Menu

Dark Mode
Program Kerja 2026 Ditetapkan, Pramuka Kota Bogor Makin Tancap Gas Ketua DPRD Adityawarman Adil Apresiasi Sinergi TNI dalam Pembangunan Jembatan Garuda Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah Sidak Pasar Gembrong dan Jambu Dua, Komisi II DPRD Kota Bogor Soroti Kenaikan Harga dan Akses Angkot ​DPRD Kota Bogor dan Disnaker Bahas Persiapan THR, Siapkan Posko Pengaduan Terima Pemuda Al-Irsyad, Adityawarman: Salut untuk Pemuda yang Beraktualisasi di Bidang Sosial

Kabar Lifestyle

Tahun Depan, HP Android Diramal Makin Mahal

badge-check


					Samsung resmi merilis ponsel flagship terbarunya, Galaxy S25 series pada Kamis (23/1/2025) dini hari waktu Indonesia. Ada tiga ponsel yang diperkenalkan yaitu Samsung Galaxy S25 reguler, Galaxy S25 Plus, dan Galaxy S25 Ultra. (KOMPAS.com/GALUH PUTRI RIYANTO) Perbesar

Samsung resmi merilis ponsel flagship terbarunya, Galaxy S25 series pada Kamis (23/1/2025) dini hari waktu Indonesia. Ada tiga ponsel yang diperkenalkan yaitu Samsung Galaxy S25 reguler, Galaxy S25 Plus, dan Galaxy S25 Ultra. (KOMPAS.com/GALUH PUTRI RIYANTO)

Harga smartphone Android diprediksi akan semakin mahal pada 2026 mendatang. Sejumlah analis mengatakan, kenaikan ini dipicu oleh biaya produksi yang makin besar, terutama biaya pasokan komponen RAM.

Komponen RAM atau memori sendiri merupakan bagian penting dalam sebuah ponsel sehingga berkontribusi langsung terhadap biaya produksi.

Saat ini, industri RAM secara global tengah mengalami kelangkaan. Kelangkaan pasokan terjadi karena industri AI menyerap produksi memori dalam jumlah besar, terutama untuk kebutuhan server dan data center.

Sebagai contoh, pusat data (data center) milik perusahaan teknologi besar, seperti Google, Meta, Amazon, Nvidia, hingga OpenAI, kini menyerap RAM dan dan chip penyimpanan dalam jumlah besar untuk menopang kebutuhan komputasi AI.

Dalam situasi tersebut, beberapa produsen memori, seperti Samsung, SK Hynix, atau Micron, disebut lebih memprioritaskan untuk memasok sebagian besar kapasitas produksinya ke sektor enterprise.

Nah, peralihan inilah yang secara langsung mengurangi ketersediaan komponen bagi perangkat smartphone, PC, tablet, dan TV. Dampaknya, biaya produksi ponsel ikut meningkat dan berpotensi mendorong harga ponsel menjadi lebih mahal.

Harga memori melonjak
Lonjakan permintaan global terhadap komponen memori juga berdampak langsung pada harga jualnya. Dalam beberapa bulan terakhir, harga DRAM (jenis memori utama (RAM) yang digunakan komputer) dilaporkan naik signifikan.

Mengutip laporan outlet media Korea Selatan, Chosun Biz, kenaikan harga DRAM tercatat melonjak di kisaran 70 hingga 80 persen. Bahkan, pada beberapa kasus, kenaikannya disebut mencapai lebih dari 170 persen.

Meski komponen memori biasanya hanya menyumbang sekitar 10 sampai 15 persen dari total biaya produksi sebuah smartphone, lonjakan harga sebesar itu dinilai tetap memberikan tekanan besar pada anggaran produsen.

Harga chip flagship ikut naik
Tekanan biaya juga datang dari sisi chipset. Chip Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang diproyeksikan menjadi “otak” ponsel flagship tahun depan, dilaporkan mengalami kenaikan harga yang signifikan.

Chipset ini disebut naik sekitar 20 persen dibanding generasi sebelumnya. Harga per unitnya bahkan diperkirakan mencapai 190 dollar AS (sekitar Rp 3,1 juta). Kenaikan ini kemungkinan akan diimbangi dengan penyesuaian harga jual perangkat yang juga semakin mahal.

Tanda-tanda kenaikan harga akibat krisis komponen ini sebenarnya sudah mulai terlihat di pasar perangkat lain. Produsen PC menjadi salah satu pasar yang dilaporkan tengah mempertimbangkan penyesuaian harga sebesar 15 hingga 20 persen.

Produk seperti Raspberry Pi, juga diperkirakan mengalami penyesuaian harga akibat kelangkaan RAM. Beberapa perangkat digital, seperti konsol game dan TV juga diprediksi akan mengikuti pola serupa.

Spesifikasi ponsel mulai dipangkas
Sepanjang 2025, banyak vendor smartphone berusaha untuk menahan kenaikan harga dengan memangkas margin keuntungan dan melakukan penyesuaian internal. Namun, langkah-langkah tersebut dinilai tidak lagi cukup.

Karena itu, memasuki tahun 2026, sejumlah produsen ponsel diperkirakan akan mencoba menekan biaya dengan menurunkan spesifikasi di beberapa sektor, seperti kualitas layar, kapasitas baterai, atau fitur pengisian daya.

Padahal di sisi lain, adopsi teknologi AI langsung di perangkat (on-device AI) seperti model Google Gemini Nano, menuntut penggunaan kapasitas RAM dan penyimpanan yang lebih besar.

Jika spesifikasinya diturunkan, ada kemungkinan perangkat jadi tidak bisa berjalan optimal, sebagaimana yang diharapkan produsen.

Tidak hanya itu, kebijakan dukungan perangkat lunak (software) yang kini lebih panjang mencapai 7 tahun (pada beberapa merek), memaksa produsen menggunakan komponen yang lebih tahan lama dan berkualitas tinggi.

Analis menilai, harga rilis ponsel flagship di tahun 2026 kemungkinan masih akan dipertahankan di angka yang sama. Namun, konsumen berpotensi kehilangan berbagai insentif, seperti diskon besar, atau program tukar tambah (trade-in) yang semakin terbatas.

Sumber: kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Solusi Bangun Indonesia Dorong Inovasi Stabilisasi Tanah

10 March 2026 - 22:37 WIB

Printer 3D Bambu Lab Resmi Masuk Indonesia

7 March 2026 - 21:26 WIB

Vidi Aldiano Meninggal, Netizen Berduka Cita

7 March 2026 - 21:20 WIB

Senjata AI Ini Jadi Kunci Serangan AS ke Iran, Bisa Hantam 1000 Target

7 March 2026 - 21:16 WIB

AS-Iran Ribut Soal Nuklir, Bill Gates Malah Bangun Reaktor

7 March 2026 - 21:13 WIB

Trending on Kabar Lifestyle