Topi Milik Napoleon Bonaparte Laku Terjual Rp 5,6 Miliar di Prancis

SEBUAH topi yang diyakini milik Napoleon Bonaparte saat kalah dalam peperangan Waterloo, 203 tahun yang lalu terjual pada Senin 18 Juni 2018 dengan harga US$ 400 ribu atau setara dengan Rp 5,6 miliar.

Dikutip dari laman New York Times, Kamis (21/6/2018), topi berwarna hitam itu terjual dalam pelelangan di Lyon, Prancis.

Topi tersebut laku terjual dengan harga yang lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yaitu sekitar Rp 650 juta.

Balai lelang De Baecque menyebut, pembeli topi ikonik milik Napoleon Bonaparte tersebut adalah seorang kolektor asal Eropa yang sangat menyukai Kaisar Pertama Prancis tersebut.

Meski demikian, identitas dari pembeli tak disebutkan secara gamblang oleh pihak lelang.

“Napoleon adalah sosok yang sangat terkenal di seluruh dunia,” kata juru lelang, Etienne de Baecque.

De Baecque mengatakan, topi yang dijual itu terdokumentasi dengan baik dan ada jaminan kuat bahwa benda itu adalah milik Napoleon.

Dari catatan sebelumnya, topi tersebut telah berpindah tangan beberapa kali dan pernah dipamerkan 1897 di Brussels.

Diketahui ada sekitar 120 topi milik Napoleon Bonaparte yang ia digunakan selama berkuasa antara 1799 hingga 1815.

“Ini topi yang sangat sederhana. Pasti benda ini dipakai dalam kehidupan sehari-hari,” ujar De Baecque.

Napoleon Bonaparte meninggal dunia pada 5 Mei 1821. Sebagai orang yang diasingkan. Napas penghabisan ia embuskan di Pulau Saint Helena di sebelah selatan Samudra Atlantik, jauh dari Prancis, tanah air yang ia cintai.

Empat tahun di pengasingan, kondisi kesehatannya menurun drastis. Ada yang tak beres dengan perut Sang Kaisar Prancis, dari gejalanya, ia diduga sakit maag atau bahkan kanker.

Beberapa bulan sebelum hidupnya tamat, Napoleon Bonaparte dalam kondisi tak berdaya. Ia tak sanggup bangun dari tempat tidur, tubuhnya kian melemah dan payah.

Dokter pribadinya, Barry O’Meara, telah memperingatkan London bahwa kondisi kesehatan Napoleon yang menurun terutama disebabkan oleh perlakuan kasar yang ia terima.

Patah hati, Napoleon Bonaparte — pemimpin militer dan politik Prancis, salah satu panglima perang terhebat dalam sejarah, sang penakluk Eropa — mengurung diri selama berbulan-bulan di kediamannya yang lembap dan jauh dari layak di Longwood.

Napoleon meninggal setelah melakukan sakramen pertobatan di hadapan Pastor Ange Vignali. Kata-kata terakhirnya adalah: France, l’armée, tête d’armée, Joséphine — Prancis, tentara, panglima, Joséphine. Nama terakhir yang ia sebut di penghujung napas adalah istrinya yang paling dicintai.

Meski ia dinyatakan mangkat karena sakit. Wasiat yang ia ucapkan pada awal April 1821 memicu syak wasangka.

“Aku berharap, abu jenazahku disebar di tepian Sungai Seine, di tengah-tengah orang Prancis yang sangat saya cintai. Aku mati sebelum waktunya, dibunuh oleh oligarki Inggris dan para pembunuh bayarannya.” Meski meminta jasadnya dipulangkan ke Prancis, wasiat Napoleon tak dituruti pihak Inggris yang mengasingkannya.

Pemerintah Britania Raya memutuskan, Napoleon Bonaparte harus dimakamkan di Pulau Saint Helena, di Valley of the Willows.

Baru pada 1840, 19 tahun setelah kematiannya, Raja Prancis Louis Philippe I mendapat izin dari Inggris untuk mengembalikan jasad Napoleon ke Prancis.

Pada 15 Desember 1840, sebuah pemakaman akbar digelar, iring-iringan kereta jenazah yang membawa jasad sang kaisar berangkat dari Arc de Triomphe ke Champs-Élysées, melintasi Place de la Concorde ke Esplanade des Invalides, menuju kubah Kapel St Jérôme. Di sanalah, hingga kini, jasad Napoleon Bonaparte disemayamkan.

****

Sumber ; New York Times

Foto : liputan6

image_pdfimage_print
Share

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *