65 Santri Bina Madani Positif, Dedie: Kuncinya Prokes Ketat

Paska diketahui 65 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Bina Madani di RW 12 Kelurahan Harjasari, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, yang dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19, Wakil Wali Kota Bogor menegaskan jika penularan itu terjadi karena kurang dijalankannya prokes (protokol kesehatan).

“Sekarang terbukti kalau kita tidak hati – hati, tidak ada prokes ketat, risikonya ada paparan. Baik di jalan, kendaraan umum, tempat asal, dan lain – lain,” jelas Dedie.

Dengan adanya kasus ini, lanjut Dedie, berpengaruh besar dengan proses uji coba Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang saat ini masih berlangsung.

“Kegiatan di ponpes tersebut ditutup dan ditiadakan sementara. Termasuk kegiatan peribadatan yang melibatkan warga itu dikurangi atau bahkan dibatasi. Kita sedang melakukan tracing lagi untuk mereka yang melakukan kontak erat dengan santri. Terutama selama dalam proses perjalanan dari daerah asal masing – masing sampai ke Bogor,” jelas Dedie.

Sebelumnya  penghuni Pondok Pesantren Bina Madani yang berjumlah 453 orang,  terdiri atas 176 orang santri putri, 222 orang santri putra, pengurus putri 34 orang, dan pengurus putra 21 orang , melakukan test Swab PCR massal yang dilakukan sehari sebelumnya,  Minggu (6/6/2021).

Diketahui ada 65 kasus positif saat ini,   56 orang dirawat di BPKP Ciawi, 8 orang diisolasi di rumah serta 1 orang masih di pesantren dan sedang dievakuasi.

“Hari ini kita mendapatkan update dari 454 orang yang sudah diswab test PCR, ada 33 santri yang terkonfirmasi positif. Jadi menambah dari yang sebelumnya ada 32 santri  yang dirawat di pusat isolasi di BPKP Ciawi. Dari 33 kasus penambahan tersebut, 20 merupakan santri putra. Sisanya adalah 13 santri wanita.” katanya

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Kota Bogor, Bima Arya yang juga Wali Kota Bogor menambahkan, 33 santri yang baru terkonfirmasi Covid segera diisolasi dan ponpes ditutup sementara.

“Kita siapkan logistik, posko gabungan, vitaminnya dan sebagainya,” kata Bima.

Dari dua klaster (Griya Melati dan Bina Madani) kata Wali Kota Bogor ini, maka dapat disimpulkan penularan itu terjadi akibat perjalanan dari luar kota.

“Saya perintahkan lurah dan camat bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) mendata mana saja pesantren yang akan melaksanakan Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Tes PCR wajib bagi semua, sebelum tatap muka,” tegasnya.

penulis pratama

editor Herman

image_pdfimage_print
Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *