Jakarta – Pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia tengah memasuki tahap akselerasi. Di berbagai sektor-mulai dari keuangan, industri kreatif, hingga layanan publik-AI kini tidak lagi dipandang sebagai eksperimen, melainkan telah menjadi komponen penting dalam operasional, pengambilan keputusan, dan penciptaan nilai bisnis.
Bank Indonesia, misalnya, telah menggunakan AI untuk mengolah data berskala besar dalam mendukung perumusan kebijakan serta pengawasan berbasis risiko. Tren ini mencerminkan pergeseran global, di mana lebih dari 70 persen organisasi telah mengadopsi AI dalam berbagai bentuk.

Sejalan dengan itu, pemerintah menempatkan AI sebagai salah satu pilar utama menuju Indonesia Emas 2045. Teknologi ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan meningkatkan produktivitas lintas sektor. Bahkan, AI generatif diperkirakan akan memberikan kontribusi ratusan triliun rupiah terhadap PDB nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Melalui Strategi Nasional AI 2020-2045, Indonesia juga menegaskan fokus pengembangan AI, IoT, dan robotika canggih untuk mendukung sektor prioritas seperti kesehatan, pendidikan, mobilitas, smart-city, serta reformasi birokrasi.
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul tantangan mendasar: sejauh mana organisasi di Indonesia siap mengembangkan dan menerapkan AI secara luas dengan aman, andal, dan bertanggung jawab?
AI Masuk ke Operasional, Risiko Ikut Meningkat
Peran AI kini semakin melekat dalam alur kerja sehari-hari. Sistem AI tidak hanya mengotomasi proses, tetapi mulai bertindak sebagai mitra kerja digital.
Masalahnya, sebagian besar sistem AI berjalan di lingkungan IT yang campuran, menggabungkan server lokal dan berbagai layanan cloud. Ketika data tersebar dan visibilitas terbatas, gangguan sering kali baru terdeteksi setelah berdampak pada pelanggan atau regulator.
Kondisi ini menjadikan visibilitas real-time, kecerdasan operasional, dan pengawasan keamanan sebagai prasyarat utama dalam kesiapan AI. Setiap celah sistem kini berpotensi menjadi risiko bisnis, bukan sekadar isu teknis.
Fondasi Lama Bertemu Beban Kerja Baru
Banyak organisasi di Indonesia masih bergantung pada sistem on-premise. Ketika beban kerja AI mulai dikembangkan dan diterapkan secara luas di atas fondasi ini, kompleksitas meningkat. Data menjadi terfragmentasi, proses penelusuran masalah melambat, dan permukaan serangan digital meluas.
Dampaknya sangat terasa di sektor kritikal seperti perbankan, telekomunikasi, energi, dan kesehatan, di mana gangguan kecil sekalipun dapat berimplikasi besar terhadap layanan dan kepercayaan publik.
“AI dapat mempercepat bisnis secara signifikan, tetapi hanya jika fondasinya kuat,” ujar Robert Pizzari, Group Vice President Asia, Splunk pada Kamis (29/1/2026).
“Tanpa keamanan, visibilitas, dan kepatuhan, percepatan tersebut justru berubah menjadi risiko. Splunk membantu organisasi menjaga keseimbangan antara inovasi dan keandalan.”
Splunk Cloud Hadir di Indonesia
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Splunk Cloud kini tersedia di AWS Indonesia Region. Platform ini dirancang sebagai layanan SaaS terkelola yang mampu mengumpulkan dan menganalisis data dari lingkungan on-premise maupun cloud.
Dengan dukungan AI dan machine learning, Splunk Cloud memberikan wawasan real-time mengenai kinerja sistem serta potensi risiko. Solusi seperti Splunk IT Service Intelligence (ITSI) membantu mengorelasikan data dan menekan kebisingan alert, sementara Splunk Enterprise Security mempercepat respons insiden dan meningkatkan ketahanan keamanan.
Splunk mencatat, kapabilitas ini mampu meningkatkan akurasi deteksi ancaman hingga 111 persen, meningkatkan efisiensi operasi keamanan sebesar 64 persen, serta mempercepat penyelesaian insiden hingga 55 persen.
Kepatuhan Sejak Awal, Bukan Setelahnya
Di tengah percepatan AI, tuntutan terhadap kepatuhan dan perlindungan data juga semakin tinggi. Di Indonesia, Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi (PDP) menetapkan kerangka jelas bagi pengelolaan data yang bertanggung jawab.
“Splunk Cloud membantu organisasi bergerak lebih cepat dengan AI tanpa mengorbankan keamanan dan kepatuhan,” kata Pizzari.
“Ketersediaan lokal juga memberikan fleksibilitas dalam mengelola lokasi data serta mengurangi latensi.”
Menuju Ketahanan sebagai Strategi
Era AI tidak menunggu siapa pun. Keunggulan kompetitif tidak hanya dimiliki oleh perusahaan yang paling cepat mengadopsi AI, tetapi oleh mereka yang mampu mengembangkan penggunaan AI secara berkelanjutan dengan fondasi yang kuat.
Dengan memperkuat keamanan, memastikan kepatuhan, dan menghadirkan visibilitas menyeluruh, perusahaan Indonesia dapat menjadikan AI sebagai penggerak pertumbuhan jangka panjang bukan sumber risiko baru.
Sumber: detik.com














