan jiwa bila sudah mulai sulit untuk melepaskan diri dari adiksi digital,” seru Lahargo.

Upaya bersama untuk memahami dan mengelola dampak psikologis dari interaksi daring, serta penggunaan teknologi yang bijak, menjadi landasan untuk menciptakan lingkungan digital yang mendukung kesejahteraan mental. Dengan demikian dapat membangun fondasi yang kuat bagi kesejahteraan psikologis di dunia digital saat ini. KMF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Pidato di PBB, Netanyahu Bawa Starlink Sambil Sindir Iran

25 September 2026 - 15:27 WIB

Mau Bikin Data Center di Luar Angkasa, Google Uji Chip AI di Orbit

25 September 2026 - 15:20 WIB

Komdigi Dorong Transfer AI – Cloud dalam Investasi Microsoft di RI

25 September 2026 - 15:06 WIB

‘Nostradamus’ China Ramal Tragedi Serupa 9/11 Terjadi Lagi

25 September 2026 - 15:01 WIB

Bumi Makin Panas, 12 Triliun Ton Es Meleleh dalam 47 Tahun

25 September 2026 - 14:54 WIB

Trending on Kabar Lifestyle