Menu ✖

Dark Mode
Perkuat Kolaborasi, TP PKK Kota Makassar Lakukan Studi Tiru ke Kota Bogor Zuckerberg Menyerah Setelah Kacamatanya Dihujat Habis-Habisan Sam Altman Desak Dewan Keamanan PBB Adopsi Standar AI Internasional Inggris Sebut Krisis Iklim Ancam Pertahanan Banyak Negara Mantan Bos Keamanan Google: AI Lebih Membahayakan untuk Anak daripada Medsos Agen AI OpenAI Retas Situs Kesehatan Pemerintah Australia: PM Albanese Geram

Kabar Lifestyle

Krisis Iklim Bisa Bikin Manusia Makin Kesepian

badge-check


					Ilustrasi. Krisis iklim memperburuk kesepian dengan mengganggu interaksi 
sosial dan merusak ruang berkumpul. (Foto: Istockphoto/Tunatura)
Perbesar

Ilustrasi. Krisis iklim memperburuk kesepian dengan mengganggu interaksi sosial dan merusak ruang berkumpul. (Foto: Istockphoto/Tunatura)

Krisis iklim tak hanya mengubah lingkungan, tetapi juga dapat memperburuk kesepian dengan membatasi interaksi sosial dan merusak ruang berkumpul masyarakat.

Badai, gelombang panas, banjir, hingga kebakaran hutan dapat membatalkan festival, menghentikan kegiatan komunitas, dan membuat warga memilih bertahan di dalam rumah.

Fiona Doherty, asisten profesor bidang pekerjaan sosial di University of Tennessee, mengatakan hubungan sosial merupakan bagian penting dari kesejahteraan individu dan masyarakat.

“Saya meneliti krisis sosial dan lingkungan yang saling berkaitan, termasuk keterasingan sosial dan cuaca ekstrem. Saya menemukan bahwa salah satu dampak perubahan iklim yang paling sering terabaikan mungkin adalah potensinya untuk memperburuk epidemi kesepian,” kata Doherty dalam tulisannya pada Rabu (5/8).

Menurutnya, interaksi dengan orang lain membantu menjaga otak tetap aktif, menurunkan stres, serta dapat menyelamatkan nyawa ketika bencana terjadi.

Misalnya, saat suhu melonjak, teman dan tetangga dapat membagikan peringatan panas, memeriksa kondisi lansia, serta membantu menyiapkan tempat perlindungan berpendingin udara.

Namun, cuaca ekstrem yang semakin sering justru dapat melemahkan jaringan sosial tersebut.

“Orang-orang tidak ingin meninggalkan rumah ketika cuaca sangat panas. Mereka tidak ingin menghadiri acara dan berada di tengah masyarakat,” kata seorang pekerja sosial berusia 28 tahun kepada tim peneliti Doherty di wilayah pedesaan Appalachia, Amerika Serikat (AS).

Doherty menyebut panas ekstrem membuat warga menghindari aktivitas luar ruangan dan memilih berada di dekat pendingin udara atau kipas.

Badai dan banjir juga dapat membuat perjalanan berbahaya atau tidak mungkin dilakukan. Akibatnya, warga kesulitan menemui keluarga atau menghadiri pertemuan sosial.

Selain itu, cuaca ekstrem juga dapat menyebabkan listrik padam serta mengganggu internet dan jaringan seluler.

Gangguan tersebut memutus komunikasi melalui telepon, pesan singkat, media sosial, dan surat elektronik ketika informasi justru sangat dibutuhkan.

“Ketika listrik padam, kami tidak memiliki layanan telepon seluler. Tanpa telepon, Anda benar-benar kehilangan seluruh koneksi,” kata seorang warga pedesaan berusia 74 tahun.

Ruang berkumpul ikut hilang
Krisis iklim juga dapat mengubah atau merusak tempat yang memiliki makna budaya dan sosial.

Banjir dapat merusak dan menghilangkan fungsi ruang terbuka yang biasa digunakan warga untuk berenang, piknik, dan berkumpul.

Doherty menyinggung pengalaman pribadinya sebagai salah satu contoh ketika sebuah danau kecil tempat keluarga-keluarga berenang dan berpiknik di kota kelahirannya rusak karena badai.

“Saya menyaksikan hal ini secara langsung ketika Badai Irene dan Badai Tropis Lee melanda kota kelahiran saya, Cherry Valley, New York, pada 2011. Setelah air banjir menjebol tanggul, sebuah tempat komunitas yang sangat disayangi yang dikenal sebagai “the reservoir” menjadi kosong, sehingga komunitas pedesaan kami kehilangan salah satu dari sedikit tempat berkumpul yang dimilikinya,” tutur Doherty.

Kekeringan berkepanjangan juga dapat menurunkan permukaan air sungai dan danau, meningkatkan risiko kebakaran hutan, serta merusak hasil pertanian yang menopang tradisi masyarakat.

Menurut Doherty, hilangnya tempat dan tradisi tersebut dapat mengurangi pengalaman bersama yang membantu menjaga hubungan antargenerasi.

Ia mengatakan dampak sosial ini paling berat dirasakan kelompok yang sebelumnya sudah terisolasi, seperti lansia, warga pedesaan, serta orang yang tidak memiliki akses transportasi dan internet yang memadai.

Untuk menjaga hubungan sosial di tengah cuaca ekstrem, Doherty menyarankan pemerintah berinvestasi pada pusat komunitas, seperti perpustakaan umum, yang dapat berfungsi sebagai tempat berkumpul sekaligus pusat ketahanan iklim.

Sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Zuckerberg Menyerah Setelah Kacamatanya Dihujat Habis-Habisan

24 September 2026 - 19:38 WIB

Sam Altman Desak Dewan Keamanan PBB Adopsi Standar AI Internasional

24 September 2026 - 19:31 WIB

Inggris Sebut Krisis Iklim Ancam Pertahanan Banyak Negara

24 September 2026 - 19:26 WIB

Mantan Bos Keamanan Google: AI Lebih Membahayakan untuk Anak daripada Medsos

24 September 2026 - 19:20 WIB

Agen AI OpenAI Retas Situs Kesehatan Pemerintah Australia: PM Albanese Geram

24 September 2026 - 19:13 WIB

Trending on Kabar Lifestyle